— JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami tekanan signifikan pada pembukaan perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Di pasar spot exchange, mata uang garuda tercatat ambles 56 poin atau 0,32 persen ke level Rp 17.781 per dolar AS pada pukul 09.09 WIB.

Sementara itu, indeks dolar yang mengukur pergerakan mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama lainnya tercatat melemah tipis 0,05 persen ke level 99,11. Pelemahan rupiah ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026), nilai tukar rupiah hanya melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 17.725 per dolar AS.

Menurut data Tradingview, indeks dolar Amerika Serikat diperdagangkan di atas level 99 pada Kamis. Penguatan mata uang Paman Sam ini ditopang oleh rilis data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dapat menaikkan suku bunga acuannya sebelum akhir tahun.

Salah satu data yang menjadi perhatian adalah Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Pada Juli, indeks PCE tercatat naik 0,2 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,1 persen. Angka ini berbalik dari penurunan 0,1 persen yang terjadi pada Juni. Secara tahunan, inflasi PCE meningkat menjadi 3,7 persen, sedikit di atas perkiraan 3,6 persen.

Data PCE yang positif ini mendorong pasar untuk kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed. Perhatian investor kini tertuju pada pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium tahunan Jackson Hole yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (28/8/2026).

Investor berharap pidato tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed menjelang keputusan suku bunga pada September. Meskipun demikian, Warsh diperkirakan tidak akan memberikan sinyal yang tegas terkait keputusan tersebut.

Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia turut membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dalam jangka pendek. Pelemahan harga minyak ini terjadi di tengah tanda-tanda kemajuan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Pasar juga mencermati program pembelian kembali utang yang diperluas oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Kebijakan ini menjadi bagian dari perhatian investor terhadap kondisi fiskal AS dan potensi dampaknya terhadap pasar keuangan global.