— JAKARTA – Keberhasilan kapal MV Blanco Ace melakukan uji sandar di Pelabuhan Patimban menandai tonggak penting dalam pengembangan pelabuhan tersebut sebagai salah satu gerbang utama logistik dan rantai pasok Indonesia. Kapal jenis Pure Car Carrier (PCC) dengan panjang hampir 200 meter ini membongkar sekitar 1.101 unit truk setelah berlayar dari Hambantota, Sri Lanka.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai keberhasilan kapal berkapasitas besar tersebut sebagai bukti peningkatan kesiapan infrastruktur dan operasional Pelabuhan Patimban. Ia menyatakan, ini merupakan pengakuan internasional terhadap kapasitas Patimban dalam melayani kapal besar dan volume kargo yang terus meningkat secara aman, efisien, dan kompetitif.

Yukki menekankan pentingnya melihat perkembangan Patimban dalam konteks yang lebih luas. Sebagai negara kepulauan dan basis manufaktur ASEAN, Indonesia membutuhkan pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri, jaringan transportasi, serta sistem logistik nasional dan global. Posisi strategis Patimban yang dekat dengan pusat industri otomotif dan manufaktur Jawa Barat menjadikannya sangat relevan.

Peningkatan kapasitas terminal kendaraan di Patimban akan mendukung ekspor-impor kendaraan dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok otomotif global. Namun, Yukki menambahkan bahwa industri tidak hanya membutuhkan kapasitas besar, melainkan juga ekosistem yang memberikan kepastian waktu, efisiensi biaya, konektivitas, digitalisasi, serta akses yang baik dari kawasan industri menuju pelabuhan.

Perkembangan terminal kendaraan berjalan seiring dengan mulai berkembangnya layanan peti kemas internasional di Patimban. Hal ini menunjukkan transformasi Patimban dari pelabuhan otomotif menjadi gerbang logistik dan rantai pasok terintegrasi. Semakin banyaknya kapal dan layanan internasional yang masuk akan menciptakan skala ekonomi, meningkatkan konektivitas langsung dengan pasar global, serta memberikan lebih banyak pilihan bagi pelaku usaha logistik.

“Patimban harus kita bangun bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi kebutuhan Indonesia 10 sampai 20 tahun ke depan. Pelabuhan ini harus menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan menarik investasi baru ke Indonesia,” tegas Yukki.

Ia juga berpandangan bahwa pengembangan Patimban tidak perlu dilihat sebagai kompetisi dengan pelabuhan lain. Dalam sistem logistik nasional, setiap pelabuhan memiliki fungsi dan keunggulan masing-masing yang harus saling melengkapi. Ukuran keberhasilan Patimban, menurutnya, adalah kemampuannya menurunkan biaya logistik, meningkatkan keandalan rantai pasok, memperkuat ekspor, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing Indonesia.