DailyFX.ID — JAKARTA – Informasi seputar investasi kini semakin mudah ditemukan di ruang digital, mulai dari media sosial, film, video singkat, infografis, hingga cerita pengalaman pribadi. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyampaikan materi yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami, terutama oleh generasi Z.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah storytelling. Melalui metode ini, informasi keuangan yang bersifat teknis dan formal disampaikan lewat cerita, pengalaman, ilustrasi, atau situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga terasa lebih sederhana dan mudah dicerna.
Penerapan storytelling sudah diadopsi sejumlah program edukasi dan literasi keuangan. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar program InsureTell: Storytelling di TK Al-Hurriyah Terogong, Jakarta, pada 7 Mei 2026. Program ini menggunakan pendekatan interaktif untuk mengenalkan nilai-nilai literasi keuangan dan perlindungan kepada anak-anak.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi tidak hanya disampaikan seperti pembelajaran umum yang dipenuhi oleh istilah keuangan. Anak-anak diajak mengikuti kegiatan yang lebih santai dan interaktif, mulai dari ice breaking, bernyanyi, bermain, hingga mendengarkan cerita yang dibawakan oleh storyteller. Pesan perihal kepedulian, perlindungan, perencanaan, serta tanggung jawab disisipkan melalui cerita dan aktivitas tersebut.
Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM AAJI, Freddy Thamrin, mengatakan konsep storytelling yang ringan memungkinkan anak-anak lebih mudah memahami konsep dasar keuangan secara intuitif, tanpa harus berhadapan langsung dengan istilah-istilah teknis yang kompleks. “Mengusung konsep storytelling yang ringan, akan memungkinkan anak-anak lebih mudah untuk memahami konsep dasar kehidupan dalam keuangan apalagi secara intuitif tanpa harus berhadapan langsung dengan istilah-istilah teknis yang kompleks yang justru bikin anak-anak enggak paham,” ujarnya.
Menurut Freddy, pendekatan tersebut juga membantu audiens lebih mudah memahami nilai-nilai literasi keuangan, khususnya asuransi terhadap anak-anak. Meskipun program tersebut ditujukan bagi anak-anak, pendekatan serupa bisa diterapkan untuk menggambarkan konsep keuangan maupun investasi melalui cerita dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Gen Z, metode ini banyak digunakan lewat video pendek, film, ilustrasi studi kasus, maupun cerita pengalaman pribadi seputar keuangan. Film drama komedi Gampang Cuan (2023) menjadi salah satu contohnya. Salah satu karakternya, Sultan, yang diperankan oleh Vino G. Bastian, menjelaskan berbagai instrumen investasi dengan analogi sederhana. Ia memberi perumpamaan ayam sebagai uang dan peternakan sebagai instrumen saham.
“Jadi saham ibaratnya: ibu nitipin ayam ke peternakan untuk disuruh kerja. Nanti peternak akan bagi hasil sama ibu sesuai dengan perjanjian awal. Semakin besar ayam yang ibu titipin ke peternakan, semakin besar juga kepemilikan ibu terhadap peternakan itu,” ungkap Sultan.
Di samping itu, ia mengingatkan agar lebih dulu mengecek latar belakang dan kualitas usaha peternakan ayam (saham) itu secara menyeluruh. “Apakah peternakannya bagus, sehat? Dan selama ini bagaimana peternakannya, untung atau rugi?” imbuh Sultan.
Konten edukasi investasi dapat dikemas secara menarik tanpa mengabaikan sisi hiburan atau mengesampingkan akurasi. Informasi seputar investasi dapat memengaruhi keputusan keuangan seseorang, sehingga konten tetap perlu memperhatikan sumber, data, konteks, termasuk risiko yang mungkin akan terjadi.
Hal ini semakin relevan menyusul terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 6 Tahun 2026, yang mengatur penyampaian informasi sektor jasa keuangan, termasuk untuk keperluan edukasi, pemasaran, dan pemberian rekomendasi. Dalam siaran pers pada 24 Juni 2026, OJK menyampaikan bahwa aturan tersebut mendorong penyampaian informasi sektor jasa keuangan yang “jelas, akurat, jujur, mudah diakses, dan tidak berpotensi menyesatkan”.
OJK menjelaskan bahwa penyampaian informasi dapat memengaruhi masyarakat dalam memanfaatkan layanan keuangan, sehingga kualitas setiap informasi yang disebarluaskan harus memuat kaidah-kaidah yang berlaku. Bagi Gen Z, ruang digital seperti media sosial menjadi salah satu wadah menemukan berbagai informasi, termasuk yang berkaitan dengan investasi.
Banyaknya konten yang tersedia membuat kemampuan memilah dan mencerna informasi menjadi semakin penting, khususnya agar audiens tidak sekadar mengikuti informasi berdasarkan popularitas atau tren semata. Storytelling dapat membantu membuat topik investasi yang kompleks terasa lebih dekat melalui contoh dan cerita. Namun, pendekatan ini tetap harus disertai verifikasi lebih lanjut, seperti pencantuman sumber data, konteks, serta penjelasan mengenai mitigasi risiko, agar informasi yang diterima tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.
Pada akhirnya, tantangan edukasi investasi bukan sekadar membuat konten yang menarik perhatian Gen Z. Storytelling bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami informasi keuangan, tetapi akurasi, transparansi, serta tanggung jawab tetap menjadi syarat mutlak agar konten yang dibuat benar-benar bermanfaat bagi audiens.
Ikuti DailyFX.ID
