— Di tengah geliat target ambisius pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp) nasional, sebuah kompetisi yang tak kalah penting tengah bergulir. Tiga emiten energi Indonesia, yaitu PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), tengah berebut panggung untuk menjadi pemasok listrik hijau ke Singapura.

Panggung persaingan ini tidak terpusat di Jawa, melainkan di kepulauan Batam dan Bintan. Lokasi ini dipilih karena kedekatan geografisnya dengan Singapura, menjadikannya titik strategis untuk ekspor listrik hijau. Perkembangan bisnis energi hijau nasional ini dilihat sebagai bagian penting dari transisi energi.

Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, menyatakan bahwa posisi geografis dan kemajuan regulasi menjadi faktor kunci yang memberikan peluang bagi ADRO, MEDC, dan ARKO dalam proyek listrik lintas negara ini. Ia menambahkan, “Posisi geografis dan tahapan regulasi membuat ADRO, MEDC, dan ARKO memiliki peluang dalam proyek listrik lintas negara tersebut.”

Pemerintah Indonesia memang sedang mempercepat pengembangan PLTS berskala besar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyampaikan rencana percepatan proses tender PLTS 100 GWp untuk memastikan keterlibatan perusahaan yang memiliki kapabilitas teknologi dan daya saing yang memadai.

Tahap awal program ini meliputi 14 proyek dengan total kapasitas 5.216 megawatt peak (MWp) atau setara 5,5 GWp. Pemerintah menargetkan penenderan 25–30 GWp proyek baru pada tahun ini.

Menurut Jason, ADRO melalui anak usahanya, Adaro Solar International, telah mengantongi alokasi resmi sebesar 0,4 GW dari regulator Singapura sejak tahun 2023. Proyek ini mencakup pengembangan PLTS dan sistem baterai dengan estimasi belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 3,2 miliar.

Sementara itu, MEDC, melalui konsorsium Pacific Medco Solar Energy bersama Grup Salim, telah mendapatkan persetujuan bersyarat untuk kapasitas 600 MW. Proyek ini dikenal sebagai Bulan Solar PV Batam dengan kapasitas 2 GWp.

Di sisi lain, ARKO berpotensi menjadi pemain kejutan. Meskipun belum memiliki lisensi ekspor resmi, anak usahanya, Endorshine Energy Solutions, berlokasi di klaster Batam-Bintan. Perusahaan ini telah mendapatkan pembiayaan sebesar US$ 9,8 juta dari PT Sarana Multi Infrastruktur untuk proyek PLTS yang sudah beroperasi secara komersial.

Rekomendasi Saham

Secara teknikal, saham ADRO saat ini sedang menguji area batas bawah (support) di Rp 2.580, dengan target gap di Rp 2.780 dan batas cut loss di bawah Rp 2.500. Saham MEDC menguji support kuat di area Rp 1.450–1.460, dengan target gap Rp 1.700 dan cut loss di bawah Rp 1.400. Sementara itu, ARKO berada di sekitar support Rp 3.800, dengan target Rp 4.470 dan batas cut loss di bawah Rp 3.700.

Jason mengingatkan investor untuk mencermati perkembangan kesepakatan pasokan dengan pembeli (offtaker) di Singapura. Meskipun ADRO dan MEDC telah memiliki lisensi sejak 2023, kesepakatan pasokan definitif masih menjadi tahapan krusial sebelum keputusan investasi final diambil.

Pluang Maju Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.450 dalam horizon 12 bulan. Rekomendasi ini didasarkan pada akselerasi kinerja, valuasi sektor batu bara yang masih di bawah rata-rata historis, serta diversifikasi pendapatan dari bisnis aluminium yang mulai berkontribusi.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya juga mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp 2.200. Penilaian ini menggunakan metode sum of the parts (SOTP), yang mengevaluasi setiap bisnis atau aset perusahaan secara terpisah. BRI Danareksa tetap optimis terhadap prospek laba MEDC berkat kinerja sektor migas dan harga minyak yang menguntungkan.

Risiko utama yang perlu diwaspadai meliputi potensi penurunan harga minyak, produksi yang lebih rendah dari perkiraan, keterlambatan proyek, kenaikan biaya operasional, serta perlambatan peningkatan kapasitas smelter AMMN dari ekspektasi.