DailyFX.ID — JAKARTA – Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Namun, investasi pada teknologi AI tidak serta-merta menjamin perusahaan meraih keuntungan finansial atau efisiensi biaya operasional.
Sebuah survei dari PwC menunjukkan bahwa baru sekitar 10% CEO di Indonesia yang berhasil memanfaatkan AI untuk meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya secara bersamaan. Mayoritas perusahaan dilaporkan baru berhasil mencapai salah satu dari kedua manfaat tersebut, baik kenaikan pendapatan maupun efisiensi biaya.
Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, menjelaskan bahwa keberhasilan investasi AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan model yang digunakan. Faktor penentu utama meliputi kesiapan fondasi teknologi informasi (TI), kualitas data yang dikelola, tata kelola yang baik, serta kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pemilihan use case yang benar-benar memberikan manfaat, mengingat implementasi AI memerlukan investasi infrastruktur dan sumber daya yang signifikan.
Hanief Bastian menjelaskan bahwa AI tidak secara otomatis menghasilkan profit. Tantangan utamanya adalah bagaimana perusahaan dapat mengubah investasi AI menjadi outcome bisnis yang terukur, bukan sekadar menambah biaya operasional, seperti biaya langganan layanan AI.
“Dari sisi manajemen, yang terpenting adalah bagaimana AI memberikan return on investment atau ROI. Namun, manfaat AI tidak selalu harus diukur langsung dalam bentuk uang. Ada beberapa metrik yang bisa menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah memberikan pengaruh positif terhadap bisnis,” ujarnya.
Ia mencontohkan peningkatan produktivitas sebagai salah satu metrik. Peningkatan produktivitas pada akhirnya dapat diterjemahkan menjadi nilai finansial. Selain itu, kepuasan pelanggan juga menjadi indikator penting. Contohnya, penggunaan virtual chatbot berbasis AI untuk layanan pelanggan dapat diukur dampaknya terhadap peningkatan kepuasan atau percepatan layanan.
AI juga dinilai mampu memperpendek alur proses kerja. Jika sebelumnya suatu pekerjaan membutuhkan sepuluh tahapan, dengan teknologi AI, proses tersebut bisa dipersingkat menjadi tujuh atau delapan tahapan. Pengolahan data yang lebih cepat memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data menjadi lebih sigap.
Mengenai data PwC yang menunjukkan hanya 10% CEO di Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya melalui AI, Hanief Bastian mengidentifikasi kelompok tersebut sebagai perusahaan yang menjadikan AI sebagai mesin margin dua arah. Mereka tidak hanya menggunakannya untuk menekan biaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan pendapatan.
“Sebagian besar perusahaan kemungkinan baru menyentuh satu sisi, terutama efisiensi biaya, karena itu relatif lebih mudah diperoleh pada tahap awal,” katanya.
Menurutnya, pembeda utama bukanlah AI itu sendiri, melainkan kualitas data, tata kelola AI, dan kemampuan organisasi dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis. “Kalau fondasinya kuat, organisasi akan lebih mudah mengembangkan penggunaan AI, bukan hanya untuk otomatisasi tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan bisnis,” imbuh Hanief.
Ia menegaskan bahwa fondasi TI sangat krusial dalam menentukan keberhasilan investasi AI. Kuncinya bukan semata-mata memiliki model AI yang canggih, tetapi juga kemampuan organisasi memiliki visibilitas end-to-end, keamanan yang kuat, serta tata kelola data yang memadai. Fondasi TI yang kokoh akan memudahkan perusahaan mengukur ROI dari AI dan mengoptimalkan penerapannya.
“Karena itu, organisasi perlu melihat terlebih dahulu apakah secara teknologi sudah siap, prosesnya siap, dan orang-orang di dalam organisasi juga siap menerima teknologi baru,” tegasnya.
Hanief Bastian menyoroti bahwa kesalahan paling umum perusahaan saat mengadopsi AI adalah tidak melakukan asesmen yang memadai. Tidak semua use case cocok menggunakan AI. Organisasi harus memastikan use case tersebut memang tepat diterapkan dengan AI dan mampu memberikan nilai tambah.
“Fondasinya harus diperiksa. Apakah use case-nya tersedia? Apakah teknologinya siap? Apakah prosesnya siap? Apakah sumber daya manusianya siap? Kalau itu belum dipersiapkan, implementasi AI bisa saja hanya menambah biaya tanpa memberikan manfaat yang berarti,” paparnya.
Mengenai investasi infrastruktur yang besar untuk AI, Hanief menyarankan perusahaan untuk memilih use case yang memberikan dampak signifikan bagi bisnis. AI membutuhkan kapasitas komputasi tinggi, termasuk server dengan spesifikasi mumpuni, sehingga ada biaya yang harus dikeluarkan.
“Perusahaan harus melihat apakah implementasinya memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Kalau teknologi hanya digunakan karena sedang menjadi tren, tetapi tidak ada nilai bisnis yang jelas, itu tentu perlu dievaluasi,” katanya.
Untuk mengukur ROI AI, Hanief Bastian menyarankan agar tidak hanya berpatokan pada besaran investasi. Metrik lain yang bisa digunakan meliputi time-to-value (kecepatan AI menghasilkan manfaat), penghematan biaya, peningkatan produktivitas, serta potensi kerugian yang berhasil dicegah.
Dalam konteks keamanan siber, misalnya, AI dapat mempercepat deteksi dan respons insiden. Penanganan insiden yang lebih cepat berpotensi menekan kerugian akibat downtime atau biaya pemulihan. “Jadi, manfaat AI perlu dilihat secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Menanggapi anggapan bahwa AI justru menambah biaya dan menghambat inovasi, Hanief justru berpandangan sebaliknya. “Saya justru melihat AI tidak menghambat inovasi. Dengan AI, imajinasi kita bisa berkembang lebih luas. Kita dapat menggunakan AI untuk mendapatkan ide baru mengenai bagaimana meningkatkan bisnis,” katanya.
Ia kembali menekankan bahwa persoalannya terletak pada use case dan bagaimana organisasi mengelolanya. “Kalau penerapannya tepat, AI justru dapat membantu perusahaan mempercepat inovasi,” tuturnya.
Terkait rencana ekspansi CEO Indonesia ke luar industri utama mereka, Hanief Bastian menyatakan kesiapan TI sangat penting. Ekspansi tidak hanya menambah peluang, tetapi juga kompleksitas operasional, integrasi sistem, dan risiko siber. Jika bisnis ingin melakukan scale up, infrastrukturnya juga harus ikut ditingkatkan.
“Tentunya ada biaya di sana. Namun, semakin besar organisasi, kompleksitasnya juga semakin tinggi. Karena itu, perusahaan tetap membutuhkan fondasi infrastruktur yang kuat agar mampu menunjang kebutuhan bisnis,” jelasnya.
Infrastruktur TI yang memberikan visibilitas lintas sistem dapat mempercepat integrasi dan mengurangi risiko saat ekspansi. “Return dari ekspansi tidak hanya ditentukan strategi bisnis, tetapi juga kesiapan fondasi TI,” tambahnya.
Mengenai kesenjangan talenta digital, Hanief menilai teknologi dapat membantu perusahaan tetap produktif dengan SDM terbatas. Tantangannya bukan hanya jumlah SDM, tetapi kompleksitas TI yang terus meningkat, mencakup pengelolaan sistem on-premise, cloud, lingkungan hibrida, hingga banyaknya endpoint.
Jika data operasional, layanan TI, dan keamanan tersebar di berbagai sistem yang tidak terhubung, tenaga ahli akan menghabiskan waktu untuk mencari konteks. Otomatisasi dan platform terpadu berperan penting dalam situasi ini. Pekerjaan repetitif dapat diotomatisasi, memungkinkan tim menghasilkan output lebih tinggi dengan sumber daya yang sama. Tenaga ahli pun dapat fokus pada analisis, pengambilan keputusan, dan mitigasi risiko.
Dalam satu hingga dua tahun ke depan, Hanief Bastian menyarankan perusahaan untuk memprioritaskan pengelolaan teknologi yang sudah ada secara lebih cerdas agar belanja teknologi benar-benar menghasilkan nilai bagi bisnis. Perusahaan perlu membangun visibilitas yang baik, memperkuat cyber resilience, dan memastikan AI digunakan dengan tata kelola yang tepat.
“Kalau ketiganya dilakukan, perusahaan akan lebih siap memperoleh nilai bisnis yang berkelanjutan dari investasi teknologi,” pungkasnya.
Ikuti DailyFX.ID
