DailyFX.ID — PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), yang bergerak di sektor energi terbarukan di bawah naungan Grup Astra, telah menarik fasilitas pembiayaan senilai US$9,8 juta atau setara dengan Rp174 miliar dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI. Fasilitas ini akan digunakan untuk mendanai proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) milik entitas usahanya.
Penarikan dana pinjaman ini dilakukan oleh ARKO melalui anak usahanya, PT Endorshine Energy Solutions (EES). Perseroan mengendalikan EES secara tidak langsung melalui dua anak usaha lainnya, yaitu PT Arkora Tenaga Matahari (ATM) dan PT Arjuna Hidro (AH). Perjanjian pembiayaan ini ditandatangani pada 21 September 2026, dengan nilai maksimum fasilitas pinjaman mencapai US$9.800.000.
Menurut Sekretaris Perusahaan Arkora Hydro, Ricky Hartono, fasilitas pembiayaan dari PT SMI ini bertujuan untuk mendanai operasional PLTS milik EES yang sudah beroperasi secara komersial. Ia menambahkan bahwa pinjaman ini diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional, keuangan, dan keberlangsungan usaha ARKO.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2025, ekuitas Arkora Hydro tercatat sebesar Rp516,3 miliar. Fasilitas pembiayaan yang diperoleh dari PT SMI ini mencapai sekitar 20% dari total ekuitas perusahaan. Meskipun tergolong transaksi material, hal ini dikecualikan dari kewajiban penggunaan jasa penilai berdasarkan POJK 17/2020 karena merupakan transaksi pinjaman langsung.
Penarikan pembiayaan ini menandai diversifikasi portofolio bisnis ARKO. Sebelumnya, fokus utama perseroan adalah pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Kini, dengan ekspansi ke PLTS melalui akuisisi 100% saham EES pada 12 Agustus 2026, ARKO menambah porsi bisnis energi surya. EES sendiri bergerak di bidang instalasi dan pengerjaan proyek energi terbarukan.
Target Harga Saham
Kepala Riset Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai bahwa ekspansi ARKO ke sektor PLTS membuka peluang pertumbuhan baru yang signifikan. Hal ini didukung oleh lokasi aset PLTS milik EES yang strategis di Batam dan Bintan, seiring dengan pesatnya permintaan dari sektor pusat data (data center) dan kebutuhan pasokan listrik hijau.
“Langkah tersebut mengubah profil bisnis ARKO. Perseroan kini tidak hanya mengandalkan PLTA, tetapi juga mulai membangun bisnis PLTS sebagai mesin pertumbuhan kedua,” ujar Jason dalam risetnya. Secara teknikal, Pluang merekomendasikan beli saham ARKO dengan target harga Rp7.000 dalam jangka pendek, mengingat sahamnya telah membentuk basis pada kisaran Rp5.000-5.500 sejak Juli 2026 setelah mengalami koreksi dari level Rp13.000.
Ikuti DailyFX.ID
