— JAKARTA – Ashfiyatul Mardiyatillah, atau akrab disapa Fia, tak lagi hanya melayani pesanan di seputaran Demak dan Semarang. Kini, dapur rumahan berukuran 2×3 meter miliknya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mampu mengirimkan produk cumi masak hitam berlabel “Rasa yg Berkah” hingga ke Jakarta, Denpasar, dan Samarinda.

Lompatan besar ini dimungkinkan oleh kemampuannya menembus pasar lintas pulau, sebuah pencapaian yang dulu tak berani ia bayangkan. Tantangan terbesar Fia di awal merintis usaha bukan pada pengiriman jarak jauh yang menuntut keawetan produk tanpa pengawet buatan, melainkan pada pengelolaan keuangan usahanya.

“Dulu, kalau ada pesanan dari luar Jawa, saya justru waswas. Biaya kirim cepat itu mahal dan saya takut tertipu bukti transfer palsu. Pencatatan uang tunai juga sering lupa. Akhirnya, uang modal untuk membeli bahan cumi bercampur dengan uang belanja rumah,” ungkap Fia.

Ketika Saldo Belum Tentu Laba

Di masa awal berbisnis, Fia terbiasa bertransaksi tunai dan mencatat pengeluaran di buku tulis. Kebiasaan ini sering membuatnya kehilangan jejak arus kas. Saldo tunai di dompet kerap dianggap keuntungan bersih, padahal sebagian besar adalah modal yang harus diputar kembali.

Titik baliknya terjadi pada awal tahun 2026 saat Fia memutuskan memodernisasi pengelolaan keuangannya dengan aplikasi AstraPay. Ia memilih fitur QRIS di AstraPay karena sistemnya yang stabil, bahkan di tengah keramaian pasar tradisional. Antarmuka AstraPay yang sederhana memudahkannya memisahkan uang modal dan uang pribadi hanya dengan beberapa ketukan.

Meskipun beberapa pedagang masih menerima uang tunai, Fia disiplin mencatat pengeluaran fisik tersebut secara terpisah, lalu menggabungkannya dengan rekam jejak digital di aplikasi agar neracanya tetap seimbang. “Iya, mbak’e dulu bayar tunai terus. Sekarang sudah jarang, lebih sering QRIS atau transfer. Saya akhirnya ikut beradaptasi,” kata Suharti, salah seorang pedagang bumbu langganan Fia.

Memastikan Uang Benar-Benar Masuk

Kedisiplinan mengelola kas juga mengubah cara Fia menangani pesanan, terutama dari pelanggan baru. Jika sebelumnya ia mudah percaya pada tangkapan layar bukti transfer yang rentan direkayasa, kini ia menerapkan standar usaha yang lebih profesional.

Fitur notifikasi waktu nyata (real-time) di AstraPay menjadi solusi atas ketakutannya terhadap penipuan bukti bayar. Setiap kali pembeli mengirimkan tangkapan layar pembayaran, Fia dapat memverifikasi masuknya dana detik itu juga dengan mencocokkan mutasi di aplikasi. Produksi di dapur baru dimulai setelah angka pembayaran benar-benar tercatat masuk.

Untuk distribusi luar pulau, Fia mengandalkan layanan logistik rantai dingin Paxel. Karena AstraPay terintegrasi langsung di aplikasi Paxel, pembayaran ongkos kirim selesai hanya dengan konfirmasi PIN di ponsel, tanpa perlu menyiapkan uang tunai untuk kurir.

Sistem pembayaran digital ini memang tidak membuat makanan bertahan lebih lama, tetapi teknologi itu memberi Fia kendali penuh atas transparansi uang masuk dan akurasi pelacakan biaya operasional. Dalam tiga bulan terakhir, usahanya berhasil membukukan total penjualan sekitar 130 kemasan produk.

Lauk olahan cumi hitam itu kini telah menjangkau 80 pelanggan di berbagai daerah. Tingkat retensi konsumennya pun mengesankan, dengan 50 pelanggan yang melakukan pembelian ulang (repeat order). Keandalan AstraPay dengan fitur riwayat transaksinya berfungsi sebagai kompas yang membantu Fia membaca kesehatan bisnis dan memproyeksikan perputaran modalnya.

Akses Digital dan Pekerjaan Rumah Literasi

Transformasi yang dialami Fia memperlihatkan perbedaan krusial antara sekadar memiliki akses terhadap layanan keuangan dan kemampuan memanfaatkannya untuk mengambil keputusan bisnis yang bertumbuh. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat, indeks inklusi keuangan nasional sudah mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasinya baru 66,46 persen.

Pada kelompok perempuan, indeks inklusi menembus 80,28 persen, tetapi indeks literasinya tertahan di angka 65,58 persen. Data ini menunjukkan penetrasi akses keuangan tumbuh lebih cepat daripada pemahaman cara mengelolanya. Mengunduh aplikasi pembayaran di ponsel belumlah cukup jika arus kas bisnis masih bercampur aduk dengan kebutuhan rumah tangga.

Di sisi lain, hingga April 2026, QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta pedagang yang mayoritas UMKM. Angka masif itu harus diimbangi dengan literasi digital, seperti menjaga kerahasiaan PIN dan mandiri memverifikasi mutasi rekening.

Ketika inklusi, pemilihan teknologi, dan literasi keuangan berjalan beriringan, dampaknya meluas ke lingkungan sekitar. Seiring melonjaknya pesanan, Fia kini memberdayakan sejumlah perempuan di sekitar tempat tinggalnya secara paruh waktu untuk membersihkan cumi dan mengemas produk.

“Sekarang rasanya jauh lebih tenang. Karena semua tercatat rapi di AstraPay dan transaksinya langsung bisa dicek, saya berani terima pesanan dari luar pulau. Ada rasa bangga, masakan dari dapur kecil di Demak ini bisa dinikmati sampai ke Bali dan Kalimantan,” tutur Fia tersenyum.

Di dapur kecil Fia, inklusi keuangan hadir dalam praktik sederhana: uang belanja yang tidak lagi menggerogoti modal, pesanan yang baru diproses setelah notifikasi pembayaran terverifikasi, serta pengadaan bahan baku yang didasarkan pada perhitungan matang. Satu ketukan AstraPay di layar ponsel menjadi titik mula perubahan, ketika setiap transaksi meninggalkan jejak yang aman, dan setiap rupiah memiliki tujuan yang jelas.