— Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menegaskan belum ada laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet, China, yang terjadi pada Rabu (26/08/2026). Pemantauan terus dilakukan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dhaka dan Beijing, serta melibatkan komunitas WNI dan Konsul Kehormatan RI di Kathmandu.

“Berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” ujar Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, dalam sebuah pernyataan.

Saat ini, tercatat sekitar 45 WNI berada di Nepal, mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan. KBRI Dhaka secara khusus memberikan perhatian kepada WNI yang datang sebagai wisatawan, terutama yang melakukan kegiatan pendakian. Agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal telah diimbau untuk segera menyampaikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi para wisatawan tersebut.

Banjir dahsyat tersebut dilaporkan menyebabkan ratusan orang hilang di Nepal dan wilayah Tibet. Menurut data Badan Pariwisata Nepal, sebanyak 517 warga asing dari 33 negara termasuk di antara 570 wisatawan yang belum ditemukan di Nepal. Negara dengan jumlah warga hilang terbanyak adalah India dengan 178 orang, disusul Amerika Serikat (AS) dengan 65 orang, Ukraina 53 orang, Malaysia 51 orang, Australia 35 orang, Inggris 33 orang, dan Kanada 25 orang.

Malaysia sendiri mencatat angka berbeda, di mana Kementerian Luar Negeri Malaysia menyebutkan sedikitnya 55 warganya yang dilaporkan kepada Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu belum dapat dihubungi. Sembilan warga Korea Selatan yang bekerja di pembangkit listrik tenaga air juga dilaporkan hilang, sementara 10 lainnya terjebak. Selain itu, sembilan warga Singapura, masing-masing delapan warga Jerman dan Rusia, serta masing-masing enam warga Afrika Selatan dan Latvia belum ditemukan.

Lima warga Jepang dan sedikitnya lima wisatawan asal Selandia Baru juga dilaporkan hilang. Daftar ini juga mencakup warga dari negara lain seperti Belarus, Belgia, Bulgaria, Finlandia, Prancis, Hungaria, Irlandia, Israel, Italia, Kazakhstan, Lituania, Belanda, Filipina, Portugal, Spanyol, Serbia, Swiss, dan Swedia.

Sementara itu, stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan 260 warga asing hilang di Kabupaten Gyirong, Tibet, meskipun rincian kewarganegaraan mereka belum tersedia. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban masih terus diperbarui seiring berlangsungnya pencarian.

Informasi awal yang diterima Kemlu RI menyebutkan sedikitnya 90 orang meninggal di kedua sisi perbatasan Nepal dan China, sementara ratusan lainnya hilang. Laporan Reuters kemudian menyebutkan jumlah korban meninggal telah mencapai 165 orang, menunjukkan bahwa data lapangan masih terus berkembang dan menunggu verifikasi lebih lanjut dari pihak berwenang.

Banjir terjadi setelah material lumpur dan bebatuan dalam jumlah besar runtuh ke sungai di kawasan Himalaya, yang kemudian memicu aliran deras menerjang sejumlah kota dan lembah di perbatasan Nepal dan Tibet. KBRI Dhaka dan KBRI Beijing telah mengimbau WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, serta memantau informasi dari sumber resmi.

Dalam keadaan darurat, WNI di Nepal dapat menghubungi Hotline KBRI Dhaka di nomor +880 161-4444-552. WNI di China dapat menghubungi Hotline KBRI Beijing melalui +86 186-1045-5488, baik melalui WeChat, telepon, maupun SMS.