DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan, mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini muncul sekitar dua pekan setelah Suahasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Pelemahan rupiah ini sontak memicu pertanyaan mengenai potensi dampak pergantian pucuk pimpinan di Kementerian Keuangan terhadap pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, sebelum pergantian terjadi, tepatnya pada Jumat (11/9/2026), rupiah tercatat berada di level Rp 17.611 per dolar AS. Tiga hari berselang, pada 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menkeu. Hingga Jumat (25/9/2026), rupiah terpantau berada di kisaran Rp 17.903 per dolar AS. Ini berarti, dalam kurun waktu tersebut, rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 1,7%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Ia menilai bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak dapat serta-merta dikaitkan langsung dengan pergantian Menteri Keuangan. Menurut Josua, faktor eksternal justru menjadi penyebab utama tekanan terhadap mata uang Garuda.
“Saya tidak melihat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah pekan ini terutama disebabkan oleh pergantian Menteri Keuangan,” ujar Josua saat dihubungi, Jumat (25/9/2026).
Josua menjelaskan, pasar keuangan memang cenderung menunjukkan sikap lebih berhati-hati pasca pergantian menteri. Investor perlu waktu untuk mencermati kesinambungan kebijakan fiskal, kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta koordinasi kebijakan ekonomi yang akan dijalankan. Namun, di sisi lain, tekanan dari faktor eksternal terhadap pasar keuangan global juga sedang berada pada level yang tinggi.
Indikasi tekanan eksternal tersebut terlihat dari penguatan indeks dolar AS yang terus berlanjut, serta kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun yang telah menembus level 5% dan kini berada di kisaran 5,16%. Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,10%. Dengan demikian, selisih nominal imbal hasil antara kedua negara adalah sekitar 1,94 poin persentase, sebelum memperhitungkan faktor risiko nilai tukar.
“Pelemahan rupiah yang kembali mendekati Rp 18.000 per dolar AS saat ini menurut saya lebih banyak berasal dari tekanan eksternal daripada perubahan mendasar pada ekonomi domestik,” tegas Josua.
Lebih lanjut, Josua mengidentifikasi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS sebagai salah satu faktor dominan yang menekan rupiah. Dampaknya terasa melalui penguatan dolar AS, peningkatan imbal hasil aset berdenominasi dolar, serta pergeseran arus modal dari negara-negara berkembang menuju aset-aset yang dianggap lebih aman di AS.
“Karena itu, kenaikan suku bunga bank sentral AS memang merupakan salah satu faktor terpenting, tetapi bukan satu-satunya faktor,” imbuhnya.
Tekanan eksternal ini semakin diperparah oleh tingginya harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan inflasi global sekaligus mendorong para investor untuk mengurangi porsi eksposur mereka terhadap aset-aset berisiko.
Tekanan Masih Berlanjut
Dampak tekanan eksternal ini juga tercermin dalam arus modal asing yang masuk ke Indonesia. Data menunjukkan investor asing melakukan penjualan bersih obligasi Indonesia senilai sekitar US$ 110 juta pada 22 September, disusul dengan penjualan saham sekitar US$ 83,2 juta pada perdagangan Kamis (24/9/2026).
Di tengah situasi ini, ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS masih membayangi pasar. Federal Funds Rate (FFR) AS telah berada pada rentang 3,75%-4,00% sejak September 2026, dan pasar masih mencermati potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Di samping upaya stabilisasi melalui suku bunga acuan, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, mengelola likuiditas dan suku bunga di pasar uang, serta memperdalam pasar keuangan domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Josua memprediksi tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut jika bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS terus bertahan di level tinggi. Situasi ini juga dapat memberikan tekanan tambahan bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan penyesuaian suku bunga acuan apabila stabilitas nilai tukar semakin terancam.
“Persoalannya bukan sekadar tingkat suku bunga AS, melainkan kombinasi suku bunga AS, imbal hasil obligasi AS, dolar yang menguat, harga minyak tinggi, dan penghindaran risiko global,” papar Josua.
Meskipun tidak memandang pergantian Menteri Keuangan sebagai penyebab utama pelemahan rupiah, Josua mengakui bahwa perubahan kepemimpinan di kementerian tersebut tetap menjadi perhatian utama para investor. Pasar akan mencermati bagaimana kesinambungan kebijakan fiskal dijalankan di bawah kepemimpinan Suahasil, termasuk upaya menjaga kredibilitas APBN dan koordinasi kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter.
Dengan demikian, pergantian Menkeu dapat menambah tingkat kehati-hatian investor dalam jangka pendek. Namun, tekanan yang dihadapi rupiah saat ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor, termasuk penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, tingginya harga minyak dunia, serta meningkatnya sentimen penghindaran risiko secara global.
Ikuti DailyFX.ID
