— JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memberikan penjelasan mendalam terkait rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026 yang diselenggarakan pada 5 Agustus 2026.

Dalam laporan pelaksanaan pemaparan kinerja, manajemen GIAA menjawab berbagai pertanyaan dari para pemangku kepentingan. Salah satu isu utama yang dibahas adalah perkembangan rencana konsolidasi antara Garuda Indonesia Group, yang merupakan maskapai berstatus BUMN, dengan Pelita Air, yang merupakan entitas usaha PT Pertamina.

Manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa rencana konsolidasi tersebut saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan. Proses ini melibatkan pemegang saham serta para pihak terkait lainnya, sesuai dengan kewenangan masing-masing institusi.

“Kajian tersebut masih bersifat menyeluruh dan mencakup berbagai aspek strategis, dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional sekaligus keberlanjutan agenda transformasi perseroan,” jelas manajemen GIAA dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (10/8/2026).

Hingga kini, manajemen Garuda menegaskan belum ada keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut. Perseroan memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional, pelayanan kepada pelanggan, dan agenda transformasi tetap berjalan seperti biasa, tanpa ada perubahan pada rencana penerbangan maupun komitmen layanan.

“Setiap perkembangan yang bersifat material akan disampaikan oleh perseroan sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku. Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk merujuk pada informasi resmi yang disampaikan perseroan melalui kanal keterbukaan informasi,” terang manajemen Garuda Indonesia.

Ke depannya, manajemen GIAA menyatakan fokus utama perseroan adalah mendorong perbaikan kinerja operasional yang secara bertahap akan terkonversi menjadi perbaikan kinerja keuangan. Hal ini akan dicapai melalui peningkatan pendapatan, optimalisasi jaringan dan kapasitas, peningkatan produktivitas armada, efisiensi biaya, serta penguatan disiplin finansial secara berkelanjutan.

Secara terpisah, saham GIAA menunjukkan lonjakan signifikan pada sesi I perdagangan Senin. Sekitar pukul 10.54 WIB, saham GIAA dilaporkan terbang 33,33% hingga mencapai batas auto reject atas (ARA) di level Rp 72. Sebanyak 534,47 juta saham Garuda telah diperdagangkan dengan frekuensi 11.934 kali, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 35,5 miliar.