Berita Fundamental Forex yang Paling Berpengaruh

Nilai tukar mata uang dapat dipengaruhi oleh berita fundamental ekonomi terbaru. Tapi, tak semua isu ekonomi akan diperhatikan oleh pemain pasar forex. Contohnya pidato presiden mungkin tak dihiraukan pasar, tetapi pengumuman suku bunga bank sentral malah berdampak besar.

Antara belasan hingga puluhan berita ekonomi penting akan diliput oleh media massa. Trader harus tahu berita apa saja yang paling berpengaruh pada analisis fundamental forex. Wawasan ini akan sangat bermanfaat untuk analisis fundamental jangka panjang maupun penerapan teknik news trading.

Ada tujuh jenis berita fundamental forex yang paling berpengaruh, yakni tingkat pengangguran (Unemployment Rate), produk domestik bruto (Gross Domestic Product/GDP), tingkat inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI), suku bunga (Interest Rate), Nonfarm Payroll (NFP), penjualan eceran (Retail Sales), dan Purchasing Managers’ Index (PMI). Berikut ini ulasan tentang masing-masing berita yang dapat menjadi modal dalam memahami dampaknya di pasar forex.

Berita Fundamental Forex yang Paling Berpengaruh

  1. Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate)

Tingkat pengangguran merupakan masalah krusial bagi negara mana pun. Apabila tingkat pengangguran meningkat, kesejahteraan masyarakat berkurang dan perekonomian pasti akan memburuk. Sebaliknya jika tingkat pengangguran menurun, kesejahteraan masyarakat meningkat dan pertumbuhan ekonomi terakselerasi.

Sebagian besar negara di dunia menyusun data statistik tingkat pengangguran secara berkala. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang akan mempublikasikan data ini setiap bulan. Data tingkat pengangguran yang lebih rendah dari ekspektasi pasar biasanya akan memicu penguatan mata uang terkait.

  1. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP)

Data GDP mengukur kesehatan perekonomian secara keseluruhan. Semakin tinggi laju pertumbuhan GDP, berarti perekonomian makin energik dan mata uang suatu negara akan semakin kuat. Sebaliknya, penurunan GDP dapat mendorong nilai tukar mata uang untuk melemah di pasar forex. Apalagi jika GDP menunjukkan bahwa sebuah negara tengah mengalami resesi.

Laporan GDP umumnya diumumkan dalam basis kuartalan. Data GDP kuartal pertama akan dipublikasikan pada bulan April, Mei, atau Juni. Data GDP kuartal kedua akan dipublikasikan pada bulan Juli, Agustus, atau September. Demikian seterusnya. Suatu perekonomian akan dinyatakan mengalami resesi ketika pertumbuhan GDP tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Berita ekonomi yang mempengaruhi pasar forex

  1. Tingkat Inflasi Konsumen (Consumer Price Index/CPI)

Tingkat inflasi konsumen mengukur laju pertumbuhan harga-harga barang dan jasa di suatu negara dibandingkan dengan basis tahun dasar tertentu. Orang awam boleh jadi membenci inflasi karena dianggap mengakibatkan penurunan daya beli uang. Faktanya inflasi yang berlebihan memang berbahaya, tetapi inflasi dalam tingkat moderat tetap dibutuhkan oleh perekonomian. Adanya inflasi akan memastikan perekonomian terus bertumbuh dari waktu ke waktu.

Kebanyakan bank sentral negara maju menargetkan tingkat inflasi antara 2 persen, sedangkan bank sentral negara berkembang seringkali menargetkan inflasi antara 3-4 persen. Apabila tingkat inflasi melebihi target, bank sentral akan menaikkan suku bunga dengan tujuan mengendalikan kenaikan harga-harga. Sebaliknya jika inflasi tak mencapai target, bank sentral akan mengurangi suku bunga demi mendorong kenaikan harga-harga.

Trader forex biasanya menyukai kabar kenaikan tingkat inflasi. Sebabnya karena inflasi lebih tinggi bakal mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Apabila suku bunga lebih tinggi, maka imbal hasil bunga bagi investor juga bakal meningkat. Banyak investor akan menyimpan uang mereka dalam mata uang terkait demi memperoleh bunga tinggi tersebut, sehingga nilai tukar mata uang bakal meningkat pula.

  1. Suku Bunga (Interest Rate)

Trader forex selalu memperhatikan perubahan suku bunga acuan yang ditentukan oleh bank sentral dalam kerangka kebijakan moneter. Selain suku bunga, instrumen kebijakan moneter lain seperti program pembelian/penjualan obligasi dan Quantitative Easing juga bakal disoroti karena berpotensi memengaruhi permintaan/penawaran uang.

Bank sentral mengadakan rapat berkala (biasanya sebulan sekali) untuk menentukan perubahan kebijakan moneter ke depan. Suku bunga tinggi dan penjualan obligasi akan mendorong kenaikan permintaan terhadap suatu mata uang, sehingga nilai tukarnya makin kuat. Sedangkan suku bunga rendah dan quantitative easing bakal menaikkan penawaran suatu mata uang, sehingga nilai tukar akan cenderung melemah.

Asumsinya, investor akan lebih menyukai mata uang dengan bunga lebih tinggi karena dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari simpanan jangka pendek maupun obligasi jangka panjang. Sebaliknya, mata uang dengan suku bunga lebih rendah akan makin kurang menarik bagi investor.

suku bunga menggerakan pasar forex

  1. Nonfarm Payroll (NFP)

Data NFP merupakan laporan ekonomi unik dari Amerika Serikat yang menunjukkan tambahan jumlah pekerjaan yang tercipta dalam perekonomian dalam satu bulan tertentu dibanding bulan sebelumnya. Sekitar 80 persen sektor ekonomi AS tercakup dalam laporan NFP, dengan pengecualian pekerja sektor pertanian, asisten rumah tangga, dan pegawai negeri (PNS).

US Bureau of Labor Statistics (BLS) biasanya mengumumkan data NFP pada hari Jumat pertama setiap bulan, bersama dengan data tingkat pengangguran dan pertumbuhan gaji. Data ini bakal berpengaruh sangat besar terhadap semua pair forex yang berkaitan dengan Dolar AS, khususnya EURUSD, GBPUSD, AUDUSD, USDJPY, dan USDCAD.

Apabila data NFP aktual lebih tinggi dibanding ekspektasi (forecast), maka nilai tukar Dolar AS bakal menguat. Sebaliknya, jika data NFP aktual lebih rendah dibanding ekspektasi, maka nilai tukar Dolar AS akan melemah dibanding mata uang lain.

  1. Penjualan Eceran (Retail Sales)

Laporan penjualan eceran dari negara-negara tertentu akan berperan penting terhadap outlook makroekonomi. Mengapa? Karena perekonomian yang berbasis konsumen (consumer-driven economies) digerakkan oleh belanja masyarakat. Semakin tinggi minat belanja masyarakat, maka industrinya akan berkembang semakin pesat, sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara umum. Karena alasan ini pula lah data penjualan eceran dapat menjadi indikasi awal untuk pertumbuhan GDP.

Data penjualan eceran biasanya diumumkan setiap bulan. Apabila data penjualan eceran suatu negara meningkat, maka nilai tukarnya akan cenderung menguat. Sedangkan jika penjualan eceran lesu, maka nilai tukarnya bakal melemah pula. Akan tetapi, ada kalanya pelaku pasar mengabaikan data ini sebagai konsekuensi dari tren musiman. Umpamanya penjualan eceran AS dan Inggris lazim meroket menjelang perayaan Natal, sehingga kenaikan pesat pun bisa jadi dianggap biasa saja.

  1. Purchasing Managers’ Index (PMI)

Data PMI dibuat berdasarkan hasil survei terhadap manajer-manajer purchasing dalam sektor tertentu di suatu negara. Data PMI yang paling berpengaruh terutama bersumber dari sektor manufaktur dan jasa. Periset akan menanyakan kepada responden tentang penilaian mereka terhadap prospek bisnis dalam enam bulan ke depan. Misalnya terkait apakah mereka ingin melakukan rekrutmen atau PHK, apakah pesanan baru mengalami kenaikan atau penurunan, dan sejenisnya.

Cara mengevaluasi data PMI adalah dengan mencermati apakah skor-nya berada di atas atau di bawah ambang 50. Data di bawah 50 menandakan sektor terkait sedang mengalami resesi, sedangkan data di atas 50 menandakan sektor bisnis itu terus berekspansi. Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi normal, skor PMI biasanya berada antara 50-60.

Trader forex biasanya memantau kalender forex untuk mengetahui data-data berdampak besar ini segera setelah diumumkan. Mulai dari tingkat pengangguran hingga data PMI akan langsung muncul dalam kalender forex setelah publikasi, karena sudah dijadwalkan sebelumnya. Tapi selain data-data ini, masih ada banyak berita fundamental forex yang muncul secara tak terduga. Misalnya tentang peperangan, hasil pemilu, atau konflik diplomatik antar negara. Oleh karena itu, ada baiknya pula mengikuti berita forex harian agar tidak ketinggalan kabar penting.

Leave a Comment

Copyright © 2020. All Rights Reserved. DailyFX.ID
Peringatan Resiko: Trading Forex adalah Bisnis berisiko tinggi, anda bisa kehilangan semua uang deposit. Jangan Pernah invest jika anda tidak siap untuk rugi. DailyFX.ID tidak akan menerima tanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan sebagai akibat dari ketergantungan pada informasi yang terkandung dalam situs web ini termasuk data, kutipan, grafik, link pihak ketiga dan sinyal beli / jual. Harap pelajari dan pahami sepenuhnya mengenai risiko tertinggi terkait dengan perdagangan pasar keuangan.