— Operasi pencarian speedboat Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) memasuki hari kedua masa perpanjangan pada Rabu (16/9/2026). Tim SAR Gabungan mengerahkan sekitar 570 personel dan 22 alat utama sistem pertolongan (alut) untuk memperluas area penyisiran di perairan Selat Sunda hingga menjangkau wilayah Bengkulu.

Delapan orang berada di dalam speedboat tersebut, terdiri dari tiga awak kapal, yaitu Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu atau guide. Kelima jurnalis yang turut dalam rombongan adalah M. Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Jaidi dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Pada hari kesembilan pencarian, sebanyak 307 personel ditempatkan pada unsur laut, sementara 263 personel lainnya bertugas di posko dan unsur darat. Area pencarian dibagi menjadi delapan sektor dengan total luas sekitar 3.439 mil laut persegi. Pembagian sektor ini bertujuan untuk memperluas cakupan penyisiran sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Sektor A seluas 511 mil laut persegi disisir menggunakan KRI Dewa Kembar dan KP Sanjaya. Sektor B seluas 539 mil laut persegi melibatkan KN SAR Basudewa dari Kantor SAR Lampung. Sektor C dengan luas 585 mil laut persegi menggunakan KRI Leuser. Sektor D seluas 319 mil laut persegi melibatkan KN SAR Antasena dan KRI Lepu.

Selanjutnya, sektor E seluas 271 mil laut persegi melibatkan RIB 02 Lampung dan KAL Pahawang. Sektor F seluas 265 mil laut persegi disisir oleh sejumlah kapal Polairud, termasuk KP 2016, KP 2013, KP 1010, KP 1012, KP 1007, KP 1003, dan KP URC Erhan. Sektor G seluas 282 mil laut persegi dilakukan penyisiran menggunakan RIB 02 Banten, KAL Anyer, dan RBB Pulau Peucang.

Sektor H menjadi wilayah pencarian terluas dengan area 667 mil laut persegi, melibatkan KN SAR Tetuka, KRI Kerambit, KRI Teluk Gilimanuk, dan KN Damaru.

Tim SAR Terus Memperhatikan Kondisi Cuaca

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa kondisi cuaca dan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi faktor penting yang terus diperhitungkan dalam pelaksanaan operasi pencarian.

Menurut Al Amrad, kondisi cuaca di wilayah pencarian pada Rabu berawan dengan tinggi gelombang berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter. Gelombang bergerak ke arah timur laut, sementara angin berkecepatan 5 hingga 20 knot bertiup dari tenggara menuju selatan.

“Untuk aktivitas Gunung Anak Krakatau, berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari PVMBG, pengamatan visual tertutup kabut sehingga asap tidak dapat teramati. Untuk kegempaan, masih terjadi vulkanik dangkal dengan tremor secara terus-menerus,” ujar Al Amrad pada Rabu (16/9/2026).

Pengerahan Alat Pemantauan

Selain mengerahkan unsur laut, Tim SAR Gabungan juga menyiapkan dua unit drone thermal Basarnas untuk membantu pemantauan dari udara. Teknologi ini digunakan untuk mendukung pendeteksian kemungkinan keberadaan korban, bagian speedboat, maupun benda lain yang diduga berkaitan dengan hilangnya Arupadhatu 1.

Pencarian juga diperluas ke wilayah Bengkulu. Tim SAR Gabungan telah melakukan pemapelan kepada Kantor SAR Bengkulu untuk melakukan pencarian dan pemantauan di sekitar pesisir Pulau Enggano serta perairan Bengkulu.

Perluasan wilayah ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan korban atau benda dari Arupadhatu 1 terbawa arus laut dan bergeser jauh dari lokasi awal hilang kontak. Dengan memasuki hari kesembilan, pencarian Arupadhatu 1 tidak hanya berfokus pada perairan sekitar Selat Sunda, tetapi juga mencakup wilayah yang diperkirakan dapat menjadi jalur pergeseran benda atau korban akibat pengaruh arus dan kondisi laut.

Operasi pencarian masih berlangsung dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut, serta aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Hingga Rabu (16/9/2026), keberadaan delapan orang di speedboat Arupadhatu 1 masih belum diketahui.