DailyFX.ID — JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan kesiapannya untuk mendukung percepatan swasembada bawang putih nasional dengan memastikan ketersediaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Komitmen ini disampaikan dalam sebuah webinar yang membahas dukungan pupuk bersubsidi untuk komoditas strategis tersebut.
VP Pengelolaan Pelanggan Pupuk Indonesia, Robbin Radhian Lee, menjelaskan bahwa bawang putih termasuk dalam sepuluh komoditas prioritas yang mendapatkan dukungan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Ia menekankan bahwa pemupukan memegang peranan krusial dalam keberhasilan budidaya bawang putih, berkontribusi sekitar 25 persen terhadap produktivitas tanaman, berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atau lembaga riset terkait lainnya. Oleh karena itu, ketersediaan pupuk menjadi faktor yang sangat penting.
“Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendukung percepatan swasembada bawang putih. Komoditas ini memiliki potensi untuk dikembangkan lagi. Apalagi ada inisiatif dari Kementerian Pertanian untuk berkolaborasi dengan banyak pihak guna memperluas lahan tanam, dan kami siap mendukung melalui penyediaan agroinput,” ujar Robbin.
Bawang putih tidak hanya berperan penting dalam ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani karena memiliki nilai ekonomi tinggi, permintaan pasar yang stabil, dan potensi pengembangan yang besar. Namun, upaya penguatan produksi dalam negeri masih menghadapi tantangan signifikan berupa tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Data Kementerian Pertanian tahun 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen kebutuhan nasional masih dipenuhi melalui impor.
Dalam proses budidaya bawang putih, pemupukan berimbang menjadi kunci untuk mendukung pertumbuhan tanaman, pembentukan, hingga pembesaran umbi. Unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur memiliki fungsi spesifik namun saling melengkapi. Fungsinya mencakup dukungan pertumbuhan vegetatif dan akar, pembentukan umbi, peningkatan kualitas hasil, hingga daya simpan bawang putih.
Mengingat kebutuhan nutrisi tanaman berubah pada setiap fase pertumbuhan, pemupukan harus dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian yang tepat. Untuk mencapai target produktivitas 10 hingga 15 ton umbi basah per hektar, rekomendasi yang disampaikan dalam webinar mencakup aplikasi total 300 kilogram Urea Nitrea dan 600 kilogram NPK Phonska 15-15-15 yang diberikan secara bertahap sesuai fase pertumbuhan.
Pemberian pupuk secara bertahap juga bertujuan meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara sekaligus meminimalkan potensi kehilangan pupuk akibat penguapan atau pencucian oleh air hujan. Pada fase awal, pemupukan difokuskan untuk mendukung pertumbuhan tunas dan akar, dilanjutkan dengan persiapan pembentukan umbi, hingga fase pembesaran umbi dengan dominasi penggunaan NPK.
Pupuk bersubsidi merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk membantu petani mengakses sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau. Bawang putih termasuk dalam komoditas hortikultura yang mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi. Penerima bantuan ini harus memenuhi ketentuan, seperti tergabung dalam kelompok tani, terdaftar dalam e-RDKK (Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani), dan melakukan penebusan sesuai mekanisme yang berlaku.
Selain memastikan ketersediaan pupuk, Pupuk Indonesia juga aktif mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui Program Makmur. Program ini menawarkan pendampingan budidaya terintegrasi, mulai dari akses agroinput, penerapan praktik budidaya yang baik, dukungan pembiayaan, hingga akses pasar melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi model penguatan ekosistem budidaya bawang putih secara menyeluruh.
Pupuk Indonesia juga sedang membangun pabrik baru yang akan memproduksi NPK berbasis nitrat. Pabrik yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2027 ini memiliki kapasitas produksi 100.000 ton per tahun. Pembangunan pabrik ini merupakan salah satu wujud dukungan Pupuk Indonesia dalam percepatan swasembada bawang putih, baik melalui skema subsidi maupun nonsubsidi.
Direktur Pembenihan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sanusi, mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada era 1990-an. Puncak produksi nasional tercatat pada 1995 sebesar 152.421 ton, yang menjadi modal dan motivasi untuk kembali membangun kemandirian komoditas ini.
Semangat untuk mencapai swasembada bawang putih semakin menguat seiring arahan Presiden Republik Indonesia terpilih, Prabowo Subianto, pada tahun 2026 agar kebutuhan bawang putih nasional dapat dipenuhi secara mandiri. Agung mengungkapkan bahwa kebutuhan bawang putih nasional pada 2025 diproyeksikan mencapai 626.950 ton, dengan 525.640 ton masih akan dipenuhi melalui impor. Hal ini menunjukkan adanya tantangan sekaligus peluang besar untuk peningkatan produksi domestik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Agung menunjukkan bahwa produktivitas bawang putih nasional saat ini berkisar antara 6,39 hingga 8,16 ton per hektar. Sementara itu, target produktivitas yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian adalah 20 ton per hektar.
Untuk mengejar target tersebut, pemerintah menyiapkan dukungan melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk peningkatan produktivitas budidaya bawang putih secara bertahap. Pada tahun 2026, pengembangan akan dilakukan di lahan seluas 5.000 hektare, meningkat menjadi 20.000 hektar pada 2027, 80.000 hektar pada 2028, dan 120.000 hektar pada 2029. Target produksi yang ingin dicapai adalah 630.000 ton.
Seiring dengan perluasan areal budidaya, kebutuhan pupuk juga diproyeksikan meningkat dari 5.250 ton pada 2026 menjadi 111.300 ton pada 2029, yang terdiri atas Urea, SP-36, dan KCl. Ketersediaan pupuk menjadi salah satu elemen krusial untuk memastikan program pengembangan bawang putih berjalan optimal, bersama dengan dukungan benih bermutu, teknologi budidaya, dan sarana produksi lainnya.
“Kami berharap dengan pendekatan teknologi, benih bermutu, produktivitas bawang putih bisa meningkat,” pungkas Agung.
Ikuti DailyFX.ID
