— JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) tetap optimistis mempertahankan target pertumbuhan pembiayaan dua digit, yaitu di kisaran 12-15%, hingga akhir tahun 2026. Optimisme ini dipertahankan meskipun industri perbankan menghadapi kondisi likuiditas yang ketat dan persaingan penghimpunan dana yang semakin tinggi.

Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan bahwa keyakinan ini didukung oleh pertumbuhan pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang signifikan pada semester I-2026. Cahyo melihat permintaan pembiayaan masih menunjukkan tren positif memasuki paruh kedua tahun ini. Perkembangan hingga Juli 2026 menunjukkan permintaan pembiayaan, terutama di segmen konsumer, masih kuat dan mulai menunjukkan perbaikan pada sejumlah produk.

Di sisi lain, pihaknya mengakui bahwa likuiditas secara umum masih ketat. Namun, terdapat peluang pertumbuhan DPK yang dapat berasal dari tabungan haji maupun tabungan emas BSI. “Untuk itu, kami masih optimis, target financing growth double digit di kisaran 12-15%, tentu dengan kualitas yang baik, cost of credit di bawah 1%,” jelas Cahyo dalam konferensi pers, Jumat (21/8/2026).

BSI juga berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara tingkat imbal hasil pembiayaan (yield) dan biaya dana (cost of fund) guna mempertahankan margin. “Semoga margin kami juga masih bisa terjaga dengan menjaga balance antara yield dan cost of fund yang diiringi dengan pertumbuhan fee based income yang rasanya memang masih sangat baik di semester I 2026 ini,” sambung Cahyo.

Produk tabungan haji dan tabungan emas dipandang BSI sebagai salah satu sumber dana yang masih memiliki ruang pertumbuhan. Kedua produk ini tidak hanya menjadi pembeda BSI dibandingkan bank konvensional dalam menjaring nasabah, tetapi juga memperkuat dana murah. Pertumbuhan fee based income diharapkan dapat memberikan bantalan terhadap profitabilitas ketika ekspansi pembiayaan menghadapi tekanan biaya dana.

“Dengan pertumbuhan double digit baik untuk pembiayaan maupun DPK, rasanya BSI akan terus menjaga konsistensi dan sustainability daripada pertumbuhan ini,” ujar Cahyo.

Hingga Juni 2026, BSI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp4,15 triliun, meningkat 11,08% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba ini didukung oleh ekspansi bisnis yang berkualitas, peningkatan kontribusi bisnis emas, serta penghimpunan dana yang semakin kuat.

Fee based income didorong oleh bisnis emas, di mana pendapatan dari bisnis ini tumbuh 92%, ditopang oleh produk gadai dan tabungan emas.

Di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan, DPK BSI tumbuh tinggi sebesar 21,81% menjadi Rp393,34 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan dana murah (CASA) menjadi Rp238 triliun. Pertumbuhan CASA berasal dari tabungan yang mencapai Rp173 triliun dan giro sebesar Rp65,5 triliun, yang semakin memperkuat struktur pendanaan perseroan.

Komposisi pendanaan yang semakin efisien berhasil menurunkan cost of fund (CoF) menjadi 2,19%. Hal ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga profitabilitas.

Dalam hal intermediasi, Direktur Risk Management BSI, Grandhis Helmi Harumansyah, memaparkan bahwa pembiayaan BSI tumbuh 15,98% (yoy) menjadi Rp340,09 triliun pada paruh pertama tahun ini. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari rata-rata industri dan tersebar merata di seluruh segmen bisnis. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer meningkat menjadi Rp189,25 triliun.

Wholesale banking tumbuh 16,62% dengan kontributornya dari segmen korporasi yang tumbuh 21,13%. Kemudian dari segmen ritel tumbuh 12,58%, kontribusi terbesar berasal dari UMKM yang tumbuh 19,98%. Kemudian, konsumer tumbuh 16,7%,” beber Grandhis.

Pertumbuhan pembiayaan ini tetap diiringi dengan kualitas aset yang terjaga, tercermin dari Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 1,80% dan NPF net sebesar 0,33%. Secara keseluruhan, total aset BSI mencapai Rp464,5 triliun, tumbuh 15,96% (yoy).

Transformasi Teknologi

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja yang solid pada semester I sejalan dengan keberhasilan BSI memperkuat fondasi teknologi dan kapabilitas digital. Investasi strategis ini mulai menunjukkan hasil nyata melalui peningkatan jumlah nasabah ke level tertinggi sepanjang sejarah BSI (all-time high), yang menjadi modal penting dalam memperluas peluang bisnis dan memperkuat pertumbuhan berkelanjutan.

Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, merupakan angka tertinggi sejak BSI berdiri. Tren pertumbuhan nasabah terlihat sejak Januari 2026. “Memasuki Mei 2026, selesai transformasi teknologi, jumlah nasabah bertumbuh di atas 200 ribu per bulan,” ucap Anggoro.

Pertumbuhan ini menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan BSI, sekaligus memperbesar potensi pengembangan bisnis melalui peningkatan dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah.

Hal ini diperkuat dengan kombinasi dual licence sebagai bank syariah dan bank emas (bullion) yang mendorong pertumbuhan nasabah yang mengaksesnya melalui layanan digital. Investasi besar yang dilakukan BSI dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sistem teknologi informasi, tetapi juga membangun pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal bagi jutaan nasabah.

“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” jelas Anggoro.

Menurutnya, penguatan kapabilitas teknologi telah meningkatkan kapasitas sistem BSI secara signifikan sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna digital yang terus meningkat.

Fondasi teknologi yang semakin kuat ini menjadi landasan bagi BSI untuk terus mengembangkan layanan digital melalui BYOND by BSI, yang kini menjadi kanal utama transaksi nasabah dengan berbagai layanan perbankan syariah. Hal ini didukung oleh interaksi nasabah yang tercermin dari 1 miliar akses login selama 2026.

Penguatan digital turut memperbesar ekosistem bisnis BSI. Hingga Juni 2026, perseroan melayani 7,69 juta nasabah haji, 1,22 juta nasabah emas, 594,6 ribu nasabah cicil emas, 209,7 ribu nasabah gadai emas, serta lebih dari 585 ribu merchant QRIS.