— Presiden China Xi Jinping menyerukan negara-negara anggota BRICS untuk mengambil peran proaktif dalam mendorong terciptanya perdamaian berkelanjutan di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Penegasan ini disampaikan saat berpidato pada hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).

Presiden Xi menilai eskalasi militer di kawasan tersebut telah menimbulkan dampak merusak luar biasa bagi masyarakat sipil dan bertentangan dengan kepentingan stabilitas global. “Situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk terus berkembang. Perang di sana telah menimbulkan kerugian serius bagi masyarakat di seluruh kawasan dan tidak sejalan dengan kepentingan bersama masyarakat internasional,” tegas Presiden Xi.

Pernyataan ini disampaikan di tengah kecemasan global akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh. Pertikaian tersebut tidak hanya merusak infrastruktur vital, tetapi juga memicu gangguan serius terhadap kelancaran rantai pasok energi dunia.

Xi Jinping mendesak agar blok negara-negara berkembang BRICS berdiri teguh di pihak sejarah yang benar. Otoritas China berkomitmen untuk bekerja sama dengan seluruh anggota BRICS guna memainkan peran konstruktif dalam menghentikan konflik dan memulihkan stabilitas geopolitik.

Selain isu keamanan regional, pemimpin China tersebut mendorong BRICS menjadi pelopor utama dalam membenahi tata kelola global, menolak mentalitas Perang Dingin, serta menentang konfrontasi antarkelompok. Ia menyoroti pentingnya menghormati kedaulatan nasional dan menentang segala bentuk intervensi asing terhadap urusan dalam negeri suatu negara.

Presiden Xi juga mengajak anggota BRICS menolak praktik proteksionisme perdagangan serta memimpin perumusan norma tata kelola masa depan di sektor-sektor strategis. Sektor-sektor tersebut meliputi kecerdasan artifisial (AI), ruang siber, ruang angkasa, dan eksplorasi laut dalam, demi memperkuat posisi tawar negara-negara Global South.

KTT ke-18 BRICS yang berlangsung pada 12–13 September 2026 ini dihadiri oleh para pemimpin kunci, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Presiden RI Prabowo Subianto. Mekanisme kerja sama ini kini merepresentasikan kekuatan besar dunia yang mencakup 49,5% populasi global, 40% dari total produk domestik bruto (PDB) dunia, serta 26% volume perdagangan internasional.

Usai masa kepemimpinan India berakhir tahun ini, China dijadwalkan akan mengambil alih keketuaan bergilir BRICS untuk penyelenggaraan KTT pada 2027.