— JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkuat strategi hilirisasi dengan mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek ini dijalankan melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC), sebuah perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

BEC, bersama dengan PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd., telah menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement. Kesepakatan ini merupakan tahap penting dalam pengembangan Proyek Strategis Nasional Coal-to-Methanol dengan kapasitas 2 juta ton per tahun.

Penandatanganan kontrak FEED menandai dimulainya tahap rekayasa dasar proyek, sementara kerangka EPCC menjadi fondasi untuk pelaksanaan tahap pengadaan, konstruksi, hingga commissioning fasilitas produksi metanol. Proyek yang berlokasi di Bengalon Coal Industrial Park ini bertujuan meningkatkan nilai tambah batu bara.

Melalui gasifikasi, batu bara yang selama ini dijual sebagai bahan bakar akan dikonversi menjadi metanol. Metanol merupakan bahan baku penting yang dibutuhkan oleh industri petrokimia, manufaktur, energi, dan berbagai sektor turunannya. Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang perseroan untuk diversifikasi bisnis.

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico, menilai proyek gasifikasi sebagai langkah strategis bagi BUMI. Dimulainya tahap FEED menunjukkan bahwa agenda hilirisasi BUMI telah bergerak menuju tahap yang lebih konkret, yang akan menjadi dasar penentuan desain fasilitas, kebutuhan teknologi, estimasi investasi, hingga kelayakan konstruksi.

“Pasar akan melihat proyek ini sebagai milestone penting. Ketika sebuah proyek sudah masuk tahap FEED dan memiliki kerangka pelaksanaan EPCC, tingkat kepastian pengembangannya menjadi lebih kuat dibandingkan ketika masih berada pada tahap studi awal,” kata Raka, Senin (10/8/2026).

Pengembangan proyek Coal-to-Methanol ini juga berpotensi mendukung pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol. Keberadaan fasilitas produksi domestik dapat memperkuat rantai pasok industri kimia nasional dan meningkatkan kemandirian.

Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas batu bara, proyek ini diharapkan menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, serta meningkatkan aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur. Kolaborasi antara BEC, IKL, dan CNCEC menggabungkan kemampuan di bidang rekayasa, pengadaan, konstruksi, investasi, dan pengembangan industri hilir.

Raka menilai hilirisasi batu bara dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan BUMI dalam jangka panjang. Kontribusinya akan bergantung pada kecepatan penyelesaian tahapan rekayasa, kepastian pendanaan, serta eksekusi konstruksi. “Apabila proyek berjalan sesuai rencana, BUMI tidak hanya memperoleh manfaat dari produksi batu bara, tetapi juga dari aktivitas pengolahan dan penjualan produk turunannya. Hal ini dapat memperkuat kualitas pendapatan dan membuat model bisnis perseroan lebih terintegrasi,” ujarnya.

Strategi hilirisasi ini berjalan bersamaan dengan upaya BUMI memperluas portofolio bisnis pertambangan di luar batu bara. Perseroan mulai membangun eksposur pada emas, perak, tembaga, dan mineral industri melalui sejumlah aset dan aksi korporasi.

Melalui Wolfram Limited di Australia, BUMI mengembangkan tambang Mt. Carlton yang menghasilkan tembaga dan emas. Operasi tambang terbuka di area V2 telah menjadi sumber produksi, sementara penambangan bawah tanah di area A39 mulai dilakukan untuk memperoleh bijih dengan kadar lebih tinggi.

Prospek komersial Wolfram turut didukung oleh perjanjian offtake selama tujuh tahun dengan Glencore untuk pemasaran hasil produksinya, yang memberikan kepastian pembeli dan memperkuat visibilitas pendapatan proyek.

Rangkaian strategi ini diarahkan untuk membentuk sumber pendapatan yang lebih beragam. BUMI menargetkan komposisi EBITDA yang lebih seimbang antara bisnis batu bara dan non-batu bara pada 2031. “Gasifikasi memperkuat sisi hilirisasi bisnis batu bara, sementara dengan telah dimulainya produksi di Wolfram, memperluas sumber pertumbuhan di luar batu bara. Kombinasi keduanya dapat mengurangi ketergantungan BUMI terhadap satu komoditas sekaligus membuka peluang re-rating apabila kontribusi bisnis baru mulai terlihat,” imbuhnya.

Pada paruh pertama tahun 2026, BUMI mencatatkan kinerja keuangan yang signifikan. Pendapatan BUMI naik 29% menjadi US$867 juta, sementara laba usaha tumbuh 51% menjadi US$83 juta. Pada periode Januari-Juni 2026, BUMI juga berhasil mengantongi laba bersih senilai USD59 juta, meningkat 189% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.