— Tingginya aktivitas perjalanan masyarakat Indonesia telah membuka peluang usaha yang signifikan di sektor mobilitas, khususnya bisnis rental kendaraan. Bagi generasi muda, bepergian kini lebih mengutamakan fleksibilitas dan pengalaman, sehingga permintaan terhadap kendaraan sewaan tanpa harus memiliki kendaraan pribadi semakin meningkat. Kebutuhan ini mencakup berbagai keperluan seperti liburan, perjalanan singkat, hingga menjelajahi kota.

Pasar bagi pelaku usaha penyewaan mobil dan sepeda motor pun semakin terbuka, terutama di kawasan tujuan wisata dan daerah dengan mobilitas masyarakat yang padat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Juli 2026 mencapai 107,44 juta, naik 7,23% secara tahunan (year on year/yoy). Secara kumulatif, periode Januari-Juli 2026 mencatat 737,85 juta perjalanan, meningkat 3,34% secara cumulative to cumulative (ctc).

Pertumbuhan pariwisata ini didukung oleh mobilitas wisatawan nusantara, konektivitas yang membaik, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan nasional dan internasional. Dari sisi investasi, sektor pariwisata mencatat realisasi Rp 39,68 triliun pada semester I-2026, naik 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 12,19 triliun (tumbuh 37%) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 27,48 triliun (tumbuh 9,39%).

Tingkat okupansi hotel pada semester I-2026 mencapai 48,20%, naik 2,48 poin persentase dibandingkan tahun lalu, menunjukkan potensi utilitas yang lebih optimal. Ekonomi Indonesia sendiri tumbuh 5,29% pada triwulan II-2026, dengan sektor akomodasi dan makan minum (tumbuh 10,60%), transportasi dan pergudangan (5,65%), jasa perusahaan (5,08%), serta jasa lainnya (6,36%) memberikan kontribusi signifikan.

Angka-angka ini mengindikasikan perkembangan positif di sektor pariwisata domestik. Kebutuhan transportasi menjadi salah satu hal penting bagi wisatawan yang bepergian ke luar daerah. Kendaraan sewaan menjadi alternatif praktis bagi mereka yang tidak membawa kendaraan pribadi.

Bagi generasi muda yang tertarik berbisnis, rental kendaraan dapat dikembangkan dengan pendekatan digital. Promosi dapat dilakukan melalui media sosial untuk menampilkan unit, harga sewa, promo, hingga testimoni pelanggan. Konten menarik seperti rekomendasi kendaraan untuk liburan singkat atau paket akhir pekan, serta sistem pemesanan yang mudah melalui pesan instan, dapat menarik konsumen muda.

Modal dan Pengelolaan Tetap Jadi Tantangan

Meskipun terlihat menjanjikan, bisnis rental memerlukan modal dan pengelolaan yang serius. Pemilik usaha harus memperhitungkan biaya operasional seperti kendaraan, servis, pajak, asuransi, penyusutan, dan risiko kerusakan. Verifikasi identitas penyewa dan penetapan aturan penggunaan kendaraan juga krusial untuk menjaga keamanan bisnis.

Pariwisata yang Belum Merata Menjadi Peluang Baru

Alokasi investasi di sektor pariwisata belum merata, meskipun nilainya terus mencetak rekor. Pada 2025, realisasi investasi mencapai Rp73,56 triliun, dengan 76,5% terkonsentrasi di Jakarta dan Bali, mayoritas berupa hotel dan restoran. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa kondisi ini membuka ruang luas untuk perluasan investasi pariwisata di berbagai wilayah dan ragam usaha.

Pemerintah aktif mengundang investor asing dan mitra internasional untuk mengarahkan investasi ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Investasi juga diarahkan pada sektor pendukung aksesibilitas seperti marina kapal pesiar dan pengembangan daya tarik wisata baru, guna membentuk ekosistem pariwisata yang kuat dan membuka peluang ekonomi daerah.

“Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht,” ujar Menpar Widi. Pergeseran pola perjalanan wisatawan yang tidak lagi hanya terpusat di Jawa dan Bali turut membuka peluang pemerataan investasi. Destinasi seperti Danau Toba (tumbuh lebih dari 106%), Lombok–Gili Tramena (72,1%), dan Labuan Bajo menunjukkan pertumbuhan kunjungan yang kuat.

Perkembangan ini ditopang oleh kinerja ekonomi pariwisata nasional yang terus positif. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) pariwisata meningkat dari Rp 729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp 1,14 kuadriliun pada 2025, dan ditargetkan mencapai Rp 1,19 kuadriliun pada akhir 2026.