DailyFX.ID — JAKARTA – PT Aman Agrindo Tbk (GULA) berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Aksi korporasi ini bertujuan untuk mendanai rencana ekspansi perseroan ke depan.
Direktur Utama GULA, Andreas Utomo, menjelaskan bahwa rights issue akan dilaksanakan setelah perseroan menyelesaikan akuisisi pabrik. “Jadi, kami memang akan melakukan (rights issue) ketika kami sudah melakukan akuisisi (pabrik),” ujarnya pada Sabtu (8/8/2026).
Tahun ini, GULA menargetkan akuisisi pabrik gula merah di Sragen, Jawa Tengah. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi, serta meningkatkan penjualan dan laba. Pabrik tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026 dan diperkirakan dapat menambah pendapatan dan laba sekitar 35-40%, atau setara Rp175 miliar, dengan EBITDA sebesar Rp50 miliar per tahun.
Dengan akuisisi ini, GULA memproyeksikan total penjualan sepanjang tahun buku 2026 mencapai Rp336 miliar dan laba bersih sebesar Rp36 miliar. Perseroan memfokuskan diri pada penuntasan akuisisi pabrik gula merah Sragen sebagai strategi utama untuk memperbesar margin.
Setelah pabrik gula merah Sragen beroperasi, Andreas memperkirakan sektor manufaktur gula akan berkontribusi sebesar 25% terhadap pendapatan perseroan. Saat ini, struktur pendapatan GULA 100% berasal dari hasil trading, bukan dari manufacturing gula.
Ke depan, GULA berencana memperkuat sektor manufaktur dengan melanjutkan akuisisi pabrik gula lainnya, termasuk pabrik gula putih. Pertambahan kapasitas produksi ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sektor manufaktur secara berkelanjutan.
GULA telah merealisasikan penanaman tebu seluas 83 hektare dari total izin lahan 15 ribu hektare yang dimiliki. Selanjutnya, perseroan akan melakukan produksi giling tebu sebanyak 500 ton per hari. Perkebunan tebu perseroan ditargetkan mencapai 1.250 hektare, dengan potensi pengembangan lebih lanjut hingga izin awal 15 ribu hektare jika lahan masih tersedia.
Modal Menjadi Tantangan
Andreas mengakui bahwa permodalan menjadi salah satu tantangan di tengah aksi ekspansif perseroan. Setelah mengakuisisi pabrik gula merah Sragen menggunakan modal internal, GULA memerlukan modal eksternal melalui skema rights issue untuk mendukung akuisisi pabrik berikutnya.
Keseimbangan struktur modal antara internal dan eksternal dianggap krusial, mengingat pengembangan industri gula sangat padat modal. GULA terbuka untuk menjajaki investor atau mitra strategis guna mendukung pengembangan usaha.
Industri gula dinilai menjanjikan seiring dengan peningkatan konsumsi dan pertambahan penduduk. Selain itu, potensi gula sebagai bahan campuran bensin menjadi bioetanol diprediksi akan mendongkrak permintaan secara signifikan. Perseroan juga berencana untuk memproduksi etanol di masa mendatang.
“Jadi, kami pasti mengupayakan untuk mencari investor atau perusahaan lain yang memiliki kekuatan modal lebih besar. Berdasarkan hitungan kami, break even point (BEP) pabrik gula itu tidak begitu lama sekitar 4-5 tahun,” pungkas Andreas.
Ikuti DailyFX.ID
