— JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 tercatat sebesar 116,8. Angka ini, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 117,8, masih berada dalam zona optimistis karena berada di atas 100. BI memproyeksikan konsumsi masyarakat akan mengalami peningkatan pada Agustus 2026, didorong oleh berbagai program diskon yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Dalam keterangan tertulisnya pada Senin (10/8/2026), Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional tetap terjaga.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, IKK pada Juli 2026 tetap optimistis di seluruh segmen. Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mencatat IKK tertinggi sebesar 121,2. Sementara itu, berdasarkan usia, responden berusia 20-30 tahun menunjukkan IKK tertinggi dengan angka 122,9. Secara geografis, penurunan IKK terbesar terjadi di Bandung, Pontianak, dan Samarinda. Sebaliknya, peningkatan IKK tertinggi dilaporkan di wilayah Banten, Banjarmasin, dan Manado.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengemukakan bahwa setelah periode hari besar keagamaan pada triwulan I-2026, terdapat tren penurunan konsumsi. “Biasanya setelah hari besar keagamaan (konsumsi) turun,” jelasnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (10/8/2026).

Meskipun terjadi penurunan dalam beberapa bulan terakhir, Airlangga meyakini tren konsumsi masyarakat akan kembali positif. Hal ini didukung oleh perkiraan lonjakan konsumsi pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) secara musiman. Airlangga juga memperkirakan konsumsi akan meningkat pada Agustus 2026 berkat program diskon yang akan dijalankan oleh pengusaha ritel dalam rangka 17 Agustus. “Kami berharap pada triwulan IV-2026 biasanya akan naik karena terkait dengan HBKN (hari besar keagamaan nasional) Nataru. Pada triwulan ini dalam rangka HUT RI, beberapa mal juga melakukan program diskon khusus,” terangnya.

Ramdan menambahkan bahwa persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, yang tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Juli 2026 sebesar 107,9, masih berada pada level optimistis (indeks >100). Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 109,2.

Kondisi IKE ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG). Ketiga indeks tersebut tercatat masing-masing sebesar 118,5, 101,1, dan 104,1, meskipun mengalami sedikit penurunan dari bulan sebelumnya. Secara spasial, IKE mengalami penurunan terutama di Pontianak, Bandung, dan Pangkal Pinang, sementara peningkatan terjadi di Banten, Manado, dan Banjarmasin.

BI mencatat keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tetap kuat di seluruh kelompok pengeluaran, meskipun sebagian besar mengalami penurunan indeks. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta sebesar 124,5. Berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi pada kelompok 20-30 tahun mencapai 124,9.

Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan juga diperkirakan tetap kuat, tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juli 2026 sebesar 125,7. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 126,4. Kekuatan IEK didorong oleh optimisme ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha yang masing-masing tercatat sebesar 133,6, 123,1, dan 120,4.

“Secara spasial, sebagian besar wilayah mencatat peningkatan IEK. Namun, penurunan indeks pada sejumlah kota, terutama di Bandung, Pontianak, dan Samarinda menyebabkan IEK lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” jelas Ramdan.

Perlu Diperkuat

Ketua Umum Association of Indonesian Energy, Mineral, and Coal Suppliers (Aspebindo), Anggawira, menilai IKK Juli 2026 masih menunjukkan optimisme, namun kualitasnya perlu diperkuat. Ia menekankan pentingnya mengubah kepercayaan konsumen menjadi pekerjaan, pendapatan riil, dan keberanian berbelanja.

Penurunan IKK dari 117,8 menjadi 116,8 belum cukup signifikan untuk menyimpulkan pelemahan konsumsi rumah tangga secara serius, mengingat angka tersebut masih jauh di atas batas optimistis 100. Namun, penurunan ini tidak boleh dianggap sekadar fluktuasi, terutama jika trennya konsisten.

“Penurunan satu poin memang kecil, tetapi tren yang berlangsung konsisten dapat menjadi sinyal bahwa rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Penurunan ini belum merupakan alarm, tetapi sudah menjadi lampu kuning yang perlu dipantau,” terang Anggawira kepada Investor Daily, Senin (10/8/2026).

Indikator yang perlu diwaspadai terkait potensi penurunan konsumsi meliputi IKK yang terus menurun selama tiga hingga enam bulan dan mendekati level 105–110; IKE Juli 2026 yang turun mendekati atau menembus angka 100; memburuknya persepsi masyarakat terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja; melemahnya pembelian barang tahan lama, penjualan ritel, dan kredit konsumsi; penurunan proporsi pendapatan untuk konsumsi disertai peningkatan pembayaran cicilan; serta penurunan keyakinan yang lebih dalam pada kelompok berpendapatan menengah dan bawah.

“Apabila IKK sampai berada di bawah 100, itu merupakan sinyal yang lebih tegas karena berarti konsumen secara agregat telah masuk zona pesimistis. Namun, pemerintah tidak perlu menunggu IKK menembus 100 untuk bertindak. Kebijakan harus dimulai ketika tren pelemahan mulai konsisten dan telah dikonfirmasi indikator riil,” tutur Anggawira.

Ia menyarankan kebijakan untuk mendorong konsumsi harus difokuskan pada peningkatan daya beli, bukan sekadar mendorong masyarakat berutang atau memberikan insentif belanja sesaat. Pertama, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pada komponen krusial seperti pangan, energi, transportasi, pendidikan, dan perumahan. Kedua, bantuan sosial dan stimulus harus lebih tepat sasaran kepada kelompok berpendapatan rendah, dengan percepatan pencairan bansos, bantuan pangan, dan program padat karya.

Ketiga, untuk kelas menengah, diperlukan insentif yang lebih produktif seperti dukungan pembelian rumah pertama, transportasi, kendaraan rendah emisi, pendidikan, serta insentif sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Keempat, penciptaan lapangan kerja dan kepastian penghasilan harus menjadi agenda utama, karena stimulus konsumsi tidak akan bertahan lama tanpa dibarengi investasi, ekspansi usaha, dan penyerapan tenaga kerja. Kelima, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memastikan kebijakan moneter yang menjaga stabilitas diimbangi dengan likuiditas dan pembiayaan yang mengalir ke sektor produktif, UMKM, serta sektor padat karya. “Penurunan suku bunga kredit tidak cukup jika dunia usaha belum yakin untuk berekspansi,” pungkas Anggawira.

Kunci Penting

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, menjadi kunci penting untuk menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2026. “Pada triwulan III dan IV, pemerintah perlu fokus menjaga daya beli, terutama kelompok menengah bawah,” kata Rizal, Senin (10/8/2026).

Pada triwulan II-2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06% (year-on-year/yoy), melambat dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 5,52% (yoy). Perlambatan ini perlu menjadi perhatian karena konsumsi masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29% (yoy) dengan porsi kontribusi sebesar 2,67%.

Rizal menjelaskan, ketika konsumsi melemah sementara pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil, artinya sumber pertumbuhan mulai lebih bergantung pada komponen lain seperti investasi dan belanja pemerintah. Oleh karena itu, upaya peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga pada sisa tahun ini sangat diperlukan.

Beberapa langkah yang disoroti Rizal mencakup pengendalian inflasi pangan, bantuan yang lebih tepat sasaran, insentif transportasi, serta kebijakan yang menekan biaya hidup. Namun, ia menekankan bahwa stimulus konsumsi tidak boleh hanya bersifat temporer.

Stimulus seharusnya lebih diarahkan pada upaya memperbaiki sumber pendapatan rumah tangga melalui penciptaan pekerjaan formal, menekan pemutusan hubungan kerja (PHK), mendorong kenaikan upah riil, dan memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jika konsumsi dipaksa tumbuh tanpa perbaikan pendapatan, Rizal berpendapat, risiko yang mungkin muncul adalah masyarakat menggerus tabungan atau menambah utang.

“Jadi, strategi triwulan III dan IV harus menggabungkan stimulus jangka pendek dengan penguatan pendapatan agar konsumsi pulih secara lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.