DailyFX.ID — BOGOR – Berawal dari sebuah kantin di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), merek Susu Mbok Darmi kini telah berkembang pesat menjadi bisnis dengan 210 outlet yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Perjalanan bisnis ini dimulai dengan modal awal yang sangat terbatas, hanya Rp700 ribu.
Dhony Pratama, sang pendiri Susu Mbok Darmi, merintis usaha ini pada tahun 2013 saat masih berstatus sebagai mahasiswa. Modal awal tersebut merupakan pinjaman dari seorang teman. Kini, setelah 13 tahun berlalu, merek susu yang dinaungi oleh PT Sumoda Tama Berkah ini telah mempekerjakan hampir 1.000 orang, baik yang bekerja di outlet, pabrik, maupun kantor pusat.
Dhony memiliki target ambisius untuk menambah jumlah outlet menjadi 250 pada tahun 2026, dan berencana meningkatkannya lagi menjadi sekitar 400 outlet dalam dua tahun berikutnya. Pertumbuhan skala bisnis ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan masa awal Susu Mbok Darmi berdiri. Saat ini, rata-rata penjualan mencapai 1-2 juta cup per bulan dari 210 outlet yang beroperasi.
Perjalanan bisnis ini tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar dihadapi saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020. Pembatasan mobilitas yang diberlakukan pemerintah berdampak besar pada bisnis yang sangat bergantung pada penjualan secara luring atau offline.
“Pendapatan kita waktu itu drop hampir 60%. Deep-nya di bulan keempat Covid, hampir 60% kita turun karena benar-benar PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), tidak boleh keluar,” ujar Dhony dalam sebuah wawancara di kantornya, Bogor, pada Jumat (18/9/2026).
Di tengah kondisi sulit tersebut, Susu Mbok Darmi mendapatkan dukungan pembiayaan sekitar Rp500 juta dari PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI). Bagi Dhony, pembiayaan ini menjadi penyelamat yang memungkinkan bisnisnya tetap berjalan sekaligus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
Sebelum pandemi, sekitar 90% penjualan Susu Mbok Darmi berasal dari kanal offline. Ketika masyarakat mulai banyak beraktivitas di rumah dan pembatasan sosial diterapkan, Dhony terpaksa mengubah strategi penjualannya. “Alhamdulillah kita bisa switch. Pada saat itu market banyak larinya ke online,” ungkapnya.
Perubahan strategi ini berhasil meningkatkan porsi penjualan online Susu Mbok Darmi hingga mencapai sekitar 70%. Perusahaan juga memanfaatkan dukungan pembiayaan dari BSI untuk memperkuat strategi pemasaran digital dan produksi konten. Dhony menjelaskan bahwa keputusannya memilih BSI bukan hanya karena kebutuhan modal, tetapi juga karena dukungan positif dari para karyawan BSI yang membuat hubungan kerja sama ini terus berlanjut.
“BSI waktu itu yakin Susu Mbok Darmi bisa bertahan dan bahkan bisa tetap relevan dengan market pada saat itu. Jadi karena orang-orang BSI sangat support,” tambah Dhony.
Kerja sama yang telah terjalin selama hampir lima tahun ini telah berkembang lebih dari sekadar pembiayaan. Susu Mbok Darmi kini memanfaatkan berbagai layanan perbankan BSI untuk mendukung kegiatan operasionalnya, termasuk layanan penggajian karyawan (payroll).
Berangkat dari Latar Belakang Peternakan
Keputusan Dhony untuk membangun bisnis susu tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan IPB. Ia melihat adanya dua persoalan sekaligus. Pertama, budaya konsumsi susu di Indonesia yang menurutnya masih perlu ditingkatkan. Kedua, para peternak lokal yang masih menghadapi keterbatasan akses pasar karena sebagian besar produksi mereka disalurkan melalui koperasi.
Dhony kemudian berinisiatif membangun bisnis yang tidak hanya mendekatkan produk susu kepada konsumen, tetapi juga menciptakan saluran penyerapan hasil produksi bagi peternak lokal. “Harapannya Susu Mbok Darmi bisa membawa culture baru, susu bisa diminum kapan saja dan dengan tampilan yang lebih menarik. Tidak hanya di supermarket, tetapi bisa didapat di mal, kios, dekat rumah,” tuturnya.
Hingga saat ini, sekitar 70% pasokan Susu Mbok Darmi berasal langsung dari peternak lokal, sementara sisanya, 30%, diperoleh dari koperasi. Model bisnis ini juga membawa tantangan tersendiri. Susu Mbok Darmi menggunakan susu pasteurisasi yang memiliki masa simpan relatif pendek, sehingga manajemen rantai pasok dingin menjadi aspek krusial dalam operasionalnya.
“Kalau tidak dikelola secara aseptik, tahannya mungkin hanya tujuh sampai 10 hari. Ini tantangan terbesar dari pengelolaan bisnis kita,” imbuhnya.
Dengan pengalaman hampir satu dekade dalam produksi susu pasteurisasi, pihaknya terus berupaya menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Saat ini, masa simpan produknya adalah tujuh hari, namun dengan perputaran yang cepat di tingkat outlet, produk umumnya sudah habis terjual dalam waktu kurang dari dua hari.
Ikuti DailyFX.ID
