DailyFX.ID — Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang memberikan tekanan pada kondisi pasar keuangan global.
Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat pada pertengahan September 2026 memicu lonjakan harga minyak. Meskipun sempat mengalami penurunan di bawah level US$ 100 per barel, harga komoditas dunia secara umum juga terpantau mengalami kenaikan.
Data dari Oilprice.com menunjukkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai US$ 105,83 per barel pada 15 September 2026, sebelum akhirnya kembali ke kisaran US$ 90 per barel. Minyak Brent juga mengalami tren serupa, menyentuh US$ 108,75 per barel sebelum bergerak turun ke kisaran US$ 99 per barel.
“Prospek perekonomian global belum kuat disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi,” ujar Destry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan September 2026 di Gedung Thamrin, BI, Rabu (23/9/2026).
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diperkirakan masih stagnan di angka 3,0%, dengan tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4,6%. Kondisi ini diperparah dengan pengetatan kebijakan moneter global, termasuk kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR), menjadi 3,75%-4% pada September 2026, yang masih berpotensi mengalami peningkatan lebih lanjut.
Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury sejalan dengan ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran Pemerintah AS yang besar. Hal ini berimbas pada tertahannya preferensi investor global untuk investasi portofolio ke negara berkembang, sekaligus memperkuat indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju dan berkembang.
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutur Destry.
Meskipun menghadapi tekanan global, BI mencatat aliran investasi portofolio asing ke Indonesia per 21 September 2026 menunjukkan net inflows sebesar US$ 0,4 miliar. Aliran masuk ini ditopang oleh penerbitan global bond oleh pemerintah serta inflows pada Surat Berharga Negara (SBN).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga baik dan perlu terus didorong melalui optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga dilaporkan stabil, didukung oleh berbagai stimulus fiskal pemerintah dan penguatan keyakinan serta ekspektasi penghasilan konsumen. Investasi juga menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama didorong oleh investasi pemerintah, meskipun investasi swasta masih perlu ditingkatkan.
Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap baik. Hal ini didukung oleh implementasi berbagai program stimulus pemerintah, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi, serta optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan. BI berkomitmen untuk terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah demi menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat serta berdaya tahan.
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9%-5,7%,” pungkas Destry.
Ikuti DailyFX.ID
