— Proyek Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite (Sorlim) PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan selesai pada tahun 2027. Proyek strategis senilai US$2,1 miliar ini akan mengolah bijih nikel limonite berkadar rendah menjadi produk bernilai tambah tinggi melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi nikel, tetapi juga mendukung ekosistem kendaraan listrik (EV) global.

Nikel limonite, yang sebelumnya sering diabaikan sebagai limbah tambang, akan diubah menjadi material penting dalam pembuatan baterai EV. Proyek kerja sama antara PT Vale dan Huayou Cobalt di Sorowako, Sulawesi Selatan, ini akan menghasilkan 60 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun dari pengolahan 11,5 juta ton bijih limonite. MHP merupakan bahan baku utama untuk produksi nikel sulfat dan kobalt sulfat, komponen krusial dalam baterai EV.

Direktur Utama PT Vale, Bernardus Irmanto, menyatakan bahwa IGP Sorowako Limonite, bersama dengan IGP Morowali dan IGP Pomalaa, menjadi elemen penting dalam transformasi bisnis perseroan. “Seluruh proyek strategis tersebut dijalankan dengan prinsip kehati-hatian finansial, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap keberlanjutan jangka panjang,” ujar Bernardus dalam acara Public Expose Live 2026.

Bernardus menambahkan, penerapan praktik keberlanjutan dilakukan sesuai standar global. Perseroan juga mengedepankan pendekatan ‘optimize and de-risk’ dengan pemilihan teknologi yang tepat dan pengelolaan risiko yang disiplin. Teknologi HPAL yang digunakan dalam IGP Sorowako dipilih karena efisien dari sisi energi, yang akan dipenuhi dari tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik perseroan, sejalan dengan strategi pengurangan intensitas karbon dan transisi energi bersih.

Director & Chief Project Officer Vale Indonesia, Muhammad Asril, melaporkan progres signifikan pada proyek ini. Pekerjaan tambang telah mencapai 50%, dengan target operasi pada kuartal IV-2026. Sementara itu, pembangunan pabrik HPAL telah mencapai 19% dan ditargetkan mencapai ‘mechanical completion’ pada kuartal II-2027, sesuai jadwal yang ditetapkan.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, melihat proyek Sorlim memiliki momentum emas saat beroperasi tahun 2027. Kebijakan Pemerintah yang akan memangkas kuota BBM bersubsidi dan mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik akan menciptakan permintaan baru terhadap bahan baku baterai. “Tahun 2027 menjadi momentum strategis bagi Vale. Ini bisa jadi peluang emas, karena proyek hilirisasinya akan beroperasi bersamaan dengan kebijakan Pemerintah yang mendorong pengurangan konsumsi BBM dan percepatan kendaraan listrik. Tentu ini menciptakan permintaan baru terhadap bahan baku baterai,” kata Bisman.

Bisman menambahkan, hilirisasi ini akan menempatkan Vale pada posisi yang lebih strategis dalam rantai pasok nikel global. Dengan masuk ke tahap pengolahan menjadi bahan baku industri baterai, Vale akan memperoleh nilai tambah yang lebih besar, memperluas pasar, dan memperkuat posisinya dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Selain fokus pada operasional, PT Vale Indonesia juga berkomitmen pada prinsip ‘Good Mining Practices’ (GMP) dan program sosial berkelanjutan. Proyek IGP Sorlim melibatkan kontraktor lokal dengan 90% tenaga kerja berasal dari Luwu Timur. Perseroan juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, seperti Program Pengembangan Desa melalui Pendayagunaan Lahan yang Tangguh & Alami (Pondata) untuk petani nanas, serta Program Restorasi dan Konservasi Kawasan Pesisir dan Hasil Olahan Laut di Kecamatan Malili.

Inisiatif sosial dan lingkungan ini bahkan mendapat pengakuan internasional. PT Vale berhasil meraih dua Gold Awards pada ajang Innovation and Technology for Social and Environmental Sustainability (InTechSEA) Awards 2026 untuk Kategori Corporate Social Responsibility (CSR) & Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Pangan (Program PONDATA) dan Bidang Kemaritiman (Restorasi Kawasan Pesisir Malili).

Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation and Infrastructure Officer PT Vale, Abu Ashar, menyatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas upaya perseroan menciptakan nilai lebih luas bagi masyarakat. “Bagi PT Vale, keberhasilan sebuah program tidak berhenti pada pelaksanaannya, tetapi ditentukan oleh sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan kemandirian, dan menghasilkan manfaat yang dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar Abu.

Direktur dan Chief Human Capital Officer PT Vale, Heriyanto Agung Putra, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk mencapai dampak sosial yang berkelanjutan. “Program pemberdayaan yang kuat lahir ketika masyarakat ditempatkan sebagai bagian utama dari proses, bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Karena itu, kami terus mendorong pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pengetahuan masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai mitra untuk menciptakan solusi yang relevan dan berkelanjutan,” tutur Heriyanto.