DailyFX.ID — JAKARTA – Indonesia tengah menjajaki potensi kerja sama pengembangan dan lokalisasi berbagai teknologi mutakhir dari Rusia. Inisiatif ini mencakup teknologi drone untuk keperluan sipil, robotika bawah air, sistem komunikasi mandiri untuk situasi darurat, hingga teknologi pengolahan limbah.
Penjajakan ini merupakan hasil dari pertemuan bilateral antara Kementerian Perindustrian dengan Senator Federasi Rusia, Ilyas Umakhanov, di Jakarta. Langkah ini diharapkan dapat memperluas hubungan industri kedua negara, melampaui sekadar perdagangan menjadi investasi, alih teknologi, dan kemitraan industri yang lebih mendalam.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis yang krusial dalam upaya membangun sektor industri yang lebih maju dan berdaya saing. “Kami ingin hubungan kedua negara tidak berhenti pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi kerja sama investasi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas industri yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” ujar Agus dalam keterangan resminya.
Dalam pertemuan tersebut, fokus kerja sama diarahkan pada pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas industri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik Indonesia. Beberapa bidang yang menjadi perhatian bersama meliputi peralatan telekomunikasi, agrokimia, otomatisasi industri, pengolahan limbah, serta teknologi lain yang berpotensi dikembangkan melalui kemitraan antara pelaku industri kedua negara.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Perwakilan Perdagangan Rusia, serta perwakilan dari pelaku industri Rusia.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian RI, Tri Supondy, menekankan pentingnya mengarahkan peluang kerja sama ini pada kemitraan yang memberikan nilai tambah signifikan bagi industri dalam negeri. “Kerja sama Indonesia dan Rusia perlu diarahkan pada hal-hal yang menghasilkan manfaat nyata bagi industri, baik melalui investasi, alih teknologi, maupun kemitraan yang menghubungkan perusahaan kedua negara,” jelas Tri.
Ia menambahkan bahwa hubungan baik yang telah terjalin antara Indonesia dan Rusia perlu diterjemahkan menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret, salah satunya melalui penjajakan teknologi yang dapat dikembangkan dan dilokalkan sesuai dengan kebutuhan industri nasional.
Senator Ilyas Umakhanov menyampaikan bahwa Rusia memiliki sejumlah teknologi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama Indonesia. Teknologi-teknologi ini dianggap dapat disesuaikan dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan serta kebutuhan industri nasional.
“Kami melihat banyak peluang untuk mengembangkan kerja sama teknologi dengan Indonesia. Rusia memiliki teknologi drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air yang sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, sistem komunikasi mandiri untuk kondisi darurat, serta teknologi pengolahan limbah yang dapat menghasilkan sumber daya yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan,” papar Senator Ilyas Umakhanov. Ia berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama dan lokalisasi bersama di Indonesia.
Menurut Ilyas, kerja sama ini sangat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan Indonesia, termasuk melalui pengembangan teknologi di dalam negeri. Tawaran ini selanjutnya akan menjadi bahan penjajakan kerja sama lanjutan untuk menganalisis kesesuaian teknologi dengan kebutuhan industri nasional dan potensi pengembangannya di Indonesia.
Pendekatan ini sejalan dengan upaya penguatan struktur industri nasional. Kerja sama internasional tidak hanya berfokus pada masuknya produk atau teknologi baru, tetapi juga pada peningkatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Penguatan hubungan industri Indonesia-Rusia sebelumnya telah terwujud melalui partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia. Kehadiran Indonesia dalam ajang industri terbesar Rusia tersebut membuka ruang interaksi yang lebih luas antara perusahaan kedua negara melalui forum bisnis, business matching, dan pertemuan antarpelaku usaha.
Berbagai potensi kerja sama yang teridentifikasi selama rangkaian kegiatan tersebut, baik dalam skema Business-to-Business (B2B) maupun Government-to-Government (G2G), menjadi bagian dari agenda tindak lanjut hubungan industri kedua negara. Menteri Perindustrian telah melaporkan hasil pelaksanaan INNOPROM 2026 kepada Presiden Republik Indonesia, termasuk berbagai peluang kerja sama yang masih dapat dikembangkan.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan industri Indonesia-Rusia telah memiliki landasan interaksi yang semakin luas, mulai dari promosi dan penjajakan bisnis hingga pembahasan teknologi dan peluang investasi. Dengan kesinambungan komunikasi antara pemerintah, parlemen, perwakilan perdagangan, dan pelaku industri, kerja sama Indonesia-Rusia berpeluang berkembang dari sekadar pertukaran gagasan menjadi kemitraan yang menghasilkan nilai tambah konkret.
Pengembangan dan lokalisasi teknologi Rusia di Indonesia diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan industri nasional, tetapi juga membuka peluang investasi dan kemitraan baru. Di sisi lain, perusahaan Indonesia berkesempatan memperluas akses ke pasar Rusia dan kawasan Eurasia.
Ikuti DailyFX.ID
