— JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi rentan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan. Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor yang berpotensi membebani mata uang Garuda.

Pada penutupan perdagangan Jumat sore (11/9/2026), rupiah tercatat melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp 17.611 per dolar AS. Posisi ini merosot dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.547 per dolar AS.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah dapat menyentuh kisaran Rp 17.850 per dolar AS, bahkan berpotensi lebih tinggi. “Untuk rupiah kemungkinan mengalami pelemahan mencapai 17.850-an bisa saja lebih dari 17.850-an,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).

Kondisi ini sejalan dengan bayang-bayang ekspektasi inflasi tahunan di AS yang mencapai 4,6%. Ibrahim menjelaskan, angka inflasi tersebut mengindikasikan bahwa The Fed akan mengambil langkah lebih agresif untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan moneter yang dijadwalkan pekan depan.

Mayoritas ekonom memprediksi bank sentral AS tersebut akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point. “Pertemuan minggu depan sebagian besar 85% para ekonom mengatakan bahwa Bank Sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis point. Jadi, yang tadinya 70% sudah berubah menjadi 85%,” katanya.

Penguatan Indeks Dolar AS

Sementara itu, indeks dolar AS di pasar global diperkirakan akan bergerak dalam rentang 90.30 hingga 100.20 pada pekan depan. Penguatan indeks dolar ini turut dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Salah satunya adalah kelanjutan perang antara AS dan Iran yang menyebabkan harga minyak mentah mengalami kenaikan signifikan. Kondisi geopolitik ini sering kali mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, seperti dolar AS.