— JAKARTA – AirAsia Group Berhad kembali menegaskan komitmennya untuk menjalankan bisnis secara fokus dan terukur dalam menghadapi kondisi industri penerbangan saat ini yang penuh tantangan. Industri penerbangan global masih bergulat dengan ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga bahan bakar, tekanan biaya, serta perubahan dinamika pasar yang dihadapi secara luas.

Dengan model bisnis berbiaya rendah yang terbukti tangguh, optimalisasi harga yang strategis, dan pertumbuhan pendapatan dari layanan tambahan, AirAsia terus memperkuat kapabilitas bisnisnya. Langkah ini bertujuan untuk menghadapi tekanan industri sekaligus menjaga fokus pada pertumbuhan jangka panjang.

Group CEO AirAsia Group, Bo Lingam, menyatakan bahwa selama 25 tahun perjalanannya, AirAsia telah melewati berbagai krisis, dengan pandemi Covid-19 menjadi yang terberat. Namun, kondisi saat ini berbeda karena masyarakat masih dapat bepergian dan aktivitas perjalanan tetap berlangsung.

“Oleh karena itu, kami menerapkan pendekatan yang disiplin dalam mengelola bisnis, termasuk menyesuaikan kapasitas, mengendalikan biaya, berdiskusi secara aktif dengan para pemangku kepentingan, dan memperkuat ketahanan bisnis. Di tengah berbagai spekulasi yang beredar di media, komitmen kami terhadap keberlangsungan bisnis dan pelayanan kepada penumpang tetap tidak berubah,” papar Bo Lingam dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).

Pada kuartal kedua, AirAsia berhasil mengompensasi sekitar 70% dari kenaikan harga bahan bakar melalui penyesuaian tarif dinamis dan pengendalian biaya operasional non-bahan bakar. Grup juga secara taktis mengurangi kapasitas sebesar 20–25% pada kuartal ketiga, yang secara tradisional merupakan periode perjalanan yang lebih rendah di kawasan ini.

Memasuki kuartal keempat, AirAsia mempersiapkan peningkatan kembali kapasitas menuju tingkat sebelum perang, sejalan dengan periode puncak perjalanan akhir tahun di kawasan. Perusahaan juga terus mengoptimalkan armadanya menuju komposisi pesawat yang lebih efisien. Sebagai bagian dari program optimalisasi armada jangka panjang, Grup telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua dan kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar dengan ketentuan komersial yang menguntungkan.

Langkah ini membantu mengurangi beban sewa tetap sekaligus mempercepat transisi menuju pesawat narrowbody yang lebih efisien. Dengan operasional penerbangan jarak pendek dan jarak jauh kini berada dalam satu Grup, AirAsia memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengoptimalkan penggunaan armada dan kapasitas di seluruh jaringan, dengan fokus yang lebih kuat pada profitabilitas rute dan tingkat pengembalian yang berkelanjutan.

Terkait kebutuhan permodalan dan pendanaan, Grup senantiasa menjaga transparansi melalui keterbukaan informasi bursa dan pengumuman resmi sesuai ketentuan. Rencana penggalangan dana AirAsia terutama ditujukan untuk restrukturisasi utang, penataan kembali pembiayaan, dan konsolidasi neraca guna mengoptimalkan struktur permodalan jangka panjang, bukan semata-mata untuk membiayai kebutuhan operasional. Grup terus mengelola posisi permodalannya secara aktif dan mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk menjaga ketahanan operasional dan keuangan.

Bo Lingam menambahkan bahwa AirAsia selalu menjadi maskapai yang mampu beradaptasi, melakukan penyesuaian, dan menemukan jalan untuk terus maju. “Kami tetap fokus menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas operasional melalui komunikasi serta kerja sama yang berkelanjutan dengan para mitra utama. Dengan tetap disiplin dan bekerja sama di seluruh ekosistem penerbangan, kami memperkuat ketahanan bisnis sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang ke depan,” ujarnya.

Kekuatan jaringan AirAsia tercermin dari pengakuan terbaru terhadap Kuala Lumpur International Airport (KUL) sebagai megahub internasional dengan konektivitas terbaik keempat di dunia sekaligus megahub low-cost nomor satu, posisi yang telah dipertahankan sejak 2023. AirAsia menjadi maskapai utama yang mendukung konektivitas tersebut.

“Secara keseluruhan, kami menghadapi berbagai tantangan industri dari posisi yang kuat, dengan menjalankan rencana yang jelas dan strategis untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Kami optimistis terhadap prospek kuartal keempat sebagai periode puncak perjalanan dan tetap yakin terhadap potensi AirAsia dalam jangka panjang. Fokus kami adalah pada fundamental bisnis dan kami tidak akan teralihkan oleh spekulasi yang tidak berdasar dari sumber anonim,” pungkasnya.

Kisah kelahiran AirAsia, bagian penerbangan dari Capital A, dimulai pada tahun 2001 ketika Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun membeli maskapai penerbangan yang sedang kesulitan dengan hanya dua pesawat dan 200 staf. Mereka kemudian berhasil menjadikannya maskapai penerbangan terbesar keempat di Asia, dengan lebih dari 200 pesawat dan 21.000 staf yang tersebar di berbagai negara. Dengan mengedepankan keterjangkauan, inklusivitas, dan aksesibilitas sebagai dasar operasinya, AirAsia telah menerbangkan lebih dari 800 juta penumpang ke lebih dari 130 destinasi dalam jaringannya.