— JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan keuntungan konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 360 triliun pada tahun 2026. Target ambisius ini diharapkan dapat tercapai melalui serangkaian upaya konsolidasi dan transformasi bisnis BUMN, termasuk program streamlining untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyatakan bahwa BUMN memiliki potensi kontribusi besar terhadap keuntungan negara, meskipun masih ada persepsi di masyarakat bahwa perusahaan pelat merah tidak selalu menghasilkan laba yang signifikan. “Setelah konsolidasi, bisnisnya akan kita perbaiki. Sehingga kita berharap tahun ini bisa membukukan keuntungan Rp 360 triliun,” ungkap Dony dalam acara Investor Daily Policy and Economic Dialogue di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dony menjelaskan bahwa target keuntungan tersebut dirancang untuk memperkuat dan menyehatkan kinerja BUMN di masa mendatang. Proses transformasi dan konsolidasi dianggap sebagai elemen krusial dalam menciptakan BUMN yang lebih efisien, kompetitif, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara.

Dony, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), menambahkan bahwa transformasi perusahaan-perusahaan pelat merah di bawah koordinasinya terus berlanjut melalui program streamlining, yang meliputi pengurangan dan penataan jumlah perusahaan. Sebanyak 290 perusahaan telah melalui proses ini, dan sekitar 300 perusahaan lainnya ditargetkan selesai hingga akhir 2026.

Ia merinci bahwa penataan tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan pengurangan biaya. Kinerja bisnis BUMN diharapkan meningkat, menjadikannya salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Perusahaan-perusahaan yang ditutup sebelumnya mencatat kerugian gabungan sekitar Rp 20 triliun per tahun, sehingga penutupannya dinilai mampu menghemat biaya sebesar nilai tersebut.

Selain itu, banyak perusahaan yang ditutup memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan induk, yang menimbulkan inefisiensi aktivitas diperkirakan mencapai Rp 30 triliun. Dengan demikian, total efisiensi dari kedua sumber tersebut diestimasi mencapai sekitar Rp 50 triliun. Penghematan juga berasal dari biaya gaji, honorarium dewan komisaris dan direksi, serta berbagai tunjangan, yang diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Secara keseluruhan, efisiensi dari program streamlining BUMN ditargetkan melampaui Rp 70 triliun hingga akhir 2026.

“Jadi kurang lebih nanti sampai akhir tahun itu akan menghemat Rp 70 triliun dari hasil streamlining, ini yang kita harapkan. Jadi dinamikanya nanti laba BUMN-nya juga terlihat,” pungkas Dony.