DailyFX.ID — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato tegas dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menepis keras tuduhan bahwa negaranya melakukan genosida di Jalur Gaza, menyebutnya sebagai “kebohongan terbesar abad ini”. Sikap ini disampaikan di tengah kecaman global dan aksi walkout puluhan delegasi diplomatik sesaat sebelum pidatonya dimulai.
Suasana di ruang Sidang Majelis Umum PBB menjadi tegang saat nama Netanyahu diumumkan. Sorakan pendukungnya bercampur dengan cemoohan dan langkah kaki ratusan diplomat yang meninggalkan ruangan, membuat sebagian besar kursi mendadak kosong. Menanggapi fenomena tersebut, Netanyahu menyebut para diplomat yang keluar sebagai “pengecut secara moral” (moral cowards).
“Dalam membela dirinya sendiri, Israel sebenarnya juga sedang melindungi banyak negara yang delegasinya baru saja meninggalkan ruangan ini. Bahkan, banyak dari pemimpin mereka yang secara pribadi berterima kasih kepada kami karena telah menyingkirkan kapabilitas nuklir Iran,” ujar Netanyahu dengan nada tinggi. Ia bahkan menantang diplomat lain yang masih tersisa, “Jika masih ada penakut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan keluar sekarang juga.”
Pembelaan Agresi ke Iran dan Penggunaan Alat Peraga
Di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, Netanyahu menegaskan bahwa keputusan menyerang Iran adalah salah satu yang termudah diambilnya. Ia mengapresiasi tindakan tegas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Teheran dan memprediksi runtuhnya pemerintahan teokrasi Iran. Dalam sidang PBB kali ini, Netanyahu kembali menggunakan alat peraga fisik. Ia mengangkat sebuah pager (penyeranta) untuk mengingatkan audiens pada operasi ledakan ribuan pager milik kelompok Hizbullah di Lebanon pada 17 September 2024, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 3.000 orang.
Untuk membenarkan serangan serentak di Gaza, Netanyahu membandingkan skala serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dengan proporsi populasi Amerika Serikat. “Serangan itu setara dengan 40.000 warga AS yang dibantai secara tidak berdosa dalam waktu kurang dari 24 jam,” ujarnya, menyebut skalanya 16 kali lipat lebih dahsyat dibanding tragedi 11 September.
Menepis Kekerasan Pemukim Israel dan Menyerang Wali Kota New York
Terkait laporan aksi kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, Netanyahu berupaya memperkecil skala kejadian tersebut. Ia mengklaim aksi itu hanya dilakukan oleh “segelintir remaja nakal” yang melempar batu dan membakar lahan. Netanyahu menuduh media internasional memutarbalikkan fakta, meskipun data Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat lebih dari 1.600 serangan pemukim sepanjang tahun ini.
Pidato ini juga kental dengan muatan politik domestik jelang pemilu Israel. Netanyahu memanfaatkan mimbar PBB untuk menyerang Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang sebelumnya mengkritik keras tindakan militer Israel dan menyebut Netanyahu “penjahat perang”. Netanyahu menuduh Mamdani menyebarkan kebohongan dan membuat warga Yahudi di New York merasa tidak aman.
Pidato Presiden Palestina Mahmoud Abbas secara Virtual
Sebelum pidato Netanyahu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyampaikan orasinya melalui rekaman video dari Ramallah. Pemerintah AS menolak memberikan visa masuk untuknya selama dua tahun berturut-turut. Abbas mempertanyakan sikap diam dunia internasional serta bantuan pasokan senjata yang terus mengalir ke Israel. “Berapa lama lagi sejumlah negara akan terus berdiam diri terhadap Israel, atau terus memasoknya dengan senjata yang digunakan untuk melawan rakyat kami? Apa lagi yang ditunggu oleh komunitas internasional sebelum bertindak melindungi rakyat Palestina?” tegas Abbas.
Konflik bersenjata terkini bermula dari serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Israel merespons dengan operasi militer berskala penuh di Jalur Gaza. Operasi militer tersebut telah menewaskan sedikitnya 73.922 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui PBB.
Meskipun gencatan senjata sempat disepakati untuk membebaskan sisa sandera dan menghentikan pertempuran skala besar, proses perdamaian dan rekonstruksi wilayah masih mengalami kebuntuan politik. Di tingkat internasional, isolasi diplomatik terhadap Israel menguat. ICC telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Gugatan kasus tuduhan genosida oleh Afrika Selatan terhadap Israel juga masih berproses di Mahkamah Internasional (ICJ). Penolakan tegas Netanyahu terhadap pembentukan Negara Palestina semakin mempertegas jurang pemisah antara pemerintahannya dan komunitas internasional.
Ikuti DailyFX.ID
