— Nilai tukar Rupiah (IDR) kembali menunjukkan penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan data pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB, Rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16% ke level Rp 17.695 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Selasa (25/8/2026), Rupiah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp 17.723 per dolar AS. Pelemahan pada hari sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap perluasan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Dolar AS sendiri sempat mengalami tekanan pada akhir pekan lalu. Hal ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengindikasikan peningkatan pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang secara kuartalan. Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi penurunan nilai dolar AS.

Indeks dolar AS tercatat menurun tipis 0,07% ke level 98,92. Sementara itu, mata uang euro menguat 0,09% menjadi $1,1673 per dolar AS. Yen Jepang sedikit melemah 0,06% terhadap dolar AS ke posisi 159,22 per dolar AS, sedangkan poundsterling Inggris mengalami penguatan 0,1% menjadi $1,3644 per dolar AS.

Menurut Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Capital Markets, New York, beberapa faktor fundamental bergerak melawan dolar. “Faktor-faktor fundamental tampaknya bergerak melawan dolar, baik itu terkait pernyataan Bessent maupun ekspektasi bahwa bank sentral lain akan menaikkan suku bunga lebih agresif dibandingkan The Fed, sehingga fundamentalnya bersifat negatif. Namun, posisi dolar as sudah terlalu jauh bergerak (overstretched), dan indikator momentum menunjukkan kondisi jenuh jual,” ujarnya.

Perlemahan dolar juga terjadi seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan bulan September. Data CME FedWatch menunjukkan pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 40,1% untuk kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin, turun dari sekitar 55% sebulan lalu.