— JAKARTA – Persaingan di industri otomotif nasional semakin memanas seiring dengan kehadiran merek dan model kendaraan baru di pasar Indonesia. Menanggapi dinamika ini, perusahaan-perusahaan di bawah payung Astra Group fokus pada penguatan teknologi, segmentasi konsumen, jaringan distribusi, layanan purnajual, hingga produktivitas kendaraan.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, menyatakan bahwa konsumen tidak hanya mencari teknologi baru semata, melainkan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan dan memberikan manfaat nyata. “Tidak ada satu solusi mobilitas yang cocok untuk semua orang. Yang dibutuhkan adalah pilihan yang relevan untuk lebih banyak orang,” ujarnya dalam acara Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Perkembangan kendaraan elektrifikasi Toyota menjadi bukti nyata strategi ini. Hingga Agustus 2026, Toyota mencatat penjualan sekitar 38.000 unit kendaraan elektrifikasi, dengan kontribusi terhadap total penjualan meningkat menjadi 21% dari 12% pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini menunjukkan kendaraan elektrifikasi mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan penjualan Toyota.

Melalui strategi “Hybrid Untuk Semua”, Toyota berupaya memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi ke berbagai segmen masyarakat, yang dinilai relevan dengan karakteristik pasar Indonesia yang beragam. “Teknologi elektrifikasi Toyota hingga Agustus 2026 sudah mencapai 38.000 unit dan di pasar elektrifikasi Indonesia menduduki peringkat pertama,” kata Bansar.

Daihatsu Bidik Konsumen Baru

Sementara itu, Astra Daihatsu Motor (ADM) memilih untuk memperkuat basis konsumen yang menjadi kekuatannya selama ini, yaitu pembeli mobil pertama (first car buyer) dan pasar rural. Direktur Corporate Function PT Astra Daihatsu Motor, Rokky Irvayandi, menjelaskan bahwa struktur pasar Daihatsu berbeda dari pasar otomotif nasional.

Secara nasional, sekitar 61% pasar otomotif berada di Pulau Jawa. Namun, penjualan Daihatsu justru lebih banyak berasal dari luar Jawa, mencapai 55%, sementara 45% di Jawa. “Kalau market Indonesia, 61% ada di Jawa. Tetapi Daihatsu berbeda. Majority ada di luar Jawa, 55% ada di luar Jawa dan 45% di Jawa,” ujar Rokky.

Kontribusi pasar rural terhadap penjualan Daihatsu mencapai sekitar 45%, melebihi porsi pasar otomotif rural nasional yang sekitar 32%. Ini menunjukkan bahwa pasar daerah menjadi fondasi utama bisnis perusahaan.

Rokky mencatat bahwa sekitar 36 model baru telah masuk ke pasar otomotif Indonesia sepanjang tahun ini, meningkatkan pilihan bagi konsumen namun juga memperketat persaingan. Daihatsu tetap fokus pada segmen kendaraan dengan harga di bawah Rp 300 juta, yang mencakup 49% pasar otomotif nasional, dengan pangsa pasar Daihatsu di segmen ini sekitar 33%.

Namun, Rokky menekankan bahwa harga bukan satu-satunya faktor. Konsumen juga mempertimbangkan efisiensi, desain, fitur, layanan purnajual, kemudahan perawatan, hingga nilai jual kembali. “Customer tidak hanya membutuhkan produknya saja, bukan hanya produk yang efisien, desainnya bagus, fiturnya lengkap, tetapi juga berbagai kemudahan. Kemudahan untuk membelinya, kemudahan untuk merawatnya hingga kemudahan untuk menjual kembali,” jelasnya.

Isuzu Jual Produktivitas

PT Isuzu Astra Motor Indonesia menerapkan strategi berbeda dengan fokus pada segmen kendaraan komersial. Business Solution Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Anjar Rosjadi, menyatakan bahwa kendaraan komersial bagi konsumen bisnis adalah alat produksi. Keputusan pembelian sangat berkaitan dengan kemampuan kendaraan menghasilkan pendapatan.

Isuzu menawarkan empat nilai utama untuk mempertahankan pelanggan: quality and product fit, price and easy, customer care, serta productivity. “Keempat value ini yang kami coba tawarkan sebagai strategi Isuzu Astra Motor untuk mempertahankan market share,” kata Anjar.

Honda Perkuat Ekosistem

PT Astra Honda Motor (AHM) mengandalkan kekuatan ekosistem sebagai strategi mempertahankan pertumbuhan di pasar sepeda motor. Marketing Director PT Astra Honda Motor, Octavianus Dwi, mengatakan bahwa sepeda motor tidak hanya alat transportasi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi dan produktivitas masyarakat.

Hingga Agustus 2026, AHM telah melayani lebih dari 3,3 juta konsumen. Basis konsumen yang besar ini menjadi modal AHM dalam menghadapi perubahan kebutuhan mobilitas dan perkembangan teknologi. AHM menerapkan strategi multi-produk dengan memperkuat efisiensi bahan bakar dan mengembangkan teknologi elektrifikasi. “Strategi produk yang dilakukan AHM, kita punya beragam jalur yang kita tempuh. Penyempurnaan efisiensi bahan bakar serta teknologi masih menjadi sesuatu yang kita kuatkan,” kata Octavianus.

Perluas Mesin Pertumbuhan

Director PT Astra Otoparts Tbk, Sophie Handili, menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat bisnis komponen otomotif sebagai bisnis inti, baik melalui manufaktur maupun perdagangan, sambil menangkap peluang pertumbuhan baru.

Di segmen manufaktur, Astra Otoparts menambah portofolio komponen dan memperluas basis pelanggan serta model kendaraan yang dilayani, termasuk untuk kendaraan ICE, hybrid, maupun BEV. Hal ini dilakukan untuk menjaga relevansi bisnis manufaktur di tengah perubahan komposisi kendaraan di pasar.

Bisnis manufaktur Astra Otoparts didukung lebih dari 50 fasilitas manufaktur di Indonesia dan Asia, serta dua pusat R&D. Selain melayani Original Equipment Manufacturer (OEM), Astra Otoparts memperkuat bisnis aftermarket melalui jaringan distribusi dan retail. Bisnis domestik mencatat pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 7,6% sepanjang 2020-2025, dan pada semester I 2026, pendapatan bisnis domestik Astra Otoparts tumbuh 16,2%, didukung oleh permintaan pasar yang membaik, peluncuran produk baru, serta ekspansi jaringan ritel modern.