DailyFX.ID — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato bernada keras dan penuh konfrontasi di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di tengah persaingan ketat jelang Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026, Netanyahu memanfaatkan panggung diplomasi dunia tersebut untuk menyerang musuh-musuhnya sekaligus mengecam negara-negara sekutu tradisionalnya, hingga memicu kericuhan di dalam ruang sidang.
Saat Netanyahu naik ke podium, puluhan diplomat dari berbagai negara melakukan aksi keluar dari ruang sidang (walkout) secara massal sebagai bentuk protes. Beberapa di antara peserta sidang bersorak dan mencemooh, sementara pimpinan sidang berulang kali menyerukan ketertiban di tengah tepuk tangan rombongan delegasi Israel. “Jika masih ada penakut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan keluar sekarang,” ujar Netanyahu menyindir para diplomat yang membelakanginya dan keluar ruangan, Kamis (25/9/2026) malam waktu setempat.
Dalam pidatonya, Netanyahu melontarkan serangan verbal kepada Wali Kota New York Zohran Mamdani dengan menuduhnya sebagai sosok “antisemitik”. Netanyahu mengklaim, sejak Mamdani terpilih, banyak warga Yahudi di New York merasa tidak aman lagi. Ancaman Mamdani sebelumnya untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu, meski belakangan diakui berada di luar kewenangannya, menjadi pemicu kekesalan pimpinan Israel tersebut.
Pada 2024 ICC menyatakan memiliki dasar yang cukup untuk mempercayai Netanyahu bertanggung jawab atas dugaan kejahatan perang dalam kampanye militer di Gaza pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Menanggapi pidato tersebut, Mamdani menegaskan kembali posisinya. “Netanyahu menggunakan pidatonya untuk mengulang kebohongan tanpa dasar guna membersihkan nama dari aksi genosida terhadap warga Palestina. Namun, tidak ada kebohongan yang dapat mengubah fakta bahwa ia tetap menjadi subjek surat perintah penangkapan ICC atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegas Mamdani.
Ketegangan tidak hanya terjadi di dalam gedung PBB. Di luar markas PBB, puluhan pengunjuk rasa membentangkan spanduk bertuliskan “stop the genocide”. Polisi setempat mengamankan beberapa demonstran, termasuk aktris ternama Hollywood Susan Sarandon. Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak hadir secara langsung dalam sidang tahunan tersebut setelah pemerintah AS menolak memberikan visa kunjungan. Dalam pesan video yang ditayangkan sebelum pidato Netanyahu, Abbas menyatakan penolakannya terhadap tindakan AS. “Kami menolak tindakan hukuman ilegal ini, serta menolak seluruh tuduhan dan dalih yang menjadi dasarnya,” ungkap Abbas.
Negara Sekutu dalam Sorotan
Negara sekutu historis seperti Inggris dan Prancis tak luput dari sasaran gempuran pidato Netanyahu. Kedua negara Eropa tersebut memicu kemarahan Israel setelah memberlakukan sanksi terbatas terhadap ekspor Israel dari wilayah Tepi Barat yang diduduki. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga dikritik tajam atas pernyataannya yang menyebut Hamas tidak aktif di Tepi Barat.
Netanyahu menepis tuduhan yang mengarah pada negaranya dengan membalikkan isu sejarah kolonialisme kepada Inggris dan Prancis. “Merekalah yang menuduh Israel, Israel yang kecil ini, melakukan kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka adalah orang-orang dari Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, merekalah yang menciptakan istilah itu,” cetusnya.
Serangan terhadap Iran dan Pameran “Pager”
Mengenai Iran, Netanyahu menggunakan istilah keras dengan menyebut rezim Tehran sebagai “diktatur pembunuh”. Ia mengklaim bahwa aksi militer gabungan Israel dan AS selama hampir tujuh bulan terakhir telah berhasil mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Di tengah pidato, Netanyahu juga memamerkan sebuah perangkat pager (penemu). Perangkat tersebut serupa dengan bom peledak terselubung yang dirancang intelijen Israel untuk menargetkan milisi Hezbollah yang disokong Iran di Lebanon. Ini adalah operasi yang melukai puluhan milisi namun turut memakan korban jiwa dari kalangan sipil.
Selain Iran dan Hizbullah, Netanyahu menuding Turki memberikan dukungan penuh kepada Hamas dan melabeli Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai seorang tiran. Juru Bicara Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai pernyataan tidak berdasar yang bertentangan dengan prinsip-prinsip PBB.
Netanyahu melakukan kunjungan singkat di New York sebelum langsung kembali ke Israel untuk melanjutkan agenda kampanye pemilunya yang kian memanas. Sikap konfrontatif Benjamin Netanyahu di panggung Majelis Umum PBB mencerminkan tekanan besar yang tengah dihadapinya dari berbagai lini.
Netanyahu sedang berjuang mempertahankan kekuasaannya dalam Pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Retorika keras di PBB dimanfaatkan sebagai strategi politik untuk menggalang dukungan dari pemilih sayap kanan di dalam negeri. Terbitnya surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait dugaan kejahatan perang di Gaza menempatkan Netanyahu dalam posisi terisolasi secara diplomasi di tingkat global, terutama di antara negara-negara anggota ICC.
Israel terlibat dalam konflik bersenjata di berbagai front, mulai dari operasi militer berkelanjutan di Gaza, baku tembak dan operasi khusus berbasis teknologi (seperti bom pager) melawan Hezbollah di Lebanon, hingga konfrontasi militer terbuka dan ketegangan ruang udara dengan Iran. Penolakan terhadap kebijakan militer Israel tidak hanya datang dari negara-negara Arab dan kawasan (seperti Turki), tetapi juga dari mitra tradisional di Eropa (seperti Inggris dan Prancis) yang mulai memberlakukan pembatasan ekonomi dan peninjauan kebijakan diplomasi.
Ikuti DailyFX.ID
