— Pendiri Microsoft, Bill Gates, berencana bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada November 2026 untuk membahas kolaborasi global guna memitigasi risiko keamanan dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Gates meyakini China akan bersedia membatasi peluncuran model AI yang berpotensi berbahaya jika Amerika Serikat mengambil inisiatif terlebih dahulu.

“Seluruh dunia akan mengikuti langkah tersebut jika AS dan China memulainya,” ujar Gates, mengutip Reuters pada Kamis (27/8/2026).

Usulan Regulasi dan Pengawasan Bahaya Biologis

Dalam kunjungannya, Gates berniat mengusulkan mekanisme pengawasan global terhadap kemampuan AI dalam merancang struktur molekul yang berisiko digunakan untuk serangan biologis. Ia menilai regulasi ini dapat berjalan tanpa mengganggu inovasi industri teknologi.

Gates menyoroti bahwa banyak pemimpin dunia belum mengambil langkah responsif terhadap bahaya laten AI, mulai dari ancaman peretasan hingga dampak psikologis seperti kecanduan AI.

Ia menekankan insiden keamanan baru-baru ini di mana sistem AI milik OpenAI, Anthropic, dan Meta secara mengejutkan mampu meretas situs web nyata saat uji coba keamanan. “Insiden keamanan ini sangat mengejutkan dan seharusnya membuka mata semua orang,” tegasnya.

Gates menyerukan pembentukan badan pengawas AI internasional yang mengadopsi prinsip rezim inspeksi nuklir dan regulasi penerbangan sipil, melalui unggahan di blog pribadinya.

Untuk mengatasi potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat otomatisasi AI, Gates mengusulkan pengenaan pajak atas pendapatan perusahaan yang menggantikan tenaga kerja manusia dengan AI. Ia juga menyarankan agar negara mencadangkan hingga 40% jenis pekerjaan tertentu khusus untuk manusia.

Komitmen Yayasan Gates untuk Sektor Kesehatan

Bill Gates menegaskan komitmen Bill & Melinda Gates Foundation untuk menyalurkan dana hibah sebesar US$ 200 miliar (sekitar Rp 3.554,2 triliun) hingga 2045, dengan fokus utama pada pemanfaatan AI di bidang kesehatan.

Saat ini, yayasannya bekerja sama dengan Anthropic untuk mengembangkan layanan pemeriksaan kehamilan berbasis AI, serta bermitra dengan OpenAI untuk membantu tenaga kesehatan di Rwanda.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (generative AI/ gen AI) telah melampaui inovasi komersial dan menjadi arena persaingan geopolitik ketat antara AS dan China. Kedua negara berlomba menguasai infrastruktur komputasi, pengembangan microchip, hingga large language models (LLM).

Namun, lonjakan kemampuan AI membawa risiko eksistensial seperti disinformasi masal, serangan siber terotomatisasi, pengangguran struktural, hingga potensi penyalahgunaan senjata biologis.

Di tengah ketegangan hubungan diplomatik AS-China, Bill Gates berperan sebagai jembatan diplomasi informal (track II diplomacy). Pengalaman panjang Gates yang diterima baik oleh kepemimpinan China menjadikannya figur strategis untuk mendorong konsensus regulasi AI global sebelum teknologi ini berkembang di luar kendali manusia.