— Lonjakan permintaan perjalanan akibat gerhana matahari total yang melintasi Eropa pada 12 Agustus 2026 diprediksi akan mendongkrak tarif akomodasi secara signifikan, terutama di Islandia dan Spanyol utara. Data dari Lighthouse Intelligence menunjukkan potensi kenaikan harga hotel dan sewa jangka pendek hingga melampaui US$1.000 per malam di kota-kota yang berada tepat di jalur totalitas.

Di Reykjavik, Islandia, tarif hotel rata-rata pada pekan gerhana diperkirakan mencapai US$1.012 per malam, melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, tarif sewa jangka pendek diproyeksikan mencapai US$1.172 per malam, menandai peningkatan sebesar 178% dari tahun lalu.

Fenomena serupa diperkirakan terjadi di Bilbao, Spanyol, di mana tarif sewa jangka pendek bisa mencapai US$1.088 per malam, naik 206%. Harga kamar hotel di Bilbao diprediksi naik 35% menjadi sekitar US$315 per malam. Destinasi lain seperti Santiago de Compostela, yang berada sedikit di luar jalur totalitas, menawarkan tarif yang relatif lebih terjangkau, dengan perkiraan harga hotel sekitar US$193 per malam atau naik 13%.

Jonathan Gough, pimpinan tim pemasaran konten Lighthouse Intelligence, menjelaskan bahwa pelaku industri perhotelan cenderung menguji batas harga yang dapat diterima pasar saat menghadapi lonjakan permintaan akibat peristiwa langka. Pola ini mirip dengan yang terjadi saat ajang besar seperti Piala Dunia FIFA atau konser musik ternama.

Namun, harga yang meroket ini tidak selalu bertahan hingga hari-H. Data terbaru menunjukkan adanya penurunan tarif hotel termurah yang tersedia untuk tanggal 12 Agustus di Reykjavik dan kawasan ibu kota Islandia, masing-masing turun 46% dan 51% dibandingkan pertengahan Mei. Pada 10 Agustus, tarif terendah terpantau berada di kisaran US$805 hingga US$793 per malam, mengindikasikan adanya strategi diskon menjelang gerhana.

Gough menambahkan bahwa strategi penetapan harga bervariasi antar pasar. Hotel di Islandia diketahui memasang tarif spekulatif yang sangat tinggi, bahkan mencapai tiga hingga empat kali lipat harga normal lebih dari setahun sebelum gerhana, namun secara bertahap menurunkannya dalam tiga bulan terakhir. Sebaliknya, hotel di utara Spanyol cenderung mempertahankan tarif normal hingga musim semi, baru kemudian menaikkan harga seiring meningkatnya tingkat pemesanan.

“Permintaan pada hari gerhana benar-benar luar biasa. A Coruña mencatat permintaan lebih dari lima kali lipat dibandingkan tingkat normal,” ujar Gough, menekankan bahwa harga menjadi faktor penentu akses wisatawan ke akomodasi, terutama di kota dengan keterbatasan kamar.

Sewa Jangka Pendek Juga Terdampak

Lonjakan permintaan juga melanda sektor akomodasi sewa jangka pendek. Data AirDNA mengungkapkan mayoritas unit sewa di Islandia dan beberapa wilayah Spanyol berada di jalur gerhana. Sekitar 64% dari 9.000 unit sewa di Islandia dan 21% dari 365.400 unit di Spanyol berada di jalur totalitas.

Di Islandia, permintaan sewa di wilayah jalur gerhana naik 40% dibandingkan tahun sebelumnya, jauh melampaui kenaikan 13,2% di wilayah lain. Sementara di Spanyol, permintaan untuk malam 11-12 Agustus di jalur gerhana hanya turun 1,6% secara tahunan, angka yang lebih baik dibandingkan pelemahan 9,1% di wilayah lain.

Gough menilai gerhana memberikan dorongan kuat bagi pariwisata, namun dampaknya cenderung terkonsentrasi dalam beberapa hari saja dan belum cukup besar untuk mengubah kinerja satu musim penuh industri perhotelan. Ia menambahkan bahwa gelombang panas dan cuaca ekstrem justru berpotensi memberikan pengaruh lebih panjang terhadap pola perjalanan masyarakat Eropa.

“Peristiwa seperti gerhana dapat memenuhi kamar selama satu atau dua malam. Namun, perubahan preferensi liburan musim panas akibat kondisi iklim akan menjadi tren yang bertahan jauh lebih lama,” pungkasnya.