DailyFX.ID — Di tengah kesibukan domestik menghadapi tantangan ekonomi, peta persaingan kecerdasan buatan (AI) di kawasan ASEAN justru bergerak cepat. Dinamika regional ini krusial bagi Indonesia untuk menentukan posisinya sebagai pemain kunci atau sekadar penonton di pasar sendiri.
Data kuartal kedua 2026 menunjukkan Singapura memimpin difusi AI dengan 64,3%, memanfaatkan posisinya sebagai hub data center, keuangan, dan jasa digital untuk menarik investasi besar. Vietnam, dengan 27,9% difusi AI dan strategi nasional yang jelas, menargetkan diri menjadi salah satu dari tiga pasar AI terbesar di Asia Tenggara, fokus pada perangkat lunak, manufaktur, dan jasa digital.
Malaysia (22,6%) dan Thailand (13,4%) juga gencar mendorong AI di sektor manufaktur, khususnya otomotif. Thailand bahkan bercita-cita menjadi hub AI dan semikonduktor regional, setelah menjadi salah satu eksportir terbesar dunia untuk perangkat berbasis AI.
Indonesia sendiri berada di urutan keempat dengan tingkat difusi AI 14,8%. Meskipun secara kuantitas Indonesia memiliki pengguna AI terbesar di ASEAN berkat jumlah penduduk yang masif, angka ini bisa menjadi beban jika tidak ada fokus yang jelas pada sektor produktif. Indonesia memiliki basis industri dan sumber daya yang besar, namun berisiko tertinggal jika adopsi AI di sektor prioritas tidak dipercepat.
Indonesia berpeluang menjadi pemain utama AI di ASEAN jika fokus pada klaster yang sudah kuat dan tradable. Pada sektor HS 85 (mesin elektrik), HS 87 (otomotif), serta klaster nikel/feroaloi, AI dapat menurunkan biaya produksi, meningkatkan kualitas, dan membuka akses ke pasar baterai serta kendaraan listrik (EV) yang semakin ketat standarnya. Bergerak cepat dapat mengonsolidasikan posisi Indonesia sebagai basis manufaktur hilirisasi utama di ASEAN, menarik lebih banyak investasi langsung asing (FDI) yang melengkapi ekosistem baterai dan EV regional.
Di sektor jasa digital, lonjakan ekspor produk digital dan ekonomi kreatif membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi penyedia konten, perangkat lunak, dan jasa teknologi informasi terkemuka di ASEAN. Hal ini dapat dicapai jika kerangka kerja sama data lintas batas dan perdagangan jasa digital diperkuat melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), dan Indonesia mengambil kebijakan proaktif, bukan protektif.
Namun, potensi kerugian akibat lambat bertindak juga signifikan. Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045 Indonesia belum mencakup sektor riil prioritas secara mendalam, kecuali ekonomi kreatif. Implementasinya juga cenderung terkotak-kotak tanpa koordinasi yang jelas antar-kementerian, pemerintah, swasta, dan dunia pendidikan. Padahal, AI akan optimal jika pendekatannya bersifat ekosistem, bukan sektoral.
Perhatian Indonesia di Tengah Persaingan AI ASEAN
Ada empat hal yang perlu menjadi perhatian Indonesia:
- Relokasi investasi manufaktur bernilai tambah: Investor yang mencari produktivitas tinggi, kualitas konsisten, dan ekosistem AI matang akan lebih memilih Vietnam, Malaysia, atau Thailand untuk ekspansi di sektor elektronik, otomotif, dan komponen EV.
- Erosi pangsa pasar ekspor: Kompetitor ASEAN yang lebih cepat mengadopsi AI dapat menawarkan produk dengan biaya lebih rendah, kualitas lebih baik, dan kepatuhan standar lebih kuat, sehingga merebut kontrak jangka panjang di pasar AS, Uni Eropa, dan Tiongkok.
- Terjebak di hulu rantai nilai: Tanpa transformasi berbasis AI, Indonesia berisiko tetap menjadi eksportir komoditas dan produk setengah jadi, sementara negara tetangga menangkap nilai tambah terbesar di hilir (baterai, kendaraan, perangkat elektronik canggih).
- Kehilangan momentum di sektor jasa digital: Dengan kesepakatan perdagangan digital seperti Comprehensive ASEAN Digital Trade Agreement (CADTA) dengan Tiongkok (2026) yang menghapus bea atas transmisi elektronik, perusahaan jasa digital dari Singapura, Vietnam, atau Malaysia dapat lebih mudah masuk pasar regional, sementara pemain Indonesia tertinggal dalam skala dan kapabilitas.
Secara geopolitik, ASEAN berada di posisi unik untuk melakukan hedging antara ekosistem AI AS dan Tiongkok. Manfaat ini hanya akan jatuh ke negara ASEAN yang memiliki strategi industri AI koheren, kebijakan infrastruktur mendukung, dan talenta yang terhubung dengan investor anchor. Jika Indonesia tidak segera menyelaraskan kebijakan industri, perdagangan, dan inovasi AI-nya, peta manufaktur dan jasa digital ASEAN dapat terbentuk tanpa Indonesia di posisi sentral.
Oleh karena itu, kebijakan yang perlu ditempuh Indonesia harus berani dan terarah. Pertama, fokuskan insentif dan program adopsi AI pada klaster prioritas dengan skema yang mengikat pada target peningkatan produktivitas, kualitas ekspor, dan integrasi rantai nilai global.
Kedua, perlakukan infrastruktur data center, listrik, dan konektivitas sebagai bagian dari strategi industri, bukan hanya isu teknologi. Tanpa kepastian energi dan grid yang andal, investasi AI dan manufaktur bernilai tambah akan beralih ke lokasi lain.
Ketiga, percepat harmonisasi aturan perdagangan jasa digital dan aliran data dengan sesama negara ASEAN melalui implementasi DEFA dan partisipasi aktif dalam CADTA, agar perusahaan jasa digital Indonesia dapat tumbuh dan bersaing di pasar regional.
Keempat, bangun pipa talenta AI yang terhubung dengan kebutuhan industri ekspor melalui kurikulum pelatihan vokasi dan pendidikan tinggi yang selaras dengan roadmap industri, ditunjang kemitraan “triple helix” antara pemerintah, industri, dan akademisi.
Pada akhirnya, ujian sesungguhnya adalah seberapa mampu Indonesia menjadikan teknologi AI sebagai pengungkit daya saing nyata di pasar global. AI adalah alat; perdagangan adalah medan uji. Jika Indonesia gagal memanfaatkan AI untuk memperkuat ekspor dan jasa tradable-nya, kita tidak hanya kehilangan peluang naik kelas, tetapi juga membiarkan tetangga menulis ulang peta industri ASEAN tanpa nama kita di halaman utama.
Sejarah tidak akan mengingat kita karena cadangan nikel, CPO, atau batu bara yang besar, melainkan karena keberanian mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Saatnya memilih: menjadi arsitek masa depan ekonomi regional, atau sekadar penonton yang terkejut ketika kapal telah berlayar tanpa kita.
Ikuti DailyFX.ID
