— JAKARTA – AirAsia Group Berhad terus berfokus mengoptimalkan kinerjanya di tengah turbulensi industri penerbangan global yang ditandai lonjakan biaya avtur akibat dampak geopolitik. Maskapai berbiaya hemat ini berhasil mengompensasi sekitar 70% dari kenaikan harga bahan bakar melalui penyesuaian tarif pada kuartal kedua 2026, serta pengendalian biaya operasional non-bahan bakar.

Selain itu, AirAsia juga mengambil langkah strategis dengan mengurangi kapasitas sebesar 20–25% pada kuartal ketiga, yang secara tradisional merupakan periode perjalanan yang lebih rendah. Group CEO AirAsia Group, Bo Lingam, menyatakan bahwa selama 25 tahun perjalanannya, AirAsia telah menghadapi berbagai krisis, dengan pandemi Covid-19 menjadi tantangan terberat. Namun, kondisi saat ini berbeda karena masyarakat masih dapat bepergian.

“Oleh karena itu, kami menerapkan pendekatan yang disiplin dalam mengelola bisnis, termasuk menyesuaikan kapasitas, mengendalikan biaya, berdiskusi secara aktif dengan para pemangku kepentingan, dan memperkuat ketahanan bisnis. Di tengah berbagai spekulasi yang beredar di media, komitmen kami terhadap keberlangsungan bisnis dan pelayanan kepada penumpang tetap tidak berubah,” ungkap Bo Lingam dalam keterangan resmi, Sabtu (19/9/2026).

Memasuki kuartal keempat 2026, AirAsia tengah mempersiapkan peningkatan kembali kapasitas menuju tingkat sebelum gejolak geopolitik, sejalan dengan periode puncak perjalanan akhir tahun. Maskapai juga berupaya mengoptimalkan armadanya menuju komposisi pesawat yang lebih efisien. Salah satu langkahnya adalah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua dan kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar dengan ketentuan komersial yang menguntungkan.

Langkah ini, menurut Bo Lingam, membantu mengurangi beban sewa tetap sekaligus mempercepat transisi menuju pesawat narrowbody yang lebih efisien. Terkait kebutuhan permodalan dan pendanaan, Bo Lingam menegaskan komitmen AirAsia Group untuk menjaga transparansi. Perkembangan material akan diungkapkan melalui keterbukaan informasi bursa dan pengumuman resmi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, rencana penggalangan dana AirAsia terutama ditujukan untuk restrukturisasi utang, penataan kembali pembiayaan, dan konsolidasi neraca guna mengoptimalkan struktur permodalan jangka panjang, bukan semata-mata untuk membiayai kebutuhan operasional. Grup terus mengelola posisi permodalannya secara aktif dan mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk menjaga ketahanan operasional dan keuangan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pembaruan resmi akan disampaikan apabila ketentuan final telah ditetapkan. Sementara itu, para pemangku kepentingan dan pelaku pasar diimbau untuk mengacu hanya pada keterbukaan informasi resmi serta menghindari spekulasi yang belum terverifikasi.

“AirAsia selalu menjadi maskapai yang mampu beradaptasi, melakukan penyesuaian, dan menemukan jalan untuk terus maju, dan kami memiliki rekam jejak yang membuktikan hal tersebut. Kami tetap fokus menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas operasional melalui komunikasi serta kerja sama yang berkelanjutan dengan para mitra utama,” tambah Bo Lingam.

Dengan tetap disiplin dan bekerja sama di seluruh ekosistem penerbangan, AirAsia memperkuat ketahanan bisnis sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang ke depan. “Secara keseluruhan, kami menghadapi berbagai tantangan industri dari posisi yang kuat, dengan menjalankan rencana yang jelas dan strategis untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Kami optimistis terhadap prospek kuartal keempat sebagai periode puncak perjalanan dan tetap yakin terhadap potensi AirAsia dalam jangka panjang,” tutupnya.