DailyFX.ID — Harga emas berupaya bangkit setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan di US$ 4.292,11 per troy ounce pada Jumat (11/9/2026). Meskipun belum berhasil kembali menembus US$ 4.400, para analis di Wall Street tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pergerakan logam mulia ini.
Sebaliknya, investor ritel atau kalangan Main Street justru dilaporkan mengurangi mayoritas pandangan bullish mereka menyusul penurunan harga emas sepanjang pekan lalu.
Marc Chandler, direktur pelaksana di Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas akan diperdagangkan lebih tinggi menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). “Harga emas di sekitar US$ 4.460 – US$4.510 per troy ounce bisa menjadi target teknikal yang masuk akal,” ujarnya, mengutip dari Kitco News, Sabtu (12/9/2026).
Sebanyak 14 analis mengikuti Survei Emas Kitco News. Hasilnya menunjukkan sentimen Wall Street kembali condong ke arah bullish, dengan sembilan pakar (64%) memprediksi harga emas akan menguat pekan depan. Hanya dua analis (14%) yang memprediksi penurunan, sementara tiga lainnya (21%) memperkirakan pergerakan harga akan cenderung mendatar (sideways) namun dengan volatilitas tinggi.
Chandler menekankan bahwa hasil pertemuan The Fed akan menjadi kunci pergerakan harga emas. “Kontrak berjangka Fed funds telah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar hampir 90%, tetapi para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg (4-9 September) tidak terlalu yakin akan hal itu. Hanya 13 dari 48 ekonom yang memperkirakan adanya kenaikan suku bunga,” jelasnya.
Menurut Chandler, kegagalan The Fed untuk menaikkan suku bunga dapat memicu reli harga emas. “Pergerakan harga di atas area US$ 4.540 akan memperbaiki prospek teknikalnya,” tambahnya.
Senada dengan itu, Darin Newsom, analis pasar senior di Barchart.com, juga optimis harga emas akan kembali naik. “Hingga Jumat pagi ini, kontrak berjangka emas bulan Desember berhasil mempertahankan level penutupan harian terendah sebelumnya di angka US$ 4.396,40 yang tercatat pada 1 September. Kondisi ini membuka peluang bagi Dec26 untuk membangun momentum bullish yang cukup kuat guna melampaui level penutupan harian tertinggi sebelumnya di angka US$ 4.539,90 dari tanggal 3 September,” papar Newsom.
Bob Haberkorn, pialang komoditas senior di StoneX Group, mengatakan kepada Kitco News bahwa harga emas diperkirakan tidak akan menurun lebih rendah, karena suku bunga The Fed diprediksi tidak akan naik secara signifikan. “Aksi jual kemarin berlangsung sangat dramatis dan sudah memperhitungkan angka CPI yang tinggi, sehingga respons pasar terhadap data tersebut justru cenderung terbatas,” ujarnya.
Haberkorn menambahkan, meskipun pasar saham menguat dan harga minyak turun, hal tersebut memberikan dukungan bagi harga emas. “Saat ini saya melihat adanya aksi pembelian di harga rendah (bargain hunting) untuk emas dan perak, namun skalanya masih kecil,” katanya.
Ia memproyeksikan, “Menurut saya, harga emas akan perlahan naik menuju target US$ 5.000 jika (The Fed) tidak menaikkan suku bunga.”
Ikuti DailyFX.ID
