— Indeks-indeks saham utama di Wall Street mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (19/8/2026), mengakhiri tren tekanan yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Kenaikan ini didorong oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah tak terduga untuk memperbesar operasi pembelian kembali surat utang pemerintah berjangka panjang.

S&P 500 tercatat naik 0,21% ke level 7.707,98, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,16% menjadi 26.331,09. Dow Jones Industrial Average juga menguat 119,65 poin atau 0,22% ke angka 53.463,05. Meskipun demikian, penguatan tersebut menyusut menjelang penutupan pasar, setelah sempat membukukan kenaikan lebih signifikan di awal sesi.

Sentimen positif pasar saham dipicu oleh anjloknya imbal hasil obligasi AS tenor panjang. Departemen Keuangan AS mengumumkan akan setidaknya menggandakan ukuran operasi pembelian kembali surat utang pemerintah. Langkah ini secara spesifik menyasar surat utang bertenor 10 hingga 30 tahun, termasuk obligasi 20 tahun.

Sebagai dampaknya, imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun yang sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun di atas 5,33%, kini turun lebih dari 10 basis poin menjadi 5,184%. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun juga terkoreksi lebih dari 6 basis poin ke level 4,637%.

Penurunan imbal hasil obligasi ini memberikan ruang bagi saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Sektor ritel menunjukkan performa positif, dengan saham Lowe’s dan Home Depot masing-masing menguat sekitar 2%. “Untuk saham-saham value, misalnya, kinerjanya sangat baik hari ini. Itu menunjukkan ekonomi dan siklus laba perusahaan masih sangat kuat,” ujar Head of US Equities di Procyon, Massimo Santicchia.

Santicchia menambahkan bahwa pasar saat ini menunjukkan ketegangan antara fundamental perusahaan yang kuat dan biaya modal yang meningkat akibat tingginya imbal hasil obligasi. Namun, ia menilai kondisi tersebut masih menciptakan lingkungan yang positif bagi saham karena prospek laba perusahaan tetap solid.

Pergerakan saham individual juga turut mewarnai perdagangan. Saham Moderna melonjak drastis sekitar 177%, mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam sejarah perusahaan. Lonjakan ini terjadi setelah vaksin eksperimental kanker kulit yang dikembangkan Moderna bersama Merck menunjukkan hasil positif dalam uji klinis tahap akhir. Saham Merck pun turut terangkat lebih dari 12%, memberikan kontribusi positif bagi Dow Jones.

Saham Marvell Technology juga mengalami kenaikan hampir 10% setelah mengumumkan kesepakatan dengan Google terkait tensor processing units (TPU). Marvell juga menerbitkan warrant kepada Alphabet, yang memberikan hak untuk membeli saham biasa Marvell senilai hingga US$12,2 miliar.

Di sisi lain, beberapa saham teknologi mengalami pelemahan menyusul laporan mengenai kinerja OpenAI yang menimbulkan kekhawatiran investor. The Wall Street Journal melaporkan, berdasarkan sumber, bahwa hasil kuartal II OpenAI mengecewakan investor. Meskipun pendapatan perusahaan tumbuh 18% dari kuartal I, kerugiannya juga dilaporkan meningkat.

Akibatnya, saham Broadcom turun lebih dari 4%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) melemah hampir 4%. ETF iShares AI Innovation and Tech Active juga mengalami penurunan sekitar 2%.

Penguatan Wall Street terjadi di tengah kekhawatiran pasar yang masih membayangi arah inflasi dan suku bunga. Sehari sebelumnya, indeks-indeks utama Wall Street tertekan setelah imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam tiga dekade. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2008, dan imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011.

Risiko inflasi juga menjadi perhatian Federal Reserve (The Fed). Risalah pertemuan The Fed pada 28-29 Juli menunjukkan bahwa sejumlah pejabat melihat potensi kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam pertemuan tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara tiga pejabat The Fed yang memilih untuk menaikkan suku bunga.