DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah 25 poin atau 0,14% ke posisi Rp 17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026), turun dari level Rp 17.669 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan hari ini, dengan perkiraan rentang di level Rp 17.690 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh beberapa faktor, termasuk momen pergantian Menteri Keuangan. Serah terima jabatan Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nagara telah dilaksanakan pada Selasa (15/9/2026).
Pergantian tampuk kepemimpinan di Kementerian Keuangan ini terjadi di tengah tantangan pengelolaan fiskal yang semakin kompleks, seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mengoptimalkan kinerja perekonomian nasional. Pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 3.426 triliun, dengan pembiayaan mencapai Rp 571,2 triliun, yang menghasilkan defisit anggaran sebesar 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Angka-angka itu sebenarnya sudah menunjukkan dilema yang akan dihadapi Suahasil,” ujar Ibrahim. Ia menambahkan, “Di satu sisi, pemerintah ingin menggunakan APBN sebagai mesin pertumbuhan sehingga belanja harus cukup besar untuk mendorong konsumsi, investasi, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta berbagai program prioritas pemerintah.”
Selain sentimen domestik, faktor eksternal juga turut menekan rupiah. Ketegangan yang masih tinggi seputar konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu pelemahan.
Lebih lanjut, rupiah diproyeksikan akan kembali melemah menjelang perilisan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada hari Jumat mendatang. Data ini akan menjadi penentu krusial bagi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Sebelumnya, data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa CPI umum (headline CPI) pada bulan Agustus naik 0,4% secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,1% pada bulan Juli. Sementara itu, CPI inti juga naik 0,3% pada periode yang sama, menunjukkan laju tercepat dalam empat bulan terakhir.
Perkembangan ini tercermin pada CME FedWatch Tool, yang kini menunjukkan pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 89% untuk kenaikan suku bunga The Fed, sebuah angka yang meningkat signifikan dari sekitar 59,4% pada pekan sebelumnya.
Ikuti DailyFX.ID
