DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan pada sesi pertama perdagangan Rabu (12/8/2026). Kenaikan indeks ini ditopang oleh beberapa faktor utama, termasuk prospek kepemimpinan baru di Bank Indonesia (BI), hasil tinjauan dari MSCI, serta data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi perhatian pasar.
Pada sesi I, IHSG tercatat naik 62,48 poin atau 1% menuju level 6.330. Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG hari ini tidak terlepas dari perhatian pasar terhadap calon tunggal Gubernur BI. “Komisi XI DPR RI akan melakukan fit and proper test terhadap calon tunggal Gubernur BI, Destry Damayanti,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (12/8/2026).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menominasikan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI. Penunjukan ini dipandang dapat menjaga kesinambungan kebijakan moneter mengingat rekam jejak dan pengalaman Destry di bidang moneter yang mumpuni.
Selain itu, Pilarmas menambahkan, pasar domestik juga masih menantikan hasil rebalancing MSCI. Pelaku pasar berharap reformasi pasar modal yang telah dilakukan oleh regulator dapat mendorong MSCI untuk mencabut pembekuan saham Indonesia dalam tinjauan Agustus 2026. “Petinggi BEI juga berharap MSCI dapat melakukan penilaian secara objektif terhadap tingkat transparansi pasar modal Indonesia, terutama setelah berbagai reformasi dilakukan,” tambah Pilarmas.
Sementara itu, Pilarmas melanjutkan, pelaku pasar juga terus mencermati dinamika sentimen global. Perhatian utama tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Dari sisi geopolitik, Pilarmas mengemukakan bahwa harapan terhadap tercapainya kesepakatan AS-Iran sempat menguat setelah Menteri Pertahanan Pakistan menyatakan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan. Namun, ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih tetap tinggi setelah Iran menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Penutupan Selat Hormuz yang berkelanjutan telah mendorong harga minyak mentah AS berada di atas US$ 83 per barel. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar. “Pelaku pasar juga berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS terbaru yang kemungkinan akan memengaruhi langkah kebijakan The Fed selanjutnya,” papar Pilarmas.
Pasar saat ini tengah mencermati peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, setelah sebelumnya mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli. Kenaikan harga minyak juga turut memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi.
Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, turut menyatakan bahwa bank sentral lebih mengkhawatirkan inflasi yang masih terlalu tinggi dibandingkan dengan potensi pelemahan pasar tenaga kerja.
Pada sesi pertama perdagangan Rabu, saham-saham yang mengalami kenaikan terbesar antara lain DART, STAR, ISAT, CSAP, dan MDIA. Sementara itu, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar adalah BAIK, AGAR, IKBI, RGAS, dan MAPB.
Untuk perdagangan berikutnya, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan buy saham BRPT dengan level support 1.830 dan resistance 1.950.
Ikuti DailyFX.ID
