DailyFX.ID — PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menetapkan target ambisius untuk bertransformasi dari perusahaan telekomunikasi menjadi pemain utama dalam infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pergeseran strategi ini didorong oleh permintaan tinggi terhadap infrastruktur AI dan potensi pertumbuhan yang terbatas di bisnis telekomunikasi konvensional. Indosat tidak hanya memperkuat bisnis seluler sebagai basis organik, tetapi juga agresif berekspansi ke sektor infrastruktur AI.
Untuk mendukung transformasi ini, Indosat merevisi alokasi belanja modal (capex) tahun ini dari Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun. Pendanaan capex berasal dari kas internal dan hasil divestasi saham aset fiber optik PT Infra Fiber Teknologi (IFT) senilai Rp11,7 triliun. Perusahaan juga mempertimbangkan opsi penarikan utang baru mengingat rasio utang yang masih di bawah 0,5 kali.
Belanja modal tersebut dibagi dua prioritas utama: Rp10 triliun untuk penguatan jaringan 5G dan sekitar US$600 juta atau ekuivalen Rp10,58 triliun untuk investasi di AI NeoCloud.
Indosat menargetkan penggandaan EBITDA dari US$1,5 miliar menjadi US$3 miliar dalam lima tahun ke depan. Target ambisius ini didukung keyakinan bahwa bisnis seluler di Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan dengan tarif yang diharapkan membaik.
Selain bisnis seluler, pendapatan Indosat akan ditopang oleh potensi bisnis AI NeoCloud. Mulai 2027, perseroan memproyeksikan pendapatan tahunan dari AI NeoCloud mencapai US$300 juta dengan margin EBITDA 80%, berkontribusi 10% terhadap total pendapatan dan meningkatkan pemasukan di luar bisnis seluler.
“Jadi, sangat ambisius target kami untuk menggandakan EBITDA. Jadi, kalaupun misalnya kami belum berhasil mencapai target tersebut, paling tidak kami sudah mendekati dan itu merupakan pencapaian yang bagus sehingga kami akan terus berupaya mencapai level tersebut,” ungkap Head of Investor Relations PT Indosat Tbk Indar Dhaliwal dalam kegiatan bisnis update IOH baru-baru ini.
Zankore by Indosat dan Kapasitas AI NeoCloud
Keberanian Indosat mengejar target ambisius ini didukung oleh kontrak dengan pelanggan yang telah diamankan. Dalam pengembangan bisnis infrastruktur AI, Indosat bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia membentuk perusahaan patungan bernama Zankore by Indosat.
Menurut Indar, AI NeoCloud dari Zankore dijadwalkan online pada semester I-2027 dengan kapasitas awal 200 Megawatt (MW), yang akan meningkat menjadi 1 Gigawatt (GW) dalam 3-4 tahun ke depan. Keterlibatan Indosat dalam konsorsium ini didasari rekam jejaknya dalam mengembangkan data center berkapasitas 25 MW melalui layanan komputasi H100 GPU.
Melalui Zankore by Indosat, perseroan membangun salah satu platform AI factory terbesar di Asia Tenggara. Platform ini menggunakan NVIDIA DSX sebagai arsitektur referensi, platform, dan ekosistem untuk mendesain serta mengoperasikan AI Factory. Zankore by Indosat juga mengintegrasikan NVIDIA DSX MaxLPS untuk optimalisasi daya secara dinamis dan peningkatan kapasitas komputasi.
Meskipun agresif dalam alokasi capex untuk pengembangan AI, Indar menegaskan komitmen Indosat untuk membagikan dividen sebesar 70% dari laba bersih yang dinormalisasi. “Itu komitmen kami untuk membayarkan dividen kepada para pemegang saham tahun ini,” imbuhnya.
Penilaian Analis terhadap Saham ISAT
Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo menilai valuasi saham ISAT saat ini masih dianggap undervalud oleh pelaku pasar. Hal ini mungkin disebabkan oleh bisnis NeoCloud yang tergolong baru dan kebingungan pasar antara data center dan NeoCloud, sehingga valuasi pasar terhadap saham ISAT masih mencerminkan perbaikan harga di industri telekomunikasi secara umum.
“Makanya, di kalangan para pelaku pasar masih banyak yang skeptis terkait pertumbuhan pendapatan rata-rata per pengguna (average revenue per user/ARPU). Saya akan bilang, pasar masih memvaluasi ARPU yang barely double digit improvement pada tahun ini,” ujar Niko.
Ikuti DailyFX.ID
