— Rencana ekspansi dan investasi Nvidia senilai Rp 80,5 triliun di Batam berpotensi menjadi momentum penting bagi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO). Ketiga emiten ini sebelumnya telah mengembangkan proyek energi terbarukan di klaster Batam-Bintan.

Menurut Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, posisi proyek energi hijau yang telah dikembangkan oleh ADRO, MEDC, dan ARKO menjadi sangat relevan. Hal ini disebabkan oleh Batam yang menawarkan kombinasi memadai antara ketersediaan lahan, pasokan listrik, energi hijau, dan air, yang semuanya merupakan kebutuhan krusial bagi investasi pusat data (data center).

Keunggulan Batam lainnya meliputi kedekatan geografis dengan Singapura, keberadaan jaringan kabel bawah laut, serta ruang ekspansi yang masih luas. Faktor-faktor ini sangat mendukung konektivitas regional, baik untuk pasar maupun pusat data di Asia Tenggara.

“Kebutuhan energi hijau merupakan salah satu faktor penting bagi operator data center skala global atau hyperscaler. Hal ini berkaitan erat dengan komitmen net zero yang mendorong kebutuhan terhadap pasokan listrik rendah emisi yang dapat diverifikasi,” jelas Jason di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

MEDC, melalui konsorsium Pacific Medco Solar Energy, telah mengoperasikan proyek Bulan Solar PV di Batam dengan kapasitas sekitar 2 gigawatt peak (GWp). Proyek ini merupakan salah satu proyek tenaga surya berkapasitas besar di kawasan tersebut.

ADRO, melalui Adaro Solar International, juga telah memperoleh alokasi kapasitas ekspor dan tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) beserta sistem penyimpanan baterai di klaster Batam-Bintan.

Sementara itu, ARKO melalui anak usaha tidak langsungnya, Endorshine Energy Solutions, telah mendapatkan pembiayaan untuk proyek PLTS yang sudah beroperasi secara komersial di kawasan yang sama.

Jason menambahkan bahwa keberadaan proyek-proyek energi hijau ini menunjukkan bahwa infrastruktur energi hijau di Batam mulai terbentuk bahkan sebelum rencana investasi Nvidia terealisasi. “Momentum Nvidia di Batam menjadi konfirmasi tambahan bahwa investasi lokasi yang dilakukan ADRO, MEDC, dan ARKO selama ini bukan taruhan buta,” ujarnya.

Meskipun demikian, rencana Nvidia di Batam masih belum mencapai kesepakatan definitif dan jadwal investasi yang jelas. Struktur investasi, termasuk potensi kemitraan dengan operator energi lokal, juga masih perlu ditunggu perkembangannya.

Investor juga perlu mencermati kepastian kontrak pasokan listrik dengan offtaker untuk proyek ekspor listrik ke Singapura. Faktor ini tetap menjadi variabel tersendiri di luar potensi keterlibatan ADRO, MEDC, dan ARKO dalam ekosistem data center domestik.