— Militer Korea Utara (Korut) kembali melancarkan uji coba rudal balistik ke arah perairan di lepas pantai timurnya pada Rabu (12/8/2026). Tindakan ini merupakan protes keras Korut terhadap rencana latihan militer gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS), yang merupakan uji coba senjata balistik kedua dalam waktu kurang dari sepekan.

Menurut Kepala Staf Gabungan Korsel, rudal tersebut diluncurkan dari wilayah pesisir timur Wonsan sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Rudal balistik itu dilaporkan terbang sejauh lebih dari 700 kilometer (km). Militer Korsel menegaskan bahwa mereka dan militer AS tetap dalam posisi siaga penuh untuk menghadapi segala bentuk provokasi.

Dewan Keamanan Nasional Kepresidenan Korsel mengeluarkan pernyataan resmi yang mendesak Korut untuk segera menghentikan peluncuran rudal balistik. Otoritas Korsel menilai tindakan tersebut sebagai aksi provokasi yang melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB.

Kementerian Pertahanan Jepang turut mengonfirmasi peluncuran yang diduga kuat merupakan rudal balistik. Namun, pihak Jepang mengindikasikan bahwa proyektil tersebut tidak memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang dan jatuh jauh dari wilayah pesisir mereka.

Uji coba senjata ini terjadi hanya dua hari setelah Korsel dan AS mengumumkan rencana pelaksanaan latihan militer tahunan berskala besar, Ulchi Freedom Shield. Latihan ini dijadwalkan dimulai pada 17 Agustus 2026 dan bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman dari Korut.

Korut secara konsisten merespons latihan militer gabungan tersebut dengan retorika keras dan demonstrasi kekuatan militer, karena menganggapnya sebagai simulasi invasi. Sebaliknya, AS dan Korsel berulang kali menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif.

Pada pelaksanaan tahun lalu, Pemimpin Korut Kim Jong Un menyatakan bahwa latihan tersebut menunjukkan niat untuk memicu perang dari pihak AS dan Korsel. Ia juga menegaskan akan membalasnya dengan langkah-langkah penangkalan yang proaktif.

Sebelum insiden ini, peluncuran rudal balistik jarak pendek juga terdeteksi pada 6 Agustus 2026. Insiden tersebut menjadi uji coba senjata balistik pertama Korut sejak akhir Juni 2026.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un terus memperkuat posisi diplomatiknya dengan mempererat kerja sama bersama Rusia. Ini termasuk menyokong pasukan dan amunisi untuk perang di Ukraina, serta memperkokoh hubungan dengan sekutu tradisionalnya, China.

Ketegangan di Semenanjung Korea terus memuncak sejak intensitas program nuklir dan rudal balistik Korut meningkat, terutama pasca-kegagalan diplomasi tingkat tinggi antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump pada 2019. Sejak saat itu, otoritas Korut gencar meningkatkan persenjataannya sebagai posisi tawar untuk mengikis sanksi ekonomi internasional.

Sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang secara eksplisit melarang peluncuran rudal balistik oleh Korut berulang kali diabaikan. Situasi geopolitik kian kompleks seiring dengan terbentuknya blok aliansi baru di wilayah tersebut, di mana Korut kian solid bersekutu dengan Rusia dan China di tengah berlanjutnya latihan militer bersama antara Korsel dan AS.