DailyFX.ID — Perubahan kepemilikan di PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyusul masuknya Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama memicu euforia pasar. Namun, prospek produksi dan laba perusahaan pada 2026–2027 sangat bergantung pada revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang masih menjadi faktor kunci.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pasar saat ini memperdagangkan dua narasi yang berlawanan. Di satu sisi, perubahan kepemilikan membuka ekspektasi potensi sinergi bisnis dan re-rating. Di sisi lain, risiko fundamental akibat belum tuntasnya RKAB masih membayangi.
Saham BYAN sempat melonjak ke batas auto reject atas (ARA) 19,96% menjadi Rp 13.825 pada 18 September 2026. Lonjakan ini terjadi setelah Jhonlin Baratama sepakat mengambil sekitar 30% saham dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low melalui Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA). Transaksi ini ditandatangani pada 16 September 2026, namun harga transaksi belum diumumkan.
Menurut Liza, kenaikan harga saham BYAN lebih mencerminkan euforia aksi korporasi dibandingkan perbaikan proyeksi laba. Pasar masih menantikan tiga pemicu utama, yaitu persetujuan RKAB, keterbukaan harga transaksi 30% saham, dan kejelasan struktur pengendali setelah transaksi selesai.
Tiga anak usaha Bayan Resources, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, belum memperoleh persetujuan revisi RKAB 2026. Kondisi ini membuat kepastian volume produksi belum terjaga dan mendorong perseroan menyatakan force majeure atas sebagian kewajiban pasokan.
Dampak dari ketidakpastian RKAB ini terlihat dari Moody’s yang menurunkan outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, meskipun mempertahankan peringkat Ba1. Moody’s memperkirakan produksi 2026 hanya sekitar 39 juta ton, turun dari sekitar 68 juta ton pada 2025, jika revisi kuota tidak disetujui.
Penurunan produksi ini diperkirakan akan berdampak pada laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA). EBITDA diproyeksikan turun dari sekitar US$ 1,1 miliar menjadi US$ 700 juta pada 2026. Angka ini bisa kembali turun menjadi US$ 400–500 juta pada 2027 apabila produksi tetap di kisaran 39 juta ton.
Di sisi lain, fundamental BYAN sebelum masalah RKAB masih menunjukkan kekuatan. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan naik 7,3% menjadi US$ 1,74 miliar dan laba bersih tumbuh 17,5% menjadi US$ 410 juta. Moody’s juga memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA tetap di bawah 0,5 kali.
Liza menilai, persetujuan revisi RKAB akan menjadi katalis penting karena berpotensi mengurangi risiko terbesar terhadap produksi dan laba 2026–2027. Namun, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa masuknya Jhonlin Baratama berkaitan dengan proses evaluasi RKAB oleh pemerintah.
Ikuti DailyFX.ID
