— PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) menempatkan kredit modal kerja sebagai pilar utama penyaluran pembiayaan pada semester I-2026. Hingga Juni 2026, segmen ini tercatat menyumbang Rp 20,9 triliun, yang setara dengan 51,8% dari keseluruhan kredit yang disalurkan perseroan. Total portofolio kredit SDRA pada periode tersebut mencapai Rp 40,34 triliun.

Kredit modal kerja yang disalurkan SDRA meliputi pembiayaan dalam mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS). Alokasi untuk pihak berelasi tercatat sebesar Rp 75,27 miliar, sementara kredit kepada pihak ketiga dalam rupiah mencapai Rp 10,6 triliun dan dalam dolar AS sekitar Rp 10,2 triliun. Kontribusi ini menjadikan kredit modal kerja lebih dari separuh total portofolio kredit bank.

Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi, berpendapat bahwa besarnya porsi kredit modal kerja memberikan fleksibilitas bagi SDRA dalam mengelola portofolio pembiayaannya. Menurutnya, kredit modal kerja umumnya memiliki siklus yang lebih pendek dibandingkan kredit investasi.

“Porsi kredit modal kerja yang besar dapat menjadi sumber pendapatan bunga yang relatif berulang karena kebutuhan pembiayaan operasional perusahaan terus berputar,” ujar Leonardo dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026). Ia menambahkan, tenor yang lebih pendek juga memberikan ruang bagi bank untuk melakukan penyesuaian harga kredit atau repricing serta menyesuaikan ekspansi pembiayaan dengan kondisi likuiditas dan profil risiko.

Dominasi kredit modal kerja ini sejalan dengan peningkatan profitabilitas SDRA. Selama enam bulan pertama 2026, perseroan berhasil membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 789,78 miliar. Laba bersih yang diraih mencapai Rp 594,09 miliar, melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 82,67 miliar.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah SDRA per akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp 29,46 triliun. Dana ini terdiri atas simpanan pihak berelasi sebesar Rp 13,84 miliar dan simpanan pihak ketiga sebesar Rp 29,44 triliun. Struktur pendanaan ini menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan seiring dengan dominasi kredit modal kerja dalam portofolio perseroan.

Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan

Leonardo menilai bahwa penyaluran kredit modal kerja yang besar saja belum cukup untuk menjamin keberlanjutan pertumbuhan kinerja SDRA. Perseroan diharapkan tetap menjaga kualitas debitur serta tingkat harga kredit agar pertumbuhan pembiayaan dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan.

“Yang perlu dijaga bukan hanya pertumbuhan volume, tetapi juga kualitas debitur dan pricing kredit,” tegas Leonardo. Ia memandang segmen kredit modal kerja masih berpotensi menjadi motor penggerak utama pendapatan bunga SDRA, terutama jika perseroan mampu menjaga kualitas aset sekaligus mengendalikan biaya dana.

“Jika ekspansi kredit modal kerja dapat dibarengi pengelolaan risiko dan biaya dana yang disiplin, segmen ini berpotensi tetap menjadi salah satu motor pendapatan bunga SDRA,” pungkasnya.