— PARIS – Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo, menyampaikan peringatan keras mengenai pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia khawatir AI berpotensi menciptakan “surga mesin” yang mengendalikan kehidupan manusia di bumi. Peringatan ini disampaikan dalam pembukaan kunjungan kenegaraan empat harinya di Prancis pada Jumat (25/9/2026).

Kunjungan bersejarah ini, yang menandai lawatan Paus pertama ke Prancis dalam hampir dua dekade, menjadikan isu ancaman AI dan kemanusiaan sebagai salah satu pilar utama masa kepemimpinannya. “Jika kita ingin menghindari kehilangan kemanusiaan kita di tengah ‘surga mesin’ yang menginvasi dan mengondisikan kehidupan sehari-hari kita, maka ada kebutuhan mendesak akan pendidikan penafsiran etis,” tegas Paus Leo di Istana Élysée, Paris.

Dalam pidatonya di hadapan para pejabat tinggi Prancis, Paus Leo juga mengutarakan keprihatinannya terhadap tren modernisasi yang dinilainya mereduksi nilai luhur kehidupan manusia menjadi sekadar komoditas komersial. Ia mengkritik keras kebijakan legalisasi “bunuh diri medis” bagi penderita penyakit yang tak tersembuhkan, yang baru saja disahkan oleh parlemen Prancis dua bulan lalu.

“Saya merasa prihatin atas tren dalam masyarakat yang berisiko mengubah sains dan teknologi menjadi usaha berorientasi keuntungan belaka. Mendorong manipulasi genetik, ibu pengganti, perdagangan organ manusia, hingga opsi untuk mengatur kematian diri sendiri,” ungkapnya.

Restorasi Katedral Notre-Dame, UNESCO, dan Kebebasan Pers

Kedatangan Paus Leo di Bandara Paris Orly disambut langsung oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Brigitte Macron. Agenda utama Paus di Paris meliputi pimpinan ibadat di Katedral Notre-Dame yang telah selesai direstorasi pascakebakaran hebat pada 2019.

Selain agenda keagamaan, Paus dijadwalkan menyampaikan pidato di markas besar lembaga kebudayaan PBB (UNESCO), yang tengah menghadapi defisit anggaran setelah Amerika Serikat menarik diri dari keanggotaan pada 2025. Dalam penerbangan menuju Paris, Paus Leo juga merespons tindakan pembatasan akses peliputan sejumlah media utama di Gedung Putih. Paus secara terbuka menegaskan kembali dukungannya terhadap kebebasan pers dan menyambut seluruh awak media untuk meliput rangkaian kunjungannya.

Menghadapi Sekularisme dan Skandal Kekerasan Seksual

Kunjungan Paus Leo berlangsung di tengah tantangan berat yang dihadapi Gereja Katolik di Prancis. Sebagai negara sekuler yang menjunjung tinggi pemisahan gereja dan negara, penganut Katolik di Prancis mengalami penurunan signifikan. Data resmi menunjukkan hanya 25% warga Prancis berusia 18–49 tahun yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, merosot tajam dari 43% pada dekade sebelumnya.

Di samping isu sekularisme, Paus Leo mengemban misi moral untuk memulihkan kepercayaan publik pascarilis laporan independen 2021 yang mengungkap sekitar 330.000 anak menjadi korban kekerasan seksual oleh oknum klerus Prancis selama tujuh dekade terakhir. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Paus dijadwalkan menggelar pertemuan khusus dengan tujuh korban selamat dari kekerasan tersebut saat berkunjung ke situs ziarah Lourdes.

Kunjungan kenegaraan Paus Leo ke Prancis merupakan momentum krusial bagi arsitektur hubungan antara Vatikan, Uni Eropa, dan perkembangan teknologi global. Sebagai pemimpin spritual dari 1,3 miliar umat Katolik di dunia, kepemimpinan Paus Leo dikenal vokal dalam menyuarakan etika teknologi (techno-ethics) agar perkembangan sains tidak mengabaikan martabat dasar manusia.

Dinamika ini makin relevan ketika negara-negara maju berlomba mempercepat adopsi AI dan teknologi medis modern. Vatikan secara konsisten mendorong lahirnya kerangka regulasi global yang menjamin AI tetap berada di bawah kendali kontrol etis manusia (human-centric AI).

Di sisi lain, kehadiran Paus di tanah Prancis menjadi titik temu kompleks antara tradisi Katolik historis Eropa dengan arus sekularisme modern. Langkah Paus mendatangi korban kekerasan seksual klerus di Lourdes menegaskan komitmen reformasi transparansi internal Gereja, sementara pertemuannya dengan para pemimpin politik Eropa ditujukan untuk menyuarakan pesan perdamaian dan keadilan sosial di tengah lanskap geopolitik dunia yang penuh turbulensi.