— Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif. Pengajuan ini disampaikan melalui Surat Presiden yang diserahkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada Senin, 10 Agustus 2026. Pencalonan Destry diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pasar keuangan, meredakan ketidakpastian pasca-pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo, serta menjamin keberlanjutan bauran kebijakan moneter tanpa risiko yang tidak perlu.

Publik dan pasar memang menantikan sosok pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Sejumlah pengamat bahkan sempat mengungkapkan kekhawatiran mengenai calon yang akan diajukan pemerintah, terutama jika berasal dari kelompok kepentingan politik. Oleh karena itu, pengusulan Destry disambut baik oleh banyak pihak dan dinilai sebagai langkah strategis Presiden Prabowo yang telah mempertimbangkan berbagai aspek dan risiko.

Di tengah kondisi ketidakpastian global yang masih membayangi, mulai dari volatilitas nilai tukar hingga pergerakan suku bunga acuan dunia, kecepatan dan ketepatan langkah pemerintah dalam mencari pengganti Perry menjadi krusial. Pengajuan Destry sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia bukan sekadar manuver administratif, melainkan sebuah pernyataan sikap kebijakan bahwa stabilitas, kredibilitas, dan keberlanjutan adalah prioritas utama bangsa di atas kompromi politik praktis.

Menepis Ketidakpastian Pasar

Proses suksesi dan transisi kepemimpinan di Bank Indonesia selalu menjadi sorotan ketat oleh pasar keuangan global maupun domestik. Berbeda dengan bank-bank BUMN, sosok nahkoda bank sentral selalu diteliti dengan sungguh-sungguh. Pengunduran diri Perry Warjiyo pada akhir Juli 2026 sempat menimbulkan dinamika dan pertanyaan mengenai arah kesinambungan kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global. Pasar bertanya-tanya apakah pengganti Perry akan mendapatkan respons positif dari pasar.

Pasar keuangan, di negara mana pun, tidak menyukai kekosongan dan kejutan. Pasar juga mengharapkan pimpinan bank sentral yang bijak dan tidak reaktif. Gubernur Bank Indonesia diharapkan merupakan figur yang kalem, cerdas, dan menguasai persoalan moneter dengan baik. Ketika terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral, salah satu risiko yang dihadapi adalah kegagapan transmisi kebijakan akibat perbedaan visi atau pergeseran paradigma makroekonomi. Penunjukan Destry sebagai calon tunggal dinilai mampu mengeliminasi risiko transisi tersebut.

Destry Damayanti bukanlah sosok baru di lingkungan moneter Indonesia. Ia memiliki rekam jejak yang panjang dan teruji, membentang dari ranah akademis, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Bank Mandiri, anggota Dewan Komisioner LPS, hingga dua periode menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Pengalamannya yang lebih dari tiga dekade di sektor keuangan menjadi alasan mengapa pasar merespons positif pencalonan ini. Dampak langsungnya terlihat di lantai bursa dan pasar uang, di mana rupiah merespons dengan penguatan yang cukup signifikan seiring meredanya kekhawatiran pelaku usaha terhadap arah kebijakan moneter jangka pendek.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (10/08/2026) sekitar pukul 14.59 WIB, rupiah menguat di level 17.755 per dolar AS, naik 142 poin atau 0,79% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kehadiran Destry sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia sejak 27 Juli 2026, dan kini diusulkan sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia secara definitif, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Langkah pemerintah mencalonkan Destry sebagai pengganti Perry merupakan upaya meredam spekulasi pasar. Destry mendapatkan kepercayaan pasar bukan tanpa alasan. Ia adalah figur yang tidak asing di kancah perekonomian nasional. Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry memiliki portofolio karier yang kaya dan sesuai dengan kebutuhan jabatan Gubernur Indonesia.

Pengalaman menduduki berbagai jabatan lintas sektor memberinya pemahaman mendalam tidak hanya pada teori moneter makro, tetapi juga terhadap denyut nadi sektor riil dan industri perbankan komersial. Kombinasi pengalaman birokrasi, akademis, dan korporasi menjadikan Destry figur yang matang dalam menghadapi tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah maupun stabilitas sistem pembayaran. Rekam jejaknya yang kaya dan berkaitan dengan urusan kebanksentralan membuatnya tampak dipersiapkan untuk menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Tantangan ke Depan

Meskipun memiliki rekam jejak yang mumpuni, menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesar yang akan dihadapi Destry jika nanti disetujui DPR RI adalah menjaga independensi institusi bank sentral di tengah ekspektasi tinggi pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Koordinasi antara kebijakan moneter yang pruden dan kebijakan fiskal yang ekspansif akan menjadi kunci penyeimbang.

Posisi Bank Indonesia berbeda dengan bank sentral di banyak negara lain. Di Indonesia, bank sentral tidak hanya bertugas menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pemerintah memiliki target pertumbuhan ekonomi yang agresif, mencakup ambisi besar mengerek pertumbuhan hingga level 8%. Angka ini tentu membutuhkan kerja sama yang solid antara kebijakan fiskal pemerintah dan pelonggaran likuiditas moneter.

Di sinilah letak ujian dan tantangan sesungguhnya bagi Destry. Sebagai gubernur pilihan pemerintah, ia harus mampu menunjukkan kepada pasar domestik dan internasional bahwa koordinasi erat dengan pemerintah tidak mengorbankan mandat utama BI, yaitu menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah. Kredibilitas Destry akan diukur dari ketegasannya menempatkan kepentingan stabilitas makroekonomi di atas segala bentuk tekanan eksogen.

Belajar dari pengalaman Perry, kredibilitas Destry ke depan akan diuji dari cara ia berhubungan dengan pemerintah. Jika sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru ia hanya tunduk mengikuti keinginan pemerintah, maka harapan pasar akan berubah. Bersikap independen bukanlah berarti selalu berseberangan dengan pemerintah, melainkan keberanian mengambil keputusan berdasarkan data ekonomi yang objektif. Jika inflasi merangkak naik atau tekanan global mendesak, bank sentral harus tetap independen untuk mengerem moneter, meskipun hal tersebut mungkin tidak sejalan dengan syahwat pertumbuhan jangka pendek. Keberanian Destry mengambil posisi seperti ini akan dibuktikan oleh waktu.