— Moderna dan Merck melaporkan hasil positif dari uji klinis tahap akhir vaksin kanker berbasis messenger RNA (mRNA) yang dipersonalisasi untuk pasien melanoma berisiko tinggi. Dalam studi tersebut, vaksin yang dikenal sebagai Intismaran, dikombinasikan dengan obat imunoterapi Keytruda milik Merck. Hasil sementara menunjukkan bahwa kombinasi terapi ini mampu menurunkan risiko kanker kambuh sekaligus mencegah penyebaran tumor ke bagian tubuh lain, dibandingkan dengan penggunaan Keytruda saja.

Hasil ini menjadi uji klinis tahap akhir pertama yang menunjukkan keberhasilan vaksin kanker berbasis mRNA. Teknologi ini bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh pasien untuk mengenali mutasi tertentu pada sel kanker. Vaksin dibuat secara khusus berdasarkan karakteristik tumor masing-masing pasien.

Presiden Moderna, Stephen Hoge, menyatakan bahwa hasil tersebut merupakan pencapaian penting. Untuk pertama kalinya, terapi individual menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan Keytruda pada kelompok pasien melanoma tersebut. Jika mendapatkan persetujuan regulator, terapi ini berpotensi tersedia paling cepat tahun depan. Merck juga mengonfirmasi bahwa kedua perusahaan telah berdiskusi dengan regulator terkait pengembangan pengobatan ini.

Uji klinis melibatkan 1.137 pasien melanoma stadium IIB hingga IV yang memiliki risiko tinggi dan telah menjalani operasi pengangkatan tumor. Peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima hingga sembilan dosis vaksin yang dipersonalisasi bersama Keytruda, sementara kelompok lainnya hanya mendapatkan Keytruda selama sekitar satu tahun.

Perusahaan melaporkan belum ditemukan sinyal keamanan baru dalam uji klinis tersebut. Meskipun data lengkap hasil studi belum diungkapkan, Moderna dan Merck berencana mempresentasikan rinciannya dalam pertemuan medis mendatang. Data mengenai tingkat kelangsungan hidup keseluruhan pasien, yang mengindikasikan apakah pasien yang menerima terapi dapat hidup lebih lama dibandingkan kelompok pembanding, juga belum tersedia.

Sebelumnya, hasil uji klinis tahap menengah yang diumumkan pada Januari menunjukkan kombinasi tersebut mampu menurunkan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 49% setelah lima tahun.

Buka Peluang untuk Kanker Lain

Melanoma merupakan salah satu jenis kanker kulit paling mematikan. Menurut National Cancer Institute, lebih dari 1,5 juta orang di Amerika Serikat hidup dengan melanoma pada tahun 2023.

CEO Parker Institute for Cancer Immunotherapy, Karen Knudsen, menilai hasil tersebut dapat membuka babak baru dalam pengembangan imunoterapi untuk kanker dengan tumor padat. Moderna, Merck, dan sejumlah perusahaan lain saat ini juga sedang menguji pendekatan vaksin kanker serupa untuk kanker paru-paru, payudara, dan pankreas.

Keberhasilan uji Intismaran turut menarik perhatian investor. Saham Moderna sempat melonjak hingga 160%, sementara saham Merck naik sekitar 12%. Lonjakan ini mencerminkan harapan bahwa terapi baru dapat memperluas bisnis kanker Merck ketika paten Keytruda mendekati masa berakhirnya pada akhir dekade ini. Analis Barclays memperkirakan terapi tersebut berpotensi menghasilkan penjualan sekitar US$3 miliar per tahun untuk pengobatan melanoma pada 2035.

Meski prospeknya dinilai besar, vaksin yang dibuat secara individual menghadapi tantangan produksi karena setiap pasien membutuhkan formulasi berdasarkan mutasi pada tumornya sendiri. Moderna menyatakan yakin dapat meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan dalam beberapa tahun mendatang. Kedua perusahaan juga belum menentukan harga terapi tersebut.