— Artificial Intelligence (AI) kini telah melampaui fungsi dasar sebagai chatbot penjawab pertanyaan. Perkembangan AI agents mulai merambah ke berbagai lini aktivitas profesional, termasuk riset, analisis, administrasi, layanan pelanggan, hingga seluruh proses bisnis.

Feby M Faisal, Strategic Advisor, Managing Partner, serta M&A & Investment Strategist FIP Advisory Firm PT Ferali Investa Primatama, berpendapat bahwa evolusi AI ini akan secara fundamental mengubah cara perusahaan mendefinisikan pekerjaan dan mengelola struktur organisasinya.

“AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu. Dengan kemunculan AI agents, AI kini mampu mengambil alih sebagian tugas dan menjalankan proses tertentu secara lebih mandiri,” ujar Feby dalam keterangan pers, Rabu (23/9/2026).

Namun, ia menekankan bahwa peran manusia tidak akan serta-merta tergantikan. Sebaliknya, pekerjaan justru berpotensi bergeser ke ranah yang menuntut penilaian kritis, kreativitas, kemampuan negosiasi, interaksi antarmanusia, perumusan strategi, dan pengambilan keputusan.

“Manusia tetap krusial dalam proses kerja. Tanggung jawab manusia kini bergeser dari sekadar mengeksekusi tugas menjadi memastikan hasil akhir yang dicapai selaras dengan tujuan organisasi,” katanya.

Feby menyoroti bahwa tantangan utama bagi perusahaan bukan hanya soal adopsi AI, melainkan perubahan alur kerja pasca-implementasi. Banyak perusahaan yang masih terpaku pada metode kerja lama, sehingga potensi produktivitas yang ditawarkan AI belum termaksimalkan sepenuhnya.

“Banyak perusahaan telah mengadopsi AI, namun alur kerja mereka masih sama. Padahal, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah, jika sebagian pekerjaan bisa ditangani AI, apakah cara kerja organisasi kita masih relevan?” ungkap Feby.

Ia menambahkan, implementasi AI memiliki implikasi luas terhadap struktur organisasi, deskripsi pekerjaan, gaya kepemimpinan, Key Performance Indicator (KPI), hingga proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, transformasi AI sejatinya bukan sekadar proyek teknologi, melainkan perombakan model operasional perusahaan.

Menuju Hybrid Workforce

Perkembangan AI agents membuka jalan bagi terciptanya konsep hybrid workforce, sebuah sistem kerja yang mengintegrasikan peran manusia, AI, otomatisasi, dan agen digital.

“Ke depannya, kita akan menyaksikan sebuah sistem kerja yang menggabungkan elemen Manusia + AI + Otomatisasi + Agen Digital. Tantangannya adalah bagaimana memetakan secara tepat tugas mana yang ideal untuk manusia, mana yang bisa diemban AI, dan mana yang memerlukan kolaborasi keduanya,” jelas Feby.

Semakin besar kapabilitas AI dalam menjalankan tugas dan mengambil inisiatif, semakin krusial pula peran tata kelola (governance) dan pengawasan manusia.

“Semakin besar kemampuan AI untuk bertindak, semakin penting pula adanya tata kelola, pengawasan manusia, akuntabilitas, dan kepercayaan. Teknologi harus tetap beroperasi dalam sebuah sistem yang memiliki tanggung jawab yang jelas,” tegasnya.

Feby menilai penting bagi perusahaan untuk membedakan antara sekadar membeli teknologi AI dan melakukan transformasi organisasi yang sesungguhnya. “Perusahaan yang hanya membeli teknologi akan memiliki perangkat. Mereka yang mendesain ulang alur kerja akan meraih peningkatan produktivitas. Sementara itu, perusahaan yang mendesain ulang model operasionalnya akan mencapai transformasi sejati,” ujar Feby.

Oleh karena itu, pertanyaan apakah AI akan menggantikan manusia dianggap terlalu menyederhanakan isu. Fokus yang lebih relevan adalah bagaimana manusia dapat bekerja secara sinergis dengan kapabilitas yang ditingkatkan oleh AI. “Pertanyaan yang lebih esensial bukanlah apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apa yang dapat dicapai manusia ketika kemampuannya diperkuat oleh AI,” tutupnya.