DailyFX.ID — NEW YORK – Momen tak biasa terjadi di tengah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, tertangkap kamera sedang asyik menggunakan ponsel pintarnya saat acara tersebut berlangsung.
Kejadian ini terjadi sebelum Al-Sharaa naik ke podium untuk menyampaikan pidato. Ia kedapatan sedang menonton cuplikan video pendek atau reels di media sosial Instagram. Momen ini terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di berbagai platform media sosial.
Dalam rekaman yang diambil dari dalam ruang Majelis Umum PBB, Al-Sharaa terlihat santai menikmati konten di ponselnya. Hal ini terjadi ketika Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sedang menyampaikan pidatonya di hadapan para pemimpin dunia.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa Al-Sharaa, yang sebelumnya pernah masuk dalam daftar teroris Amerika Serikat, juga turut membagikan reels tersebut. Namun, rekaman yang beredar tidak dapat memastikan apakah ia sedang bertukar pesan atau konten spesifik apa yang sedang ia saksikan.
Aksi Al-Sharaa ini sontak memicu beragam reaksi jenaka dari warganet. Banyak pengguna platform X (sebelumnya Twitter) menganggap tindakan tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa komentar menyebutkan bahwa hal itu menunjukkan sisi manusiawi dari seorang pemimpin.
Momen santai tersebut terjadi hanya sesaat sebelum Al-Sharaa menyampaikan pidato resminya. Setelah video tersebut menjadi viral, ia kemudian berhadapan dengan wartawan untuk membahas berbagai isu diplomatik krusial di kawasan Timur Tengah.
Dalam pidatonya, Al-Sharaa menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel dari zona keamanan yang diklaim sepihak di wilayah Suriah adalah syarat mutlak sebelum perundingan menuju kesepakatan kedua negara dapat dimulai. Ia juga mengisyaratkan bahwa perdamaian abadi bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
“Dataran Tinggi Golan adalah wilayah sah Suriah yang diakui oleh PBB. Jadi, tidak ada ruang untuk perdebatan mengenai hal tersebut,” tegas Al-Sharaa.
Kehadiran Ahmed al-Sharaa di Sidang Umum PBB kali ini merupakan penampilan keduanya sejak 2025. Ini menandai kembalinya pemimpin tertinggi Suriah di mimbar PBB setelah hampir enam dekade absen. Terakhir kali Kepala Negara Suriah menghadiri Sidang Umum PBB adalah pada tahun 1967.
Absennya Suriah dalam kurun waktu yang panjang tersebut berkaitan erat dengan dinasti kepemimpinan keluarga Assad yang berkuasa selama lima dekade. Kekuasaan keluarga Assad runtuh pada Desember 2024 setelah Presiden Bashar al-Assad digulingkan melalui serangan kelompok oposisi yang dipimpin oleh Al-Sharaa. Jatuhnya rezim Assad sekaligus mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama hampir 14 tahun.
Sejak menjabat sebagai pimpinan baru, Al-Sharaa berupaya memulihkan hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab dan kawasan Barat. Pemerintah Barat sebelumnya bersikap waspada mengingat rekam jejak Al-Sharaa yang pernah memimpin Hayat Tahrir al-Sham, kelompok pemberontak yang sempat dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat.
Meskipun Al-Sharaa terus mengusung narasi koeksistensi damai dan berusaha meyakinkan kelompok minoritas di Suriah, proses pemulihan negara tersebut masih diwarnai tantangan berat akibat letupan kekerasan antarkelompok. Beberapa faksi tempur yang berafiliasi dengan pemerintahan baru bahkan sempat mendapat sorotan atas dugaan penyerangan terhadap warga sipil dari komunitas minoritas Druze dan Alawit.
Ikuti DailyFX.ID
