DailyFX.ID — JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan konsumsi masyarakat akan mengalami pelemahan pada September 2026. Meskipun demikian, level optimisme konsumen diperkirakan tetap terjaga. Setelah periode tersebut, tren konsumsi diprediksi berbalik menguat, mencapai puncaknya pada Desember 2026.
Proyeksi ini didasarkan pada hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Juni 2026 yang dirilis oleh BI. Survei bulanan ini bertujuan untuk memberikan gambaran dini mengenai pergerakan produk domestik bruto (PDB) dari sisi konsumsi.
Survei SPE melibatkan sekitar 700 responden pengecer yang dipilih menggunakan metode purposive sampling di sepuluh kota besar di Indonesia, meliputi Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, Purwokerto, Makassar, Manado, Banjarmasin, dan Denpasar.
“Responden memprakirakan penjualan eceran pada September 2026 menurun, sementara pada Desember 2026 diprakirakan meningkat,” ujar Bank Indonesia dalam keterangannya.
Indikasi pelemahan konsumsi pada September terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang diproyeksikan turun menjadi 148,3, dari angka 159,8 pada periode sebelumnya. Namun, ekspektasi penjualan diperkirakan akan pulih setelah September, dengan IEP Desember 2026 tercatat di angka 171,6, lebih tinggi dari IEP November 2026 yang berada di level 153,8.
“Responden menginformasikan bahwa penurunan pada IEP September 2026 dipengaruhi oleh normalisasi pasca kegiatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI), sementara peningkatan pada IEP Desember 2026 dipengaruhi oleh Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal,” jelas BI.
Sejalan dengan proyeksi konsumsi, tekanan inflasi pada September 2026 diprediksi menurun. Namun, tekanan harga diperkirakan kembali meningkat hingga Desember seiring dengan penguatan konsumsi.
Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 yang diproyeksikan berada di level 155,2, turun dari IEH Agustus 2026 sebesar 178,0. Sementara itu, IEH Desember 2026 diperkirakan mencapai 168,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan IEH November 2026 yang tercatat di angka 167,5.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penjualan eceran pada Juli 2026 secara year on year (yoy) diproyeksikan meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diprediksi tumbuh 0,9% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya, mencapai level 224,4.
“Peningkatan penjualan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, disertai pertumbuhan positif pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya,” kata Ramdan.
Namun, secara month to month (mtm), penjualan eceran Juli 2026 diperkirakan mengalami penurunan sebesar 0,3%. Penurunan ini dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Meskipun demikian, kinerja penjualan pada Juli 2026 diprediksi lebih baik dibandingkan Juli 2025 yang sempat mengalami kontraksi 4,1% secara bulanan. Pada Juni 2026, IPR tercatat sebesar 225,0. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 tumbuh 0,7% mtm, menunjukkan perbaikan dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang turun 1,5% mtm. Perkembangan ini sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode HBKN dan libur sekolah.
Ikuti DailyFX.ID
