DailyFX.ID — Pemerintah Desa Sukamantri di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus berupaya mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor pariwisata. Inisiatif ini mendapat dukungan signifikan melalui program “Desa BRIlian” yang digagas oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Desa Sukamantri berhasil menembus lima besar dalam program Desa BRIlian Batch 3 tahun 2024. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Hendi Haerudin, desa ini memiliki target ambisius untuk menjadi percontohan di tingkat provinsi. Sekretaris Desa, Fuja Aditya, menyoroti perubahan pola pikir masyarakat dalam berbisnis.
“Perubahannya terasa dari pola pikir masyarakat dalam berusaha. Berkat pelatihan yang diberikan program Desa BRIlian, sekarang pelaku UMKM mulai lebih memahami pentingnya branding, pemasaran digital, dan ekspansi. Bahkan tahun ini, Sukamantri sudah berstatus Desa Mandiri,” ujar Fuja.
Sukamantri dikenal sebagai sentra tanaman hias terkemuka di Kabupaten Bogor, dengan banyak produknya diekspor ke pasar internasional dan memenuhi kebutuhan domestik. Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, sektor ini mencatat lonjakan permintaan yang signifikan, dengan nilai penjualan melampaui US$6 juta dalam setahun.
Uci Apandi, Ketua Paguyuban Petani Tanaman Hias Desa Sukamantri, menjelaskan bahwa paguyubannya menaungi sekitar 170 anggota dari lima kelompok tani yang mengelola lahan seluas 6–8 hektare. Meskipun menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan harga bahan baku, dan melemahnya daya beli, sentra tanaman hias ini tetap bertahan sebagai pusat perdagangan penting.
“Dulu plastik polibag Rp25 ribu per kilogram, sekarang sudah sekitar Rp32 ribu. Tapi harga jual tanaman tidak bisa ikut naik. Naik Rp500 saja pembeli sudah mundur,” ungkap Uci, menggambarkan tantangan kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual.
Untuk beradaptasi, petani tanaman hias memperluas pemasaran melalui platform digital dan media sosial. Eka Yusniawati, seorang konsumen, mengaku rutin membeli tanaman di Sukamantri karena pilihan yang lengkap dan harga terjangkau. Ia menyarankan pelaku usaha untuk fokus bertahan di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Muda Sejahtera berperan sebagai fasilitator dan off-taker, membantu UMKM dalam mencari pasar, mempertemukan kebutuhan suplai, serta memfasilitasi pelatihan. BUMDes juga mengelola usaha lain seperti industri tahu dan peternakan ayam petelur.
Peternakan ayam petelur yang dikelola BUMDes kini memproduksi sekitar 750 butir telur per hari. Usaha ini menggunakan ayam jenis Lohmann yang dikenal produktif. “Banyak yang mengira gampang karena cuma kasih makan, padahal cukup rumit. Kesehatan ayam, kualitas pakan, sampai kebersihan kandang sangat berpengaruh terhadap hasil produksi,” ujar Billy, salah satu pekerja.
Telur yang dihasilkan dipasarkan ke agen, masyarakat, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagian besar hasil penjualan kembali diputar untuk operasional usaha, dengan harapan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi desa.
Desa Sukamantri, yang didirikan pada 1978, kini juga tengah menyiapkan pengembangan wisata terpadu. Desa ini memiliki potensi alam yang luas di kaki Gunung Salak dan menjadi penghubung vital bagi tujuh desa lainnya.
Salah satu program yang digarap adalah kendaraan antar-jemput wisata yang akan menghubungkan berbagai titik, termasuk Kabut Pinus, sentra tanaman hias, industri tahu, area glamping, hingga wisata alam Gunung Salak. “Kami ingin wisatawan yang datang tidak hanya menikmati alam, tetapi juga singgah ke sentra tanaman hias, belanja produk warga, hingga melihat langsung aktivitas UMKM desa,” jelas Fuja.
Pemdes terus memperbaiki akses jalan menuju kawasan wisata dan berencana mengembangkan sport tourism melalui kegiatan “Sukamantri Fun Trail Run” yang pertama kali digelar pada 2025.
Ikuti DailyFX.ID
